Rekomendasi PDIP ke-Siapa? Adu Strategi Usung Kandidat Demi Meraih Suara Rakyat di KKT

Spread the love

Saumlaki, Ambontoday.com – Genderang perang mulai ditabuh pasca rekomendasi-rekomendasi Partai Politik dikeluarkan kepada para bakal calon bupati dan wakil bupati di Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT). Beberapa diantaranya Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Demokrat, Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan Perindo. Tersisa 5 parpol lagi yang belum secara sah umumkan rekomendasinya. Salah satunya adalah PDI Perjuangan.

Rekomendasi Partai Banteng Moncong Putih ini sangat ditunggu-tunggu oleh para bakal calon kepala daerah maupun tim suksesnya hingga rakyat di Bumi Duan Lolat. Pasalnya dari rekomendasi partai Besutan Megawati Soekarnoputri inilah yang dianggap paling rasional dan sangat menentukan arah kemenangan calon yang diusung maupun jumlah Bacalon kada.

PASANG STRATEGI

Untuk Provinsi Maluku, PDIP telah mengeluarkan rekomendasi kepada Jendral Bintang 3 yakni Jerffry Apoly Rahawarin – Abdul Mukti Keliobas. Strategi PDIP ini dirasa sangat strategis untuk melawan Patahana Murad Ismail dan Pasangannya Michael Wattimena. Mengingat 5 tahun lalu, PDIP cerdas membaca peta politik Maluku yang akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Jendral Bintang 2 ini, ketimbang kader partainya sendiri yang sudah “berdarah-darah” membesarkan partai yang identik dengan warna Merah pekat ini.

Keputusan Sang Ketua Umum PDIP ini sangatlah tepat dan akhirnya menghantarkan Murad Ismail – Barnabas Orno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku periode 5 tahun. Sayangnya ditengah jalan, Murad Ismail memilih pindah partai mengikuti arah istrinya Widya Pratiwi ke Partai Amanat Nasional (PAN).

Akankah pengamatan mata Banteng kembali tajam untuk Tanimbar? Dengan mengeluarkan rekomendasi PDIP tuk pasangan calkada KKT, jatuh ke tangan siapa. Mengingat terdapat dua figur kuat yang berproses di Markas Banteng. Kedua kandidat tersebut adalah dr. Julianus Aboyaman Uwuratuw dan Adolof Bormasa.

Baca Juga  Dami Batfutu, Hegemoni Oposisi Nasompun Di KKT

Dokter Boy (sapaan akrab Uwuratuw) telah mengantongi rekomendasi Partai Golkar (3 kursi) dan PKB (2 kursi), bersama pasangannya Pollykarpus Lalamafu, yang merupakan kader Banteng fanatik dan saat ini menjabat Wakil Ketua DPC PDIP KKT. Dengan memperoleh 5 kursi tersebut, membawah pasangan dengan Jargon JUARA berada dalam posisi aman tuk mendaftar di KPU nanti.

Sedankan Adolof Bormasa yang merupakan kader bangsa yang direkrut PDIP guna mendulang suara pada Pileg lalu. Dengan menggandeng Ketua DPC Hanura Hendrikus Serin. Dimana pasangan ini telah mengantongi rekomendasi Hanura (2 kursi). Masih harus mencari partai koalisi lain lagi untuk memenuhi syarat yang ditentukan KPU ini. Disisi lain, Bormasa sendiri dianggap merupakan orang kepercayaan Murad Ismail, yang dianggap telah “mengkhianati” PDIP itu sendiri.

Belum lagi syarat yang disebutkan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, beberapa waktu lalu saat menyerahkan langsung rekomendasi PDIP kepada beberapa calkada kabupaten kota maupun provinsi di Indonesia, dengan mengajukan 3 syarat pencalonan agar diusung PDIP.

Ketiga syarat tersebut yakni Pertama, takutkah kamu? Sebab Pemimpin harus punya nyali. Kedua, harus mau turun ke bawah bertemu akar rumput. Dan syarat Ketiga, punyakah kamu uang? Sebab menurut Megawati, kandidat itu harus punya modal, karena untuk membuat baliho, kampanye dan lainnya membutuhkan dana yang sangat besar.

TERGAMBAR JELAS

Dari kedua pasangan calkada ini, tergambar jelas mana yang unggul.

Dokter Boy – Poly :

1. Memiliki simpul relawan yang telah terbentuk dari tingkat kabupaten hingga ke desa-desa di seluruh KKT.

2. Dokter Boy dari semua Bacalon, hanya satu-satunya calon bupati yang terjun langsung dan bertemu dengan masyarakat yang tersebar di desa-desa pada 10 kecamatan.

Baca Juga  Louhenapessy : Dalam Waktu Dekat Pemkot Ambon Lakukan Uji Coba BTM

3. Memiliki finansial yang cukup potensial dan pasti. Dimana secara profesi kedokterannya, Dokter Boy merupakan Dokter Ahli Bedah yang bertugas di Makasar, Sulawesi Selatan. Memiliki penghasilan tetap dari profesinya. Dimana secara umum, dalam sebulan seorang dokter spesialis bedah dibandrol penghasilannya menurut UMR mencapai Rp50 jutaan. Angka ini diluar praktek dokternya. Belum lagi jika dihitung dari penghasilan sang Istri yang juga berprofesi sebagai Dokter Ahli Dalam. Penghasilan ini belum terhitung, penghasilannya sebagai Dosen pada Fakultas Kedokteran di Makasar.

4. Wakilnya Pollycarpus Lalamafu, merupakan kader PDIP “sejak dalam kandungan ibu'”.

5. Dosen sekaligus Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Rumpun Lelemuku Saumlaki, yang akhirnya berhasil melahirkan Universitas Lelemuku Saumlaki (Unlesa), universitas pertama di Tanimbar.

Bormasa – Serin

1. Bormasa tidak membentuk simpul relawan secara struktur yang terorganisir.

2. Bormasa merupakan pensiunan Polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP), bergelar Doktor jebolan Fakultas Hukum Universitas Pattimura. Memiliki istri yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

3. Bergabung dengan PDIP saat Murad Ismail memegang Ketua DPD PDIP Maluku

4. Tak lolos pileg 2024 sebagai anggota DPRD Provinsi.

5. Wakilnya Hendrikus Serin, saat ini sebagai Anggota DPRD hasil PAW dan lagi-lagi tak lolos pileg 2024 kemarin.

(AT/BAJK)

Berita Terkini