Ambontoday.com, Ambon.- Muhamad Arafah, S.H., M.Si adalah anak ke-3 dari 7 orang bersaudara (3 Pria dan 4 Wanita), hasil perkawinan antara Haji Mappiasse (Ayah) dan Hajah Hindung (Ibu). Arafah lahir di Ambon (Rumah Tiga) pada 8 November 1976.
Siapa sangka, pria yang biasa di panggil Arafah ini, dahulu adalah nahkoda kapal motor tangkap ikan sebelum memulai jenjang karirnya di Basarnas hingga saat ini. Bahkan, dirinya sempat di tawari oleh Kepala Bank BRI untuk bekerja di Bank BRI dengan penghasilan (Gaji) yang cukup besar ketimbang di Basarnas waktu itu tahun 1996.
Arafah, adalah alumni SMA Negeri 3 Ambon lulusan 23 Mei 1994. Setelah lulus dari bangku SMA, Arafah sehari hari ikut membantu usaha Ayahnya yang memiliki 3 unit Kapal Motor Tangkap Ikan.
Dirinya menjadi Nahkoda pada salah satu Kapal Motor tangkap ikan milik Ayahnya, dengan 15 anak buak kapal dan hampir kesehariannya di lautan untuk mencari tangkapan ikan.
Usaha Ayahnya dari Kapal Motor Tangkap Ikan cukup mendatangkan pundi-pundi rupiah yang tidak sedikit untuk menopang ekonomi keluarganya.
Tak heran jika sejak dahulu, keluarganya memiliki latar belakang ekonomi yang cukup mapan.
Selain menamatkan pendidikan di bangku SMA, dirinya juga sempat mengenyam pendidikan dasar pada SD Negeri 1 Rumah Tiga Ambon dan lulus pada 24 Juni 1998. Kemudian dirinya melanjutkan ke jenjang SMP Negeri 7 Ambon dan lulus pada 8 Juni 1991.
Bersama keluarganya mereka tinggal di rumah yang terletak di Kawasan Rumah Tiga tepatnya di tepi pantai yang dahulu sebagai tempat pangkalan angkutan Perahu Galala-Poka.
Hampir setahun lebih Arafah menghabiskan waktunya sebagai pengemudi (Nahkoda) Kapal Motor Tangkap Ikan dengan membawahi 15 orang anak buahnya.
Di tahun 1996, oleh kakanya Arafah di beritahu untuk melamar kerja di PT. Matahari Putra Prima di pusat perbelanjaan Ambon Plaza (Amplaz).
Dirinya mengikuti arahan kakanya dan akhirnya di Terima bekerja. Selama 1 bulan dirinya bekerja di Amplaz, salah seorang teman dekatnya meminta bantuan untuk membuat surat lamaran kerja di Basarnas, dahulu masih bernama Sub Koordinasi Rescue (SKR).
”Sebagai teman dekat, tentu permintaan teman saya membuat lamaran kerjanya untuk melamar di Basarnas.
Setelah beberapa hari saya kemudian menanyakan teman saya soal lamaran yang dia masukan, tapi teman saya menjawab bahwa dirinya tidak jadi memasukan lamaran kerja ke Basarnas karena ayahnya menginginkan dia masuk TNI.
Saya kemudian membuat lamaran kerja ke Basarnas untuk saya. Saya memasukkan surat lamaran kerja di Basarnas waktu itu tepat di hari terakhir penutupan pendaftaran.
Alhamdulillah, setelah diseleksi, saya dinyatakan lolos dan bisa bekerja di Basarnas,” tutur Arafah.
Setelah beberapa hari bekerja di Basarnas, dirinya dihubungi oleh Kepala Bank BRI dan ditawari masuk kerja di Bank, padahal dirinya sudah beberapa hari masuk kerja di Basarnas.
”Berulang kali saya dihubungi oleh Kepala BRI waktu itu Pak Muhadi Umasugi, selang beberapa hari saya akhirnya membuat keputusan untuk tetap mengabdi di Basarnas dan menolak tawaran Bank BRI.
Saat itu, kalau bandingkan penghasilan (gaji) antara Basarnas dan BRI tentu penghasilan di Bank BRI lebih menggiurkan jika dibandingkan dengan gaji di Basarnas waktu itu satu bulan 84 ribu lebih.
Namun karena sudah menjadi panggilan jiwa bagi saya untuk mengabdikan diri pada panggilan tugas kemanusiaan maka saya tidak menerima tawaran Bank BRI,” ungkap Arafah.
Menurutnya, keinginan untuk tetap mengabdikan diri di Basarnas karena panggilan jiwanya untuk turut membantu tugas dan misi kemanusiaan, itulah yang menjadi motivasi kuat bagi dirinya.
”Saya tetap memilih bekerja di Basarnas semata mata karena panggilan jiwa saya untuk mengabdikan diri bagi tugas tugas kemanusiaan.
Bagi saya menjadi bagian dari Basarnas bukan sekedar pekerjaan melainkan sebuah panggilan jiwa untuk membantu sesama dalam situasi darurat dan penuh resiko.
Saya menyadari bahwa tugas di Basarnas ini menuntut keberanian, profesional, serta kemampuan bekerja dalam tim. Tantangan tersebut yang memotivasi saya untuk tetap mengabdi di Basarnas.
Sejak saat itu saya terus berupaya untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan serta pengetahuan sehingga dapat membangun soliditas dalam menjalankan tugas dan misi kemanusiaan dan mengabdi kepada negara dan masyarakat dalam situasi dan resiko apapun,” paparnya.
Kini, sudah 32 tahun Muhamad Arafah mengabdikan dirinya di Basarnas dengan pangkat golongan Pembina (IV/a). Dalam karirnya di Basarnas, dirinya sempat menduduki sejumlah jabatan strategis.
Awal diterima kerja di Basarnas dirinya berstatus sebagai Recuer tahun 1996. Tahun 1997 dirinya lolos seleksi CPNS kemudian memegang jabatan sebagai Bendahara selama 3 periode lalu sempat menjadi PPK.
Kemudian dirinya diangkat menjadi Kepala Sub Seksi Potensi Basarnas Ambon pada 2012. Kepala Sub Seksi Potensi Basarnas Pontianak 2014. Kepala Sub Seksi Potensi Basarnas Ternate 2017.
Setelah itu, dirinya naik jabatan dan ditunjuk sebagai Kepala Kantor Basarnas (Kakansar) Ternate 2018. Kakansar Bengkulu 2022. Kakansar Kendari 2023. Kakansar Ambon 2024 hingga sekarang.
Dalam jenjang karirnya di Basarnas, Arafah sempat mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Darusalam S1 Program Studi Hukum Pidana dan lulus 26 Februari 2011, kemudian Studi S2 pada Universitas Muhamadiyah Program Studi Administrasi Publik dan lulus 8 Juli 2020.
Arafah menikah dengan Siti Mariyam, S.H., M.H (ASN) pada Pemerintah Provinsi Maluku dan dikaruniai 2 orang anak, masing-masing Muhamad Arsyam dan Naura Salsabila. (Moz)





















Komentar