Ambontoday.com-Maluku, Liputan Budaya – Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, salah satunya adalah keberadaan Suku Naulu di Pulau Seram, Maluku. Suku ini dikenal dengan adat istiadatnya yang masih bertahan di tengah arus modernisasi.
Suku Naulu mendiami wilayah pesisir selatan Pulau Seram, tepatnya di Dusun Sepa, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah. Meskipun hidup lebih dekat dengan peradaban modern, mereka tetap mempertahankan beberapa tradisi unik yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Suku Naulu memiliki keterkaitan sejarah dengan Suku Huaulu. Konon, kedua suku ini berasal dari satu nenek moyang yang sama, tetapi terpisah karena konflik adat. Salah satu ciri khas mereka yang masih dipertahankan adalah penggunaan kain merah yang disebut kain berang oleh kaum pria dewasa.
Di Dusun Sepa, masyarakat Naulu hidup dalam lima permukiman utama: Bonara, Naulu Lama, Hauwalan, Yalahatan, dan Rohua. Walaupun telah mengalami modernisasi, beberapa tradisi kuno mereka masih tetap dilaksanakan hingga kini.
Salah satu tradisi paling kontroversial dari suku ini adalah ritual pemenggalan kepala, yang dulunya dilakukan sebagai bagian dari upacara adat, seperti pendirian rumah adat. Tradisi ini dulunya menjadi tanda kedewasaan bagi kaum pria, tetapi kini sudah dilarang oleh hukum. Tragedi kriminal yang terjadi pada 2005 menjadi salah satu titik akhir dari praktik ini.
Selain ritual pemenggalan kepala, Suku Naulu juga memiliki tradisi pengasingan bagi perempuan yang mengalami haid pertama atau akan melahirkan. Mereka harus tinggal di sebuah bilik kecil berukuran 2×2 meter yang disebut tikusune.
Dalam bilik ini, perempuan harus mengasingkan diri hingga masa haid atau persalinan selesai. Setelah itu, mereka disambut kembali ke keluarga dengan pesta sebagai bentuk perayaan.
Suku Naulu menganut sistem kepercayaan yang mempercayai keberadaan roh nenek moyang dan pencipta yang disebut Upu Kuanahatana. Kepercayaan ini masuk dalam kategori animisme, meskipun dalam pencatatan administratif di Indonesia, mereka dikategorikan sebagai pemeluk agama Hindu.
Kepercayaan ini meyakini bahwa roh leluhur memiliki pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, berbagai ritual adat dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada roh-roh tersebut.
Keberadaan Suku Naulu dengan segala tradisi dan kepercayaannya menjadi bukti kekayaan budaya Indonesia yang patut dijaga. Di tengah derasnya arus modernisasi, mereka tetap mempertahankan identitas dan adat istiadatnya.
Melestarikan budaya bukan berarti menolak perubahan, tetapi menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang. Suku Naulu adalah contoh nyata bagaimana tradisi dapat tetap bertahan dalam kehidupan yang terus berkembang.
Sebagai bagian dari keberagaman budaya Nusantara, sudah sepatutnya kita turut menjaga dan menghormati tradisi yang masih dijalankan oleh Suku Naulu dan masyarakat adat lainnya di Indonesia.(Ol)





















