
Banda: Mutiara Sejarah di Tengah Lautan Biru
Ambontoday.com – Banda bukan sekadar pulau, ia adalah bait panjang dari kitab sejarah Indonesia. Di antara riak ombak Laut Banda yang biru bagai kaca, tersimpan kisah pahit dan manis tentang perjuangan, tentang darah yang tumpah demi harga diri, dan tentang rempah yang pernah mengundang dunia datang berbondong-bondong.
Di sudut-sudutnya, berdiri kokoh benteng peninggalan penjajah—Fort Belgica, Fort Nassau, dan reruntuhan yang masih bercerita meski tubuhnya digerus waktu. Dinding-dinding batu itu menyimpan bisikan masa silam: derap sepatu serdadu Belanda, ratapan rakyat Banda yang dipaksa menyerahkan pala, dan desah perlawanan yang tak pernah padam.
Tak jauh dari sana, berdiri pula Istana Mini Presiden, sebuah rumah sederhana namun penuh wibawa. Di tempat inilah Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, hingga Sutan Syahrir pernah diasingkan. Sejarah mencatat, meski mereka dirantai jarak, pikiran mereka bebas melintasi samudera, menyalakan obor kemerdekaan yang kelak menerangi Nusantara.
Banda juga menyimpan rumah peninggalan Bung Hatta, wakil presiden pertama Republik ini. Rumah itu berdiri teduh, menjadi pengingat bahwa di pulau kecil inilah, pemimpin besar bangsa pernah menapakkan kakinya, menulis jejak yang tak terhapus waktu.
Di tengah keindahan alam, berdiri pula gereja tua peninggalan penjajah, bangunan dengan arsitektur klasik Eropa yang menjadi saksi bisu percampuran budaya dan peradaban. Loncengnya yang dulu berdentang, kini bergema dalam senyap, membawa cerita tentang masa lalu yang getir sekaligus penuh makna.
Namun, di balik keelokan itu, Banda juga menyimpan luka. Pergi rantai—tempat yang kini menjadi saksi bisu penderitaan. Di sanalah masyarakat Banda pernah dipenjara, dirantai, dan dipaksa tunduk di bawah kuasa kolonial. Setiap jejak besi yang mengikat adalah ingatan pahit tentang penindasan, sekaligus tanda bahwa masyarakat Banda tidak pernah menyerah.
Hari ini, Banda hadir sebagai pertemuan indah antara sejarah dan keindahan. Sebagai pusaka bangsa, ia mengajarkan kita bahwa laut birunya bukan hanya panorama, melainkan samudera makna. Bahwa benteng-benteng tua bukan hanya batu, melainkan monumen keteguhan. Dan bahwa setiap butir pasir di pesisirnya adalah doa yang tak henti-henti dipanjatkan oleh leluhur untuk anak cucu di tanah air ini.
Banda adalah mutiara, cahaya kecil yang berkilau di Laut Banda, yang akan selalu menjadi bagian dari denyut nadi sejarah Indonesia.
Mahasiswa Tolak Pembangunan Cold Storage di Tanah Adat Banda, Diduga Milik Abdullah Tuasikal
Sejumlah mahasiswa Universitas Banda Naira (UBN) menggelar aksi demonstrasi di Parigi 2, Desa Nusantara RT 03, Jumat (19/9/2025). Aksi ini digelar sebagai bentuk penolakan terhadap pembangunan cold storage yang diduga milik Abdullah Tuasikal, mantan Bupati Maluku Tengah dua periode sekaligus mantan anggota DPR RI dari Partai NasDem.
Mahasiswa menilai, pembangunan tersebut berdiri di atas tanah adat masyarakat Banda, tepatnya di kawasan Batu Mina Keramat Boikerang—sebuah situs yang diyakini sakral dan menyimpan nilai sejarah serta spiritual bagi warga adat.
“Tanah ini bukan sekadar lahan kosong. Ia adalah warisan leluhur, bagian dari tradisi pembukaan kampung yang penuh makna. Pembangunan ini bukan hanya merusak situs keramat, tetapi juga mengancam identitas budaya kami,” tegas mahasiswa dalam orasinya.
Dua Tuntutan Utama
Dalam aksinya, mahasiswa menyampaikan dua tuntutan pokok:
1. Penghentian tanpa syarat pembangunan cold storage di atas tanah adat.
2. Penghormatan terhadap nilai-nilai adat, dengan meminta semua pihak, termasuk Abdullah Tuasikal, menghargai hak tanah adat serta situs budaya masyarakat Banda.
Aliansi Mahasiswa UBN menegaskan, perjuangan mereka tidak akan berhenti di jalanan. Mereka berkomitmen mengawal isu ini hingga pemerintah daerah maupun provinsi turun tangan menyelesaikan persoalan.
“Kami tidak akan mundur. Keadilan adat harus ditegakkan, dan hak-hak kami tidak boleh diinjak oleh kepentingan segelintir orang,” sambung pernyataan sikap mahasiswa.
Pulau Bersejarah yang Terancam
Pulau Banda, yang sejak lama dikenal sebagai pulau bersejarah dengan peninggalan kolonial dan tradisi maritim yang kuat, kembali berada di persimpangan. Bagi masyarakat adat, tanah bukan sekadar aset, melainkan identitas yang menautkan masa lalu, kini, dan masa depan.
Hingga berita ini diturunkan, Abdullah Tuasikal maupun pihak terkait lainnya belum memberikan tanggapan resmi atas tuntutan mahasiswa tersebut.
[Nar’Mar]
.






