Di Antara Wejangan dan Warisan: Seruan Sunyi Senior Pemuda Katolik Tanimbar

Spread the love
 

Saumlaki, Ambontoday.com – Di sebuah rumah yang tenang, jauh dari riuh poster, manuver, dan bisik-bisik menjelang Musyawarah Komisariat Cabang (Muskomcab) ke-V Pemuda Katolik Kepulauan Tanimbar, sebuah suara lama kembali terdengar. Tidak lantang, tidak pula menggelegar. Namun justru di situlah bobotnya terasa.

Polly Abeaman, sosok yang pernah menahkodai Pemuda Katolik Maluku Tenggara Barat selama hampir satu dekade (2004–2012), memilih berbicara dalam ruang terbatas. Selasa (27/1), ia menerima sejumlah kader muda, bukan untuk mengarahkan pilihan, melainkan untuk mengingatkan makna.

Apa yang disampaikan bukan pidato politik, bukan pula seruan mobilisasi. Wejangan itu lebih menyerupai cermin yang memantulkan kembali wajah organisasi, lengkap dengan gurat sejarah, luka yang belum sembuh, dan harapan yang belum padam.

Tiga Fondasi yang Kian Pudar

Dalam pertemuan tersebut, Abeaman merumuskan tiga pesan inti yang menurutnya menjadi fondasi Pemuda Katolik sejak awal berdiri di Tanimbar.

Pertama, saling menghargai antarkader, terutama antara generasi muda dan para senior yang merintis organisasi bahkan sebelum pemekaran kabupaten. Bagi Abeaman, sejarah bukan sekadar cerita lama, melainkan pijakan etis.

Kedua, penghapusan sikap egosentris perasaan paling benar sendiri yang perlahan menggerogoti semangat kolektif. Ia menilai ego personal kerap tampil lebih dominan dibanding tujuan organisasi.

Ketiga, kesediaan mendengar petunjuk moral Gereja dan keberanian mengembangkan kreativitas dalam berpikir serta bertindak. Di titik ini, ia menekankan bahwa Pemuda Katolik bukan hanya organisasi sosial, tetapi juga ruang pembentukan karakter.

Ketiga prinsip itu, menurutnya, dahulu hidup dalam keseharian kader. Kini, ia merasa fondasi tersebut kerap terabaikan.

Ketika Politik Praktis Masuk Terlalu Dalam

Nada Abeaman berubah lebih reflektif ketika membandingkan dinamika Pemuda Katolik di tingkat nasional dengan kondisi di daerah. Ia melihat irama yang tak selalu sejalan nasional tampak solid, sementara di akar rumput sering kali timbul tenggelam.

Baca Juga  Tim Penasehat Hukum Petrus Fatlolon Membongkar Kekeliruan Logika Jaksa

Ia menyebut lemahnya konsensus sebagai salah satu persoalan, diperparah oleh tarik-menarik kepentingan politik praktis.

“Saat seorang pengurus mendukung kandidat tertentu, mulailah pecah di situ. Ini yang selalu terjadi,” ujarnya.

Pernyataan itu tidak diarahkan kepada individu atau momentum tertentu, melainkan dibingkai sebagai pola yang berulang. Bagi Abeaman, politik bukan sesuatu yang tabu, tetapi ketika hadir tanpa etika organisasi, ia berpotensi memecah, bukan menguatkan.

Jejak Persatuan yang Pernah Ada

Untuk menjelaskan bahwa Pemuda Katolik Tanimbar tidak selalu berada dalam situasi seperti sekarang, Abeaman menarik garis ke belakang ke masa ketika perbedaan tidak otomatis menjadi alasan perpecahan.

Ia menyebut peran organisasi dalam membela jati diri komunitas Katolik, mendorong kader-kadernya tampil di ruang publik, hingga keterlibatan aktif di KNPI. Nama-nama seperti Poli Wermbinan, Lambert Matkus, dan Julius Laiyan hadir dalam ingatannya sebagai bagian dari fase ketika dukungan kolektif menjadi napas bersama.

“Di masa itu, semua kader saling menghargai dan bekerja dengan berpedoman pada para senior,” kenangnya.

Kisah itu bukan nostalgia kosong, melainkan penanda bahwa solidaritas pernah menjadi kekuatan utama sesuatu yang menurutnya kini perlu dirawat kembali.

Etika yang Diuji Zaman

Bagian paling personal dari refleksi Abeaman muncul saat ia berbicara tentang etika. Ia mengaku prihatin melihat cara sebagian kader berinteraksi, baik di ruang fisik maupun digital.

Pengalaman diserang dalam grup WhatsApp oleh sesama kader menjadi simbol perubahan yang ia rasakan pergeseran dari budaya saling menghormati menuju komunikasi yang keras dan tanpa sekat tata krama.

“Etika sudah dihilangkan dari Pemuda Katolik,” katanya lirih namun tegas.

Baginya, perbedaan pandangan adalah hal wajar. Yang menjadi soal adalah ketika perbedaan itu kehilangan adab, dan organisasi berubah menjadi arena adu ego.

Baca Juga  Fidel Samponu; "Saya Mundur dari Kepanitiaan Musyawarah Pemuda Ngrimase Olilit Raya !!!"

Menitipkan Masa Depan pada Musyawarah

Menjelang Muskomcab ke-V, Abeaman tidak menawarkan resep instan. Ia hanya menitipkan harapan agar forum tersebut melahirkan kepengurusan yang kredibel, berhati, dan memiliki kapasitas manajerial.

Ia menekankan pentingnya kaderisasi yang terstruktur, penguatan kapasitas, serta pembekalan berkelanjutan agar kader mampu tampil di ruang yang lebih luas tanpa kehilangan identitas.

“Jangan anggap diri pintar sendiri. Bila ada masalah genting, panggil senior untuk bicara,” pesannya.

Kalimat penutup itu terdengar sederhana, namun sarat makna: bahwa organisasi besar tumbuh bukan dari memutus mata rantai, melainkan dari merawatnya.

Di Antara Masa Lalu dan Pilihan Hari Ini

Wejangan Polly Abeaman mungkin tidak akan mengubah arah Muskomcab secara langsung. Namun di tengah dinamika yang kerap memanas, suaranya hadir sebagai pengingat bahwa Pemuda Katolik bukan sekadar struktur dan jabatan, melainkan warisan nilai.

Pilihan ada di tangan para kader hari ini apakah musyawarah menjadi ruang memperlebar jurang, atau justru kesempatan menjahit kembali benang-benang yang pernah menyatukan.

Dan di rumah sederhana itu, seorang senior telah menyampaikan bagiannya: bukan perintah, bukan tuntutan, melainkan refleksi yang menunggu dijawab oleh waktu. (Nik Besitimur)

Tinggalkan Balasan