Ambontoday.com, JAKARTA – Setelah penurunan, harga minyak mentah global naik kembali pada Selasa (22/4). Seperti dilansir Reuters , harga minyak menguat di sesi pagi Selasa (22/4). Hal ini disebabkan oleh para investor yang menutup posisi jual mereka setelah alami kerugian pada hari Senin. Meski demikian, kekhawatiran masih berlangsung akibat batasan ekonomi dari bea masuk serta kebijakan moneter AS yang bisa melemahkan permintaan akan produk energi tersebut.
Pada Selasa (22/4), harga kontrak minyak mentah Brent meningkat sebesar 51 sen, mencapai kenaikan 0,8% dan berada di level US$ 66,77 per barel pada pukul 00.45 GMT. Di sisi lain, harga minyak mentah West Texas Intermediate Amerika Serikat diperdagangkan pada angka US$ 63,59 per barel dengan peningkatan yang sama yaitu 51 sen atau 0,8%.
Walaupun mengalami kenaikan, FounderTraderindo Wahyu Laksono menegaskan bahwa pergerakan harga minyak mentah global tetap condong melemah karena beberapa sentimen negatif masih mempengaruhi.
Pertama, pastinya ada masalah tariff war yang masih panas diantara Amerika Serikat dan Cina. Walaupun penangguhan kebijakan tariff sebentar saja menimbulkan harapan untuk beberapa jenis energi seperti minyak, ternyata tindakan saling balas membali tetap berlangsung. Yang paling baru, China justru mengancam negara-negara lain yang telah membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat.
China secara tegas melawan siapa saja yang merundingkan sesuatu sementara mengorbankan kepentingan China. Apabila hal itu terwujud, China pasti akan segera mengambil langkah tanggapan.
Wahyu mengatakan bahwa hal tersebut semakin meningkatkan ketidakstabilan dalam perekonomian dunia. Dia memperhatikan kemungkinan terjadinya resesi global akibat situasi ini dan tentunya hal itu dapat menyebabkan penurunan harga minyak mentah.
Kedua, mengenai pasokan. “Penimbunan minyak mentah AS yang melebihi estimasi bisa jadi merupakan sentimen bearish,” ujar Wahyu di Ambontoday.com pada hari Senin (21/4).
Terkait hal itu, pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai program nuklir justru memberikan tanda-tanda baik. Ini dapat mendorong kemungkinan peningkatan suplai minyak dari Iran ke pangsa pasar dunia. Tambahan pula, kesepakatan cease-fire di antara Rusia dan Ukraine turut membantu meredam ketidakpastian pasar terhadap ancaman pengacauan pasokan energi di wilayah tersebut.
Kemudian yang ketiga berkaitan dengan ekonomi global. “Pengumuman data ekonomi yang lemah di berbagai negara bisa memicu keprihatinan tentang masa depan permintaan energi dunia,” ungkap Wahyu.
Jadi, apabila perkembangan ekonomi memperlambat, kebutuhan bahan bakar mentah pun bisa ikut turun yang pada gilirannya akan mengakibatkan penyesuaian harga.
Bagi periode singkat, Wahyu mengantisipasi bahwa minyak WTI kemungkinan akan kembali naik dan berada dalam range harga antara US$ 62 sampai dengan US$ 66 per barel. Akan tetapi, hingga penghujung tahun, ada peluang untuk penurunan lebih lanjut yang mungkin terjadi dalam batasan harga dari US$ 40 hingga US$ 70 per barel.




















