Distan Maluku Dukung Program Kementan Lewat Pengembangan Kawasan Sentra Produk Holtikultura

Spread the love

Ambontoday.com, Ambon.- Program Kampung Holtikultura merupakan salah satu program strategis Kementerian Pertanian melalui Dirjen Holtikultura. Program ini diharapkan dapat mengoptimalkan pengelolaan potensi lokal dalam budidaya holtikultura, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan nilai tambah produk melalui inovasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat.

Selain itu, program ini juga bertujuan mendorong pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan serta memperkuat jaringan pemasaran untuk memastikan produk holtikultura dapat bersaing di pasar Reginald maupun internasional.

Menanggapi program tersebut, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Dr. Ilham Tauda,SP, M.Si melalui Kepala Bidang Holtikultura, Donald Lekatompessy, SP, MP kepada media ini menyampaikan, dalam kegiatan ini ada tiga program strategis yang dilakukan yakni pembentukan kampung holtikultura, pengembangan UMKM, dan digitalisasi holtikultura.

Salah satu kegiatan juga yang digaungkan oleh Kementerian Pertanian yaitu, One Vilage, One Variety (satu desa, satu produk unggulan). Contohnya ada Kampung Cabai, Kampung Bawang dan lainnya.

Menurutnya, untuk provinsi Maluku sendiri dalam rangka menindaklanjuti program tersebut maka, ada sejumlah bantuan dari Kementerian Pertanian terkait pengembangan produk holtikultura.

“Untuk Maluku sendiri sejak tahun 2022 sampai 2023 itu ada bantuan berupa bibit bawang, cabai, jeruk dan sebagainya, sementara untuk tahun 2024 ini tidak ada karena keterbatasan alokasi anggaran.

Sementara ini pembentukan kampung hortikultura di Maluku ini belum dilakukan, tetapi lewat bantuan Kementerian tadi kita melakukan pengembangan kawasan sentra produk hortikultura sehingga bantuan itu kita sebar seperti Bawang di Maluku Tenggara, Jeruk di kabupaten Buru dan lainnya.

Nantinya dengan bermodalkan bibit tadi, setiap kawasan melakukan pengembangan produksi jenis tanaman hortikultura tersebut,” jelas Lekatompessy.

Dikatakan, pembentukan Kampung Holtikultura di Maluku itu belum ada, yang dilakukan hanyalah pengembangan kawasan melalui produk-produk unggulan tadi.

Baca Juga  Tim SAR Dobo Lakukan Evakuasi Medevac ABK Kebangsaan Filipina

Menurutnya, untuk pembentukan Kampung Holtikultura itu memang perlu kolaborasi dan kerjasama dengan beberapa pihak terkait, seperti penyuluhan untuk peningkatan kapasitas petani, serta bentuk kerjasama lainnya seperti dengan pihak koperasi, dan dukungan dari pemerintah Desa setempat juga sangat penting untuk mewujudkan Satu Desa, Satu Produk Unggulan.

“Pembentukan Kampung Hortikultura ini memang diperlukan kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak seperti Koperasi, Perbankan, Pemerintah Desa dan tentunya masyarakat petani.

Karena dengan kerjasama ini, tentu akan mempermudah Petani kedepan bilamana hasil panen dari produk unggulan tadi dapat di kenal dan dipasarkan bukan hanya di daerah saja tetapi bisa sampai ke luar daerah dan tentu ini dalam rangka pengembangan UMKM juga,” papar Donald.

Dirinya menyampaikan, berbicara soal hasil Pertanian tentu berbicara soal produksi dan pengolahan. Terkadang produksi baik tetapi pengolahan dan pemasaran tidak mendukung maka tentu akan membuat Petani patah semangat.

“Kita tahu bahwa produk tanaman holtikultura ini adalah kebanyakan berdasarkan musiman, kadang terjadi over produksi sehingga harga di pasaran jatuh dan tidak simbang dengan biaya produksi yang keluarkan petani.

Hal inilah yang kadang membuat para Petani patah semangat. Dalam kondisi seperti ini fungsi dari kerjasama tadi serta pembentukan UMKM akan sangat menentukan.

Karena dengan kerjasama maupun pembentukan UMKM tentu pengolahan terhadap produk hortikultura tadi tidak hanya ansi produk aslinya saja tetapi bisa diolah dalam bentuk lain dan dipasarkan.

Misalnya, tanaman Cabai dan Bawang, kalau kerjasama dan UMKM berfungsi dengan baik maka, ketika harga di pasaran jatuh produk Bawang dan Cabai tadi bisa diolah menjadi Bubuk Cabai atau Bawang Goreng kemudian dipasarkan.

Dengan demikian maka, biaya produksi Petani bisa diimbangi dengan hasil pemasaran produk dalam bentuk yang lain,” beber Kabid Holtikultura. (AT008)

Berita Terkini