Lima Fakta Keren Pulau Hormuz yang Sering Dilupakan

Spread the love

Lima Fakta Keren Pulau Hormuz yang Sering Dilupakan

Selat Hormuz merupakan laut yang membatasi wilayah Iran dan Oman. Di salah satu lokasi perairan Selat Hormuz dekat pesisir Iran, terdapat sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Hormuz.

Dikutip dari World Atlas , Pulau Hormuz mencakup area seluas 42 kilometer persegi dengan puncak tertingginya berada di ketinggian 186 meter dari permukaan laut. Pulau ini terlihat sebagai daerah bergunung berbatu dengan sedikit tanaman yang dapat bertahan hidup di dalamnya.

Di samping dikenal sebagai Kepulauan Pelangi, Pulau Hormuz juga mempunyai hubungan historis dengan berbagai etnis yang telah mengunjunginya. Ayo kita telusuri lebih jauh informasi menarik tentang Pulau Hormuz ini.

1. Sebutan Rainbow Island berasal dari pasir Pulau Hormuz yang tampak berwarna-warni

Apabila diamati dari kejauhan, tepian Pulau Hormuz nampak mirip dengan padang pasir bercorak kemerahan. Kondisi tersebut timbul karena adanya jumlah besar oksida besi dalam butiran pasir sana.

Kekurangan intensitas curah hujan di Pulau Hormuz menghasilkan akumulasi sederhana dari garam mineral semacam besi oksida dalam pasir, tanah, dan juga air laut. Bahkan gelombang air laut yang mencapai garis pantai akan nampak memiliki warna pink disebabkan oleh campuran dengan butiran pasir pantai berwarna merah tersebut.

Walaupun umumnya dikenal sebagai pulau yang berwarna merah, Pulau Hormuz pada dasarnya tersusun dari bermacam-macam batu sedimentasi yang mengandung beragam mineral. Inilah alasan mengapa pasir dan tanah di beberapa area dapat tampak berbeda, seperti putih, perak, hinggaemas, sesuai kutipan ini.
World Atlas
.

2. Suku Bandari mendiami Pulau Hormuz

Walaupun terlihat seperti pulau tandus, Pulau Hormuz ternyata tidak tanpa penduduk. Lokasi ini telah ditinggali oleh komunitas Bandari dengan mayoritas warganya bekerja sebagai nelayan selama bertahun-tahun.

Baca Juga  Sisi Gelap Proyek Miliaran Penerangan Ruas Jalan Ir. Soekarno-Saumlaki. 

Kata bandari dalam bahasa Persia memiliki makna orang-orang pelabuhan. Konon, suku Bandari berasal dari percampuran antara beberapa bangsa yang pernah singgah di kawasan pesisir selatan Iran seperti bangsa Afrika, Arab, India dan Persia, dikutip dari
BBC
.

3. Tanah merah di Pulau Hormuz dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai bahan makanan

Pulau Hormuz dipenuhi oleh jumlah garam yang sangat banyak akibat adanya tumpukan garam yang telah terbentuk selama miliaran tahun silam. Tumpukan ini bisa diamati di area tanah bercorak merah, juga dikenal dengan istilah gelack.

Gelack digunakan oleh warga lokal sebagai tambahan dalam rempah-rempah kari serta soorakh atau saus merah yang dioleskan pada roti. Selain itu, sektor produksi keramik, kosmetika, maupun pakaian juga mengaplikasikan pigmen natural dari gelack ini, seperti yang diambil dari sumber tersebut.
BBC
.

4. Pulau Hormuz dulunya merupakan titik utama dalam perdagangan bagi orang-orang Arab.

Saat terjadinya pendudukan Persia oleh kaum Arab, hormuz sesungguhnya merupakan istilah untuk sebuah kota pelabuhan di tepi pantai selatan Iran. Kaum Arab menjadikan wilayah itu sebagai sentra perdagangan yang sukses mendominasi rute dagang antara India dan Cina pada masa ke-13.

Namun, perkembangan wilayah Hormuz mulai menarik perhatian kehadiran tentara negara-negara lain seperti Mongol dan Turki. Untuk melindungi usahanya, para pemimpin Arab pada masa tersebut memindahkan fokus perdagangan dari pantai Hormuz ke Pulau Hormuz yang damai saat itu disebut sebagai Jarun.

Pulau Hormuz tak cuma populer di antara masyarakat Arab namun juga bagi para eksplorator dari bagian dunia lainnya. Bahkan, pulau ini sempat dikunjungi sang penjelajah kondang Marco Polo hingga dua kali, sesuai yang dinyatakan dalam sumber tersebut Britannica
.

Baca Juga  5 Gol Terbaik Sepanjang Masa Pertandingan AC Milan vs Bologna Hingga Mei 2025

5. Sementara itu, orang Portugal pernah mengendalikan Pulau Hormuz dan membangun benteng pertahanan di sana.

Setelah dikendalikan oleh orang Arab, Portugis pun mulai menginvasi wilayah di sekitar Pulau Hormuz pada tahun 1507. Agar dapat menjaga pulau itu dari ancaman penyerang, mereka membangun sebuah benteng batu merah yang disebut Benteng Our Lady of Conception atau Kastil Portugal.

Lebih dari satu abad lamanya, orang Portugal memegang kendali terhadap rute perdagangan India sementara juga menjamin keamanan Pulau Hormuz. Dominasi yang selama ini dimiliki oleh orang Portugal pada Pulau Hormuz akhirnya berhenti pada tahun 1622 ketika tentara gabungan Inggris dan Safawiyah Persia sukses merebut wilayah tersebut, seperti yang disebutkan dalam sumber tersebut.
World Atlas
.

Setelah Shah Abbas I dari Dinasti Safawiyah Persia menjadikan Bandar Abbas sebagai sentra perdagangan utama, Pulau Hormuz tak lagi berperan penting dalam aktivitas ekonomi regional. Dari titik tersebut, pulau ini kurang mendapat investasi infrastruktur dan kini terutama dikenal sebagai tempat kediaman masyarakat nelayan lokal saja.