JAKARTA – Kurban merupakan suatu ritual tahunan yang memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Untuk para pemeluk Islam, kurban tidak sekadar menunjukkan kesetiaan pada hukum agama, melainkan juga lambang dari persaudaraan serta cara mendistribusikan aset secara merata. Negara-negara dengan populasi Muslim mayoritas layaknya Indonesia mempraktikkan ibadah ini sebagai bagian penting dari finansial sosial Islam. Ritual tersebut tak cuma bermuatan rohani namun turut membantu meningkatkan taraf hidup kaum dhuafa atau mereka yang rentan, di samping menciptakan perubahan positif lainnya. Pada periode 2025 nanti, meski berbagai perkembangan ekonomi tengah berlangsung, hal itu bakal jadi tantangan dan kans tersendiri bagi komunitas Muslim Indonesia untuk senantiasa menjaga stabilitas ekonomi rituel Kurban demi pertautan sosial yang lebih adil.
Dari segi ekonomi negara, golongan menengah memiliki peranan signifikan dalam pembelanjaan serta mendongkrak dinamika finansial sosial seperti halnya ibadah qurban. Tetapi, analisis terkini mencatat bahwa kedudukan kelas tengah saat ini sedang menghadapi tantangan besar. Beberapa studi socio-economy melaporkan bahwa populasi kelas menengah di Indonesia telah merosot secara beruntun selama lima tahun, turun dari perkiraan 57 juta jiwa pada tahun 2019 hingga kurang dari 48 juta jiwa pada tahun 2024. Di samping itu, strata vulnerabel di bawah tingkat menengah malahan naik drastis, membuktikan ada kemunduran dalam mobilitas sosial vertical di kalangan masyarakat.
Tekanan tersebut tidak hanya berupa angka saja. Pola pengeluaran keluarga telah berubah, menunjukkan bahwa kalangan menengah sekarang lebih cenderung memusatkan diri pada keperluan esensial dan mengurangi pengeluaran untuk hal-hal yang sifatnya opsional. Statistik tentang uang yang dikeluarkan menyatakan bahwa bagian dari total konsumsi pangan naik dari 20,2% tahun 2014 hingga 22,3% pada 2023. Penggunaan produk rumah tangga lain seperti alat transportasi serta komunikasi pun melonjak, yaitu dari 11,4% menjadi 16,2%. Di sisi lain, biaya terkait barang-barang tahan lama misalkan gadget atau furnitur malah turun secara signifikan, merosot dari 4,8% sampai 2,9% selama periode waktu itu. Transformasi ini mendemonstrasikan pendekatan adaptatif yang dipilih oleh golongan tengah saat mereka harus hadapi tekanan finansial, dengan prioritas utama adalah pemenuhan kebutuhan fundamental dan penundaan transaksi jangka panjang.
Kondisi saat ini membawa pertanyaan penting: Apakah penurunan kemampuan pembelian ini akan memberikan dampak besar pada ikutan orang-orang dalam ritual qurban tahun ini? Diketahui bahwa kelompok tengah sangatlah dominan dalam penyelenggaraan acara tersebut, sehingga penurunan jumlah peserta bisa jadi masalah. Akan tetapi, sebaliknya, kita juga patut menyadari betapa uniknya praktik agama Islam di Indonesia dimana semangat rohani begitu kuat ketika melakukan ibadah seperti halnya qurban. Walaupun mereka sedang menghadapi beban finansial, tekad untuk tetap melangsungkan tradisi qurban sering kali tak luntur. Qurban bukan dipandang sekadar biaya tambahan, tapi lebih dari itu; ia adalah suatu obligasi keagamaan, tempat mendapatkan ganjaran baik, serta sebuah lambang derajat sosial dalam konteks keyakinan. Jadi meski logika ekonomi berkata ada penurunan daya beli, namun sudut pandangan sosiologi dan spiritualis membuat partisipasi dalam prosesi qurban tampaknya masih kokoh.
Informasi yang diberikan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) lewat Policy Brief tersebut Potensi Ekonomi Kurban 2024
Menyinggung tentang total nilai potensi ekonomi untuk Idul Adha pada tahun 2024 yang mencapai angka Rp 34,34 triliun. Data ini didapatkan berdasarkan perkiraan adanya sekitar 2,75 juta keluarga peternak penyembelih, dengan rincian jumlah ternak yang dikurbankan melampaui batas 2,3 juta ekor, yaitu terbagi menjadi 514 ribu ekor sapi serta 1,79 juta ekor kambing atau domba. Diperkirakan hasil produksi daging dari ritual kurban kali ini akan menjangkau puncak 195.530 ton. Kuantitas seperti itu cukup signifikan apabila kita mempertimbangkan pengadaan nutrisi bagi populasi penduduk tidak mampu, utamanya mereka yang memiliki defisiensi dalam konsumsi protein hewani.
Penyebaran hewan qurban dengan tepat sasaran juga dapat mendukung penanggulangan permasalahan ketidakseimbangan gizi. Terdapat sebanyak 259 daerah, termasuk kabupaten dan kota, yang masih menghadapi kesenjangan pasokan daging. Sebaliknya, penyembelihan hewan qurban mempunyai kemampuan untuk mencapai lebih dari 48 juta keluarga penerima manfaat, apabila dihipotesiskan tiap-tiap famili menerima 1,5 kilogram daging. Melalui pengaturan pendistribusian yang efektif, implementasi ritual ini bisa menjadi jawaban riil bagi persoalan kelaparan tersimpan, nutrisi tidak lengkap, serta kecukupan zat protein yang turut menyebabkan pertumbuhan lambat pada anak-anak.
Dengan melihat kemajuan positif setiap tahunnya dan mengambil berbagai macam indikator ekonomi serta social, diproyeksikan bahwa potensi perekonominan Idul Adha di tahun 2025 bisa mencapai angka sekitar Rp 38 triliun. Proyeksi tersebut mempertimbangkan laju pertambahan nilai qurban tiap tahun, naik turunya harga ternak akibat inflasi, meningkatnya pendistribusian qurban secara digital, juga asumsi bahwa jumlah peserta tak banyak bergeser walaupun ada tekanan pada kelompok masyarakat menengah. Meski demikian, kondisi ekonomi sulit pun justru membuat kaum Muslim semakin termotivasi untuk melakukan ibadah qurbannya baik itu sendiri atau bersama-sama dengan komunitas mereka. Hal ini membuktikan jika elemen spiritualitas menjadi faktor penting yang mendukung stabilitas praktek-praktek sosio-ekonomi dalam agama Islam.
Sebaliknya, mayoritas peluang ekonomi yang berkaitan dengan qurban saat ini belum tersentuh integrasi maksimal ke dalam struktur formal. Berdasarkan data dari BAZNAS, hampir 85% aktivitas qurban masih berlangsung tanpa melalui catatan resmi institusi. Di tahun 2023, jumlah pendanaan untuk qurban yang masuk dalam buku kas mencapai Rp2,03 triliun, dibandingkan dengan total penerimaan di luar buku kas yaitu sebesar Rp18,13 triliun. Kondisi tersebut mempersulit upaya manajemen distribusi menjadi efisien serta meredupkan tingkat pertanggungan jawab pada proses penyampaian daging qurban.
Untuk itu, penegakan manajemen ekonomi qurbannya amat krusial. Tahap awal yang harus diambil ialah meningkatkan basis data dan pendistribusian qurban dengan menggunakan platform digital. Melalui pemetaan berteknologi tinggi, organisasi amil zakat dan partner qurban dapat mendeteksi tempat pengorbanan, persebaran para dermawan, serta area kekurangan daging dengan akurat. Struktur ini bakal mendorong pembagian jadi lebih merata dan mengecilkan kesenjangan antardaerah.
Kedua, kita harus meningkatkan pendidikan masyarakat mengenai kurban sebagai jenis investasi sosial. Perlu diketahui bahwa kurban tidak hanya merupakan suatu wujud dari ibadah yang wajib saja, melainkan juga bisa menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan serta mencapai keadilan sosial. Melalui kampanye seperti itu, kita dapat memperdalam semangat rohani seseorang sekaligus menumbuhkan pemikiran bersama untuk saling membantu di dalam konteks pengembangan komunitas.
Ketiga, perkuatan dalam penanganan sisa-sisa korban kurban harus dilakukan untuk membuat manfaatnya bertahan lebih lama serta tersebar dengan baik. Bagian dari daging kurban boleh diproses jadi makanan siap saji seperti rendang kalengan, abon, dan kornet, sehingga barang tersebut bisa disimpan selama-lamanya dan disebar ke daerah-daerah pelosok. Konsep ini pun menopang ketahanan pangan secara nasional sekaligus berfungsi sebagai komponen dari sistem distribusi bantuan saat musibah terjadi.
Akhirnya, sangatlah vital bagi negara serta institusi penyelenggara qurban agar mengintegrasikan implementasi ibadah qurban ini dengan program-program nasional semisal penanganan kemiskinan, reduksi stunting, dan keamanan pangan. Qurban tak seharusnya hanya dijalankan sebagai sebuah tradisi tahunan biasa tanpa memberi dampak signifikan pada struktur sosial. Sebaliknya, ia perlu diterapkan sebagai elemen dalam skema nasional guna meningkatkan kualitas hidup rakyat jelata secara bertahap dan terus-menerus.
Walaupun menghadapi tantangan ekonomi yang signifikan pada masa kini, antusiasme umat Muslim dalam melaksanakan ritual qurban merupakan sumber daya sosial dan rohani yang tak seharusnya diabaikan. Qurban lebih dari sekadar penyembelihan ternak; itu mencerminkan pengorbanan egoisme kita sendiri, merangsang rasa simpati, serta menerjemahkan ketidaksetaraan sosial dalam praktik Islam menjadi realitas. Tahun 2025 perlu dipandang sebagai titik balik utama bagi peneguhan qurban sebagai alat distribusi pendapatan dengan dampak jangka panjang, tidak hanya efek singkat saja. Melalui motif yang tulus, struktur organisasi yang kokoh, dan manajemen yang tepat, qurban dapat bertindak sebagai tenaga bersamasama kaum muslimin guna membentuk negeri mereka.





















