Diduga Forkopimcam Wermaktian dan Lima Kades di Seira Mem-backup Nelayan Andon.

Spread the love

Saumlaki, ambontoday.com – Warga Desa Weratan, Kecamatan Wermaktian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Menyampaikan keresahannya setelah audio rekaman Whatsapp kepala desa Weratan Wilson Laiyan ke salah satu pebisnis telur ikan terbang terekspos.

Rekaman pernyataan dari kades Weratan yang berdurasi kurang dari 1 menit itu meminta pebisnis telur ikan terbang yang beroperasi di perairan Seira Kecamatan Wermaktian untuk segera berpindah melabuhkan kapal-kapalnya dari dua pulau yang selama ini menjadi tempat berlabuh kapal-kapal Andon, yakni pulau Sukler dan pulau Yayaru.

Kepada media ini, Tomy Lenunduan mengatakan, “ini memalukan”. Pihak desa terkesan sangat memperhatikan kepentingan pebisnis ketimbang masyarakat Seira sendiri. Hal ini terbaca dari pernyataan Kepala Weratan via rekaman suara WhatsApp (WA) yang statemennya mengarah pada pengamanan kapal-kapal Andon karena masyarakat pemilik pulau sementara berkonflik padahal kami baik-baik saja.

Menurut Tomy polemik kepemilikan pulau itu benar adanya, bahwa ada pihak lain yang mengklaim pulau ini juga milik mereka dari tahun kemarin namun dugaan kami bahwa ini sengaja d biarkan oleh pemerintah Desa. Namun sepanjang ini masih dalam keadaan baik-baik saja.

Lanjut Tomy, boleh-boleh saja kades Weratan khawatir namun kekhawatiran itu jangan dijadikan ancaman bagi para pebisnis yang sementara menambatkan perahunya di dua pulau itu. Ini semacam memanipulasi dan membangun perspektif buruk bagi kami yang selama ini menjalin hubungan baik dengan para pebisnis telur ikan itu.

Namun, menjadi aneh dan memalukan ketika kepala desa Weratan terlihat bernafsu dan sok pahlawan bagi pebisnis telur ikan terbang itu. Bahkan dalam rekaman suara itu menyebutkan, “jika terjadi gesekan dan mereka (orang Seira) korban tidak apa-apa tapi kalau nelayan bapak yang korban (pebisnis) siapa yang bertanggungjawab”.

Baca Juga  Uji Kemampuan Siswa, SMA N 10 KKT Gelar PORSENI

Sebenarnya siapa yang harus dilindungi, kami atau mereka? Kenapa harus ada pernyataan “kalau mereka (kami orang Seira) korban tidak apa-apa. Maksudnya bagaimana? Apakah kami ini bukan masyarakat Seira? tanya Tomy dengan nada marah.

Kalau ingin membela, bela lah orang miskin, rakyat kecil. Jangan membela yang kuat, berkuasa dan punya uang, itu bukan membela tapi menjilat. Kata Gus Dur

Tomy menambahkan, kalau kepala desa ingin mengelola bisnis Andon, silahkan saja tapi sebaiknya tidak menggunakan cara seperti itu, Ini semacam perebutan lahan bisnis, memalukan sekali. Apalagi ada pernyataan dalam rekaman suara itu yang menyatakan “kami 5 kepala desa, Camat C. Utuwaly, Polsek dan Babinsa sudah sepakat untuk kalian berlabuh di tempat yang aman”.

Pernyataan ini luar biasa memalukan karena kami sebagai warga baru tahu jika para stakeholder di Kecamatan Wermaktian juga turut terlibat langsung dalam bisnis ini, seolah-olah mem-backup para pebisnis telur ikan terbang. Kalian sepakat kapan dan di mana lalu dasarnya apa? sekali lagi Tomy bertanya dengan nada geram.

Yang jadi soal, kata Tomy, kenapa sampai camat Wermaktian, Polsek dan Babinsa (red – sesuai rekaman suara kades Weratan) begitu antusias dengan memberi perhatian plus bagi para pengusaha telur ikan terbang ini.

Ada apa sebenarnya? Kami minta tolong kawan-kawan media untuk bantu mengkonfirmasi hal ini sehingga semua bisa terungkap. Mari kita mulai dari rekaman suara WhatsApp kades Weratan ke salah satu pengusaha telur ikan terbang itu.

Sementara, saat dikonfirmasi terkait apakah ada unsur keterlibatan pengalihan tempat berlabuh kapal-kapal Andon ini, pihak Polsek Wermaktian lewat Kapolsek menyampaikan itu hanya imbauan agar menghindari konflik atas pertikaian kepemilikan pulau-pulau itu. Imbauan pun sudah disampaikan secara lisan dalam pertemuan itu.

Baca Juga  RSUD Margrety Ukurlaran Prioritas 100 Hari Kerja Jauwerissa dan Ratuanak

Sebelumnya, Camat Wermaktian saat dikonfirmasi menyampaikan “Dalam pertemuan bersama, masyarakat mempermasalahkan pulau Yayaru dan Sukler adalah milik bersama sementara pihak lain mengklaim bahwa miliknya. Untuk itu disaran kepada para kapal agar menghindari konflik antara dua marga itu. Maka mempertimbangkan tempat labu yang nyaman utk nelayan tetapi juga utk menghindari konflik kedua marga itu.

Menutup pernyataannya, Tomy dengan tegas menyampaikan bahwa hasil rapat yang diumumkan agar nelayan Andon mencari tempat yang aman menurut mereka bukan dianjurkan untuk keluar dari pulau-pulau itu.

Kita ini kan masyarakat Seira, orang asli Seira jadi kalau bertindak atas nama pemerintah, hendaknya Camat ataupun Kades harus menyurati nelayan Andon dan masyarakat secara resmi sehingga semua tahu informasi itu bukan telponan atau wa. Jangan perbiasakan habis rapat tanpa notulen,” tutup Tomy Lenunduan. (AT/AML)

Berita Terkini