Alfred Betaubun Aniyaya Capten KM. Sabuk Nusantara 34

Spread the love

Ambon, ambontoday.com – Pengusaha ternama di Provinsi Maluku Alfred Betaubun yang mempunyai berbagai usaha, baik dibagian distributor Bahan Bakar Minyak (BBM) maupun mempunyai Dok untuk kapal laut dan perusahaan lain dengan usaha masing-masing, melakukan penganiayaan kepada Capten KM. Sabuk Nusantara 34 Marthen Laitera.

Penganiayaan itu mengakibatkan Marthen mengalami luka dipelipis mata sebelah kanan dan sebagian wajah mengalami Memar, dan peristiwa itu berunjuk pada kantor Polsek Kota Jawa kecamatan Teluk Ambon.

Direktur PT. Pasifik Dok Maluku Tawiri Ambon itu, bertindak seperti seroang preman yang tidak menilai atau mempertimbangkan sesuatu yang mesti dilakukan klarifikasi, dimana Capten Mathen sama sekali tidak mengetahui kesalahannya bersama kompradornya Olof sehingga bisah di pukul oleh Betaubun.

Capten Marthen ketika dikonfirmasi ambontoday.com Minggu, (22/8) katakan Kapal KM. Sabuk Nusantara 34 doking di usahanya PT. Pasifik Dok Maluku Tawiri Ambon selama 20 hari sesuai kontrak yang sudah ditanda tangani oleh pihak Dok dan kapal, sehingga Masa akhir dok nanti pada Selasa, (24/8).

“Namanya dok, apa itu perbaikan bodi, mesin dan berbagai macam pada kapal, lalu kita bukan naik direl begitu saja, sudah ada kontrak, kok tiba-tiba kapal disuru (perintah) kasih turun dari rel dengan belum 100 persen selesai dok, kapal diturunkan juga pihak Dok yang turunkan, bahkan terkait tempet berlabu kan semua diatur oleh pihak Dok karena kita masih kontrak,” ujar Capten.

Disampaikan juga, ketika dirinya dipanggil Betaubun, dirinya sementara makan, sehingga tidak langsung menjawab panggilan Betaubun melalui anak buahnya.

“Saya selesai makan lalu menjawab panggilan dia (Alfred Betaubun-red), setelah saya ketemu dengannya, saya ditanya, kamu Capten ya, saya jawab ya, dia menyuru untuk menuju kelokasih rel dok dan sampaikan bahwa kamu tahu harga rel ini berapa dengan pukulan melayang di dadah saya, tidak puas dia lari ambel Rep (kayu) namun sempat dihalangi oleh anak buannya, waktu pukulan pertama didadah saya sempat ditegur oleh komprador bahwa jangan seperti itu pa, dari teguran itu komprador saya dipukul lagi oleh dia, pemimpin macam apa itu,” ungkap Capten.

Baca Juga  New Normal Bakal Dilaksanakan Di Maluku

Lanjut Capten Marthen, dirinya menyangka bahwa pukulan yang dilepas Betaubun kepada dirinya dan komprador, sudah selesai, namun ketika Betaubun  menghampirinya, tanpa memberikan kesempatan kepada Marthen untuk menjelaskan kronologi kenapa kapal Sabuk 34 berlabu didekat rel dok.

“Saya tidak diberi kesempat untuk bicara langsung pukulan masuk diwajah saya, karena pelipis mata ini kenal cincin sehingga luka, saya kasihan dan bingung melihat perilaku  pimpinan seperti itu, jika dia ingin kapal kami berlabuh jau, itu kan masih tanggung jawab  dok, lagian kapal tidak bisah jalan karena belum memasang mesinnya, itu salah siapa, kami atau pihak Dok,” tanya Marthen.

Persoalan pemukulan ini sudah dilaporkan kepihak kepolisian Polsek Kota Jawa Kecamatan Teluk Ambon, prosesnya sementara berjalan, dan mediasi dilakukan untuk pertemuan di Polsek pada malam Senin, namun tidak dapat dilakukan maka ditundah untuk Selasa, (24/8).

“Kita liat perkembangan dihari Selasa nanti, jika tidak ada etiket baik dari dia maka persoalan ini kami tetap proses, kami tidak perduli kedekatan dia dengn pemimpin-pemimpin di Daerah Maluku ini, kami hanya butuh keadilan jika itu masih berpihak bagi kami rakyat kecil,” rintihnya.

Marthen,  menambahkan, jika persoalan ini diselesaikan karena kedekatan Alfred Betaubun dengan seluruh pejabat di daerh seribu pulau ini maka, nanti hukum yang akan bicara, mengingat ini pidana murnih penganiayaan, bahkan sampai ketingkat ingin menggunakan kayu untuk memukul birarti disitu juga ada niat membunuh, jika kayu itu tidak diamankan anak buahnya, ini tindakan dan perilaku premanisme yang ditonjolkan oleh Alfred Betaubun Direktur PT. Pasifik Dok Maluku Tawiri Ambon.

“Saya berharap tindakan yang tidak terpuji dan memaluhkan ini tidak menjadi bekingan dari semua pihak, sehingga hukum yang akan bertindak bagi dia untuk menjadi efek jerah dalam memimpin dan mengambil keputusan dalam bertindak, karena saya kaget juga ada tipe pemimpin perusahaan seperti itu, kami merasa kami tidak salah, karena lama dok masih hari Selasa, sehingga seluruh menyangkut kapal itu merupakan tanggung jawab pihak Dok, sekarang masih ada alat-alat mesin di dok, kapal tidak bisah bergerak karena mesinnya belum terpasang,” harap Marthen.

Baca Juga  Aneh, Tampar Pipi Bengkak Dahi Dan Dagu

“Kita lihat alur pada  hari Selasa nanti, jika tidak koparatif, tidak sopan, ada intimidsi, ada berat sebelah dalam pertemuan nanti maka, persoalan ini tetap berjalan hingga dipengadilan, dia boleh hebat karena dekat dengan banyak pejabat, kita ini rakyat jelata, jadi kita mau buktikan bahwa hukum itu tajam ke atas atau kebawa dari kasus ini,” tutupnya. (AT/tim)