Warga Meninggal Tak Tertolong, Pustu Wamkana Memprihatinkan, Tenaga Medis Hanya Bisa Pasrah

Spread the love

Warga Meninggal Tak Tertolong, Pustu Wamkana Memprihatinkan, Tenaga Medis Hanya Bisa Pasrah

Ambontoday.com – Namrole
Duka mendalam masih menyelimuti hati Markus (31), warga Desa Wamkana, Kecamatan Namrole, Kabupaten Buru Selatan. Beberapa hari lalu, ia kehilangan orang tuanya — bukan karena tak ada harapan untuk bertahan, tapi karena tak ada fasilitas kesehatan memadai yang bisa memberi pertolongan pertama di saat darurat.

Dalam kunjungan reses anggota DPRD Buru Selatan, Hi. Said Sabi, Sabtu (19/7/2025), Markus mengungkapkan keprihatinannya di hadapan masyarakat dan wakil rakyat. Suaranya bergetar menahan emosi, ketika menyebut bahwa satu-satunya Puskesmas Pembantu (Pustu) di desanya hampir tak memiliki alat medis yang layak, bahkan obat-obatan pun harus menunggu dikirim dari Namrole.

> “Kami warga di sini sudah lama hidup dalam ketidakpastian pelayanan kesehatan. Saat musim timur datang dan jalan terputus, kami hanya bisa pasrah. Kalau sakit parah, tidak tahu lagi harus berharap kepada siapa,” kata Markus lirih.

Keluhan ini bukan tanpa dasar. Kondisi fisik bangunan Pustu Desa Wamkana benar-benar memperihatinkan. Terlihat jelas dari bagian atap yang lapuk, plafon yang hancur, dinding dan tiang yang sudah menghitam karena lembab, serta fasilitas dalam ruangan yang tidak menunjang pelayanan kesehatan dasar. Di tengah hujan pun, warga tetap berkerumun karena tak ada alternatif tempat berteduh yang lebih layak.

Foto yang diambil saat kunjungan menunjukkan langsung betapa Pustu ini jauh dari standar kelayakan pelayanan kesehatan. Tak ada ruang tunggu yang layak, tidak ada tanda-tanda keberadaan peralatan medis dasar, dan tenaga medis pun bekerja dalam keterbatasan luar biasa.

Jeli Lesnussa, satu-satunya tenaga kesehatan yang bertugas di Pustu ini, membenarkan kondisi tersebut.

Baca Juga  Poles BurseL Gelar Upacara Pelantikan Serah Terima Jabatan

> “Kadang pasien datang dalam kondisi gawat, tapi kami harus menunggu obat dari Namrole. Padahal Pustu ini melayani dua desa dan satu desa persiapan,” jelas Jeli, menundukkan wajahnya penuh beban.

Melihat langsung kondisi itu, Hi. Said Sabi yang juga anggota Komisi C DPRD dari Fraksi PDI-P menyatakan bahwa apa yang terjadi di Wamkana adalah potret kelalaian yang tak boleh dibiarkan.

> “Ini sangat ironi. Fasilitas ini seharusnya menjadi tumpuan pertama masyarakat yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa. Tapi kondisinya sangat tidak manusiawi. Saya akan segera menyampaikan ini ke Pemerintah Daerah dan Dinas Kesehatan,” tegasnya.

Situasi ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Buru Selatan. Jika nyawa warga terus dipertaruhkan akibat fasilitas kesehatan yang buruk, maka kehadiran negara di tengah masyarakat patut dipertanyakan. Pustu bukan sekadar bangunan, tapi garis pertahanan pertama bagi kehidupan.

Sudah saatnya Pemerintah bergerak cepat. Jangan sampai ada lagi Markus lain yang berdiri di depan gedung lapuk, menatap kehilangan tanpa daya, hanya karena sistem gagal memberi mereka hak dasar: hidup dan sehat.

(Biro BurSel)
.

Berita Terkini