
Angin Namrole bertiup pelan membawa kabar yang getir—tentang makanan bergizi gratis yang ditemukan berulat di sekolah MTs Alkhairat, Desa Oki Lama, Jumat (17/10/2025). Di tengah janji kesejahteraan anak bangsa, masyarakat justru menyaksikan kenyataan pahit: gizi yang dijanjikan berubah menjadi racun yang mengancam masa depan mereka.
Namrole , Ambontoday.com – Di tepi laut Namrole yang tenang, kabar itu menyebar seperti riak di air. Pada Jumat pagi (17/10/2025), makanan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan untuk siswa MTs Alkhairat ditemukan berulat. Masyarakat pun bergemuruh, merasa dikhianati oleh sistem yang mestinya menjamin kesehatan anak-anak mereka.
“Bagaimana bisa anak-anak kita diberi makan seperti ini?” tanya seorang ibu di Desa Oki Lama dengan mata berkaca. “Kami percaya program ini untuk menyehatkan mereka, bukan mencelakai.”
Warga menuding lemahnya pengawasan dari pihak Satuan Pengelola Program Gizi (SPPG) sebagai penyebab utama. Makanan yang seharusnya menjadi sumber tenaga dan harapan justru menjadi simbol kelalaian dan ketidakpedulian.
Kini, desakan pun mengalir deras ke DPRD Kabupaten Buru Selatan. Warga meminta lembaga tersebut segera memanggil dan mengevaluasi kinerja SPPG, agar kejadian serupa tidak kembali mencoreng nama pendidikan dan kemanusiaan di daerah itu.
“Kami tidak mau diam lagi. DPRD harus transparan, harus menjelaskan siapa pengelola MBG ini. Jangan ada yang ditutup-tutupi,” ujar salah satu tokoh masyarakat dengan nada tegas.
Suara rakyat kini menjadi gema yang mengguncang gedung-gedung pemerintahan. Mereka menilai, jika hukum di negeri ini tak mampu menegakkan keadilan untuk urusan sekecil makanan berulat, maka masyarakatlah yang akan menegakkan hukum sosial.
“Mungkin mereka pikir rakyat lupa. Tapi tidak. Kami akan ingat, karena ini tentang anak-anak kami,” ucap seorang ayah di Namrole, menatap kosong ke arah sekolah tempat kejadian itu.
Di tengah segala janji tentang kesejahteraan, kisah di Namrole ini menjadi cermin: bahwa di balik program gizi gratis, masih tersisa luka tentang kelalaian, tentang tanggung jawab yang terabaikan.
Laut Namrole masih beriak pelan sore itu, seolah ikut berduka atas nasib anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan sehat, bukan dengan perut yang dicekik oleh lalai dan abai.
[Nar’Mar]
.





















