
Basir Solissa; Reses, Ruang Menyerap Aspirasi, Menyulam Harapan Warga
Namrole, Ambontoday.com – Sebagai anggota DPRD yang dipercaya masyarakat, Basir Solissa memanfaatkan masa reses untuk memastikan setiap jengkal harapan warga Buru Selatan menemukan jalannya.
Kehadiran Basir Solissa di lapangan bukan sekadar tugas, melainkan komitmen untuk menjembatani suara rakyat menuju keputusan anggaran yang berpihak.
Di sela denyut keseharian masyarakat, momentum reses anggota DPRD kembali menjadi jembatan antara suara rakyat dan kewajiban wakilnya.
Melalui kegiatan ini, jelasnya, aspirasi yang kerap terpendam diberi ruang untuk mengalir, ditampung, dan diterjemahkan menjadi kebutuhan nyata di lapangan.
Dikatakan, warga yang telah menerima manfaat dari anggaran reses tahun ini menyampaikan rasa syukur mereka.
Sebut Basir Solissa, bantuan yang disalurkan—mulai dari dukungan sarana publik hingga kebutuhan kelompok masyarakat—menjadi embun pagi yang menyejukkan langkah mereka yang selama ini menunggu perhatian pemerintah.
Sementara itu, bagi masyarakat yang belum berkesempatan mendapatkan bantuan pada tahun ini, harapan tetap disulam dengan sabar.
Sebab mekanisme reses berjalan dalam siklus tahunan, dan setiap tahun membuka peluang baru bagi aspirasi yang belum tersentuh.
“Yang belum kebagian, mohon bersabar untuk tahun-tahun berikutnya,” demikian dikatakan Solissa.
Reses sendiri, dalam praktik legislasi di Indonesia, bukan sekadar ritual politik. Ia adalah amanat undang-undang yang memberi kesempatan bagi anggota DPRD turun langsung ke daerah pemilihannya, mendengar suara warga, merumuskan solusi, dan menyampaikan kebutuhan itu ke dalam pembahasan anggaran maupun kebijakan daerah.
Basir Solissa menjelaskan, anggaran reses dirancang agar setiap persoalan masyarakat—mulai dari infrastruktur dasar, ekonomi kerakyatan, hingga fasilitas komunal—mendapat jalan keluar yang lebih terukur.

Bagi banyak daerah, manfaat reses telah terbukti:
• Mempercepat identifikasi masalah riil di lapangan yang kadang luput dari laporan formal birokrasi.
• Menguatkan kehadiran negara di tengah masyarakat, karena wakil rakyat hadir dan mendengar langsung.
• Mendorong pembangunan yang lebih tepat sasaran, sebab anggaran diarahkan berdasarkan kebutuhan aktual.
• Meningkatkan keadilan distribusi program, karena aspirasi dari setiap dusun, desa, hingga kampung diberi ruang yang sama.
Seiring waktu, masyarakat berharap reses bukan hanya menjadi acara seremonial, melainkan ruang dialog yang hidup—tempat di mana suara rakyat menemukan jalannya, dan keadilan anggaran dibagikan setara.
Harapan-harapan itu kini bertumbuh, menunggu untuk dituai pada tahun anggaran berikutnya.
[Nar’Mar]





