Deru Musim Timur Menggempur Haya Pulau, Talut Rusak, Warga Hidup dalam Ancaman

Spread the love

SBB, Ambontoday.com — Musim timur belum mencapai puncaknya, namun deru angin dan gelombang laut sudah lebih dulu mengirimkan ancaman ke pesisir Desa Haya, Pulau Desa Sole, Kecamatan Waisala, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku. Di tengah suara ombak yang memukul tanpa jeda, warga Dusun Haya Pulau kini hidup dalam kecemasan yang tak kunjung reda.

Pemuda Seram Bagian Barat kepada media ini mengatakan, talut penahan ombak yang seharusnya menjadi benteng terakhir justru telah lama rusak parah. Retakan dan runtuhan di sepanjang struktur itu membuat laut seolah tak lagi memiliki batas. Setiap hempasan gelombang menjadi ancaman nyata yang mengintai rumah-rumah warga di garis pantai.

“Kondisi ini sudah lama, sejak tahun kemarin. Tapi sampai sekarang belum ada perbaikan,” ungkap dia melalui sambungan telepon seluler, Selasa 24/3/2024.

Dikatakan, ketika angin musim timur bertiup kencang, laut di wilayah ini berubah ganas. Gelombang tinggi disertai hujan deras kerap menghantam pesisir tanpa ampun.

Menurutnya, dalam situasi seperti itu, talut yang rusak tak lagi mampu menahan terjangan air laut, membuat sejumlah rumah warga berada di ambang kehancuran.

Masih mahasiswa universitas di Kota Ambon ini bahwa, bukan hanya ancaman gelombang, abrasi pantai kini perlahan menggerus daratan tempat warga berpijak. Garis pantai terus terkikis, mendekat ke pemukiman, seakan memberi isyarat bahwa waktu untuk bertahan semakin sempit.

“Secara umum, kerusakan talut penahan ombak memiliki dampak serius terhadap wilayah pesisir, ucap dia.

Tanpa perlindungan yang memadai, energi gelombang laut akan langsung menghantam daratan, mempercepat proses abrasi, merusak infrastruktur, hingga mengancam keselamatan jiwa. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya lahan permukiman serta memaksa warga untuk relokasi.

Baca Juga  Pemda SBB Gelar Sosialisasi Narkoba dan Obat Terlarang

“Di Dusun Haya Pulau, ancaman itu bukan lagi teori, melainkan kenyataan yang setiap hari mereka hadapi,” ujarnya prihatin.

Mewakili masyarakat ia mendesak Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat untuk segera mengambil langkah konkret. Mereka meminta perbaikan talut dilakukan secepat mungkin sebelum musim timur mencapai puncaknya dan membawa dampak yang lebih besar.

“Kami minta perhatian serius dari pemerintah daerah. Talut ini harus segera diperbaiki sebelum ada korban,” tegas warga.

Jika permintaan ini kembali tak direspons, masyarakat berharap Pemerintah Provinsi Maluku turun tangan mengambil alih penanganan.

“Sebab bagi warga pesisir Haya Pulau, ini bukan sekadar soal infrastruktur, melainkan soal keselamatan hidup di tengah amukan laut yang kian tak bersahabat,” pungkas pemuda Seram Bagian Barat ini.

[Nar’Mar]
.

Komentar