Gunung Nunusaku Menangis, Pulau Pombo Jadi Saksi Pertikaian Dua Negeri Bersaudara
Bentrok yang melibatkan dua negeri bertetangga, yang sejatinya bersaudara dan seiman, menyisakan luka mendalam. Menurut data kepolisian, insiden ini menelan satu korban jiwa dari warga Kabauw, sementara lima orang lainnya mengalami luka-luka, empat di antaranya dari Kailolo. Di tengah pertikaian itu, terbayang seolah Gunung Nunusaku ikut menangis, melantunkan duka yang terdalam.
Pulau Pombo yang indah menjadi saksi bisu bagaimana darah dan air mata tumpah di tanah yang mestinya diwarisi dengan kedamaian. Leluhur yang dahulu mengikat sumpah pela dan gandong, seakan ikut merintih menyaksikan cucunya saling melukai. Yang paling menderita dari pertikaian ini bukanlah mereka yang bersenjata, melainkan anak-anak kecil dan orang tua renta yang tak lagi berdaya.
Kaum jompo terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi, menanggung derita akibat amarah yang tak semestinya lahir di antara saudara sendiri. Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol. Rositah Umasugi, S.
I. K., membenarkan insiden ini. Ia menyebut bentrokan dipicu dugaan penganiayaan oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) terhadap seorang warga Kabauw saat melintas di depan Pelabuhan Feri Wainana, Kailolo.
Peristiwa itu memantik konsentrasi massa hingga pecah bentrokan di perbatasan kedua negeri. βAparat gabungan TNI-Polri langsung merespons cepat untuk memulihkan situasi. Hingga sore hari, kondisi berangsur kondusif.
Namun kami tetap menyiagakan personel di titik rawan,β jelas Rositah. Sedikitnya 200 personel gabungan Brimob, Dit Samapta, Polresta Ambon, ditambah 13 anggota TNI Koramil 07 Pulau Haruku, dikerahkan ke lokasi. Pengamanan dipimpin langsung Karoops Polda Maluku bersama Dansat Brimob dan Kapolresta Ambon.
Namun, di balik upaya aparat menjaga kamtibmas, luka batin masyarakat jauh lebih dalam. Masyarakat Maluku mengenal adat pela gandong β ikatan persaudaraan antar negeri yang diwariskan leluhur untuk menjaga harmoni. Ikatan itu yang seharusnya menjadi benteng agar darah sesama tidak tumpah di tanah yang sama.
βBeta minta basudara semua jang kase panas situasi. Katong ini satu darah, satu tanah, satu iman. Jang kase tangis buat leluhur di Nunusaku,β pesan salah satu tokoh adat yang enggan disebutkan namanya.
Polda Maluku, pemerintah daerah, tokoh agama, dan tokoh adat terus mengimbau masyarakat agar menahan diri, tidak terprovokasi isu liar, serta mempercayakan proses hukum kepada aparat. Kini, Maluku kembali dipanggil untuk merenung. Apakah kita akan terus membiarkan tangisan Nunusaku dan Pulau Pombo menggema karena ulah tangan-tangan cucunya sendiri?
Atau kita kembali merawat ikatan pela gandong yang diwariskan, demi menjaga kedamaian di tanah yang dikenal sebagai seribu pulau, sejuta senyum, dan sejuta persaudaraan? [Nar'Mar] .
π Anda harus masuk (login) terlebih dahulu untuk ikut berdiskusi.
π¬ 0 Komentar
π Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
Semarak HUT ke-81 RI, Maxim Gratiskan Perjalanan dengan 81 Mobil Berdekorasi Merah Putih di 19 Kota Indonesia
3 weeks ago
Dugaan Galian C Ilegal Mengarah ke Proyek RSUD Salim Alkatiri, LP-KPK Desak Polda-Kejati Usut Rantai Material
3 weeks ago
Antisipasi El Nino dan Kemarau Panjang Distan Maluku Fokus Proyek Irpom
3 weeks ago
Sambut HUT Ke-81 RI, MTs Ambon Gelar Beragam Lomba, Dorong Siswa Hadapi Tantangan Era Digital
3 weeks agoRekomendasi Untuk Anda
DPC PKB BurseL Serahkan Bantuan Sembako untuk Korban Banjir Dusun Fatiban
DPW Kota Ambon Gandeng PMI Gelar Aksi Donor Darah
Kapal Motor Mati Mesin, 20 Penumpang Berhasil Diselamatkan SAR Dobo
Apel Sinergi di Bumi Fena Lestari: TNI-Polri dan Pemerintah Daerah Bersatu Menjaga Damai
Wakasihu Siap Jadi Percontohan Koperasi Merah Putih di Leihitu Barat