Belajar Tambahan Di Atas Kapal Feri Karam, Pelajar Di Tanimbar Tertangkap

Spread the love

Saumlaki, ambontoday.com – Pelajar yang terdiri dari siswa dan siswi Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), dipergoki berpacaran di atas Kapal Feri karam yang berada di lokasi pantai Pasar Tradisional Tangguh Omele, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT). Para pelajar tersebut yang masih menggunakan pakaian seragam lengkap, didapati sedang bermesraan berpasang-pasangan dan dipergoki oleh Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) KKT yang bertugas dan berpatroli di sekitar lokasi areal pasar Senin, (23/8).

Anggota Satpol PP kemudian menghampiri dan menangkap para pelajar tersebut yang berjumlah sebanyak 16 orang dan kemudian mengantar ke pos pengamanan wilayah Pasar Tradisional Tangguh Omele untuk dilakukan pembinaan.

“Mereka kedapatan berkumpul dan pacaran di atas kapal Feri rusak dan masih menggunakan pakaian seragam, layaknya ke sekolah. Anggota saya memergoki mereka dan membawa mereka untuk kami lakukan interogasi dan pembinaan,” ucap Kepala Pasar Tangguh Omele, Marvin Fenanlampir.

Setelah dilakukan interogasi terhadap ke 16 pelajar tersebut, ternyata mereka berasal dari beberapa sekolah yang berada di wilayah Kecamatan Tanimbar Selatan (Tansel), yakni sebanyak 14 orang pelajar dari SMK Negeri 6 Tansel, 1 orang dari SMK Negeri 2 Tansel, dan 1 pelajar dari SMA Negeri 1 Tansel.

“Tempat tinggal mereka juga berbeda-beda, ada yang dari Desa Sifnana, Lauran, Olilit Timur, Bomaki, Lorulun, dan Lermatan. Ada juga yang bertempat tinggal di daerah Batalyon dan wilayah Pasar Omele,” jelas Fenanlampir.

Saat melakukan pembinaan terhadap 16 pelajar tersebut, Fenanlampir juga menegaskan bahwa sebagai pelajar tidak sepantasnya berada pada tempat-tempat yang sepi dan tidak layak, apalagi masih dengan menggunakan pakaian seragam lengkap dan bahkan berpacaran di tempat yang tidak semestinya.

Baca Juga  APH Segera Periksa Petrus Fatlolon, Ini Daftar "Dosa" Yang Ditinggalkan

Lanjutnya, di masa Pandemi yang masih saja melanda negeri ini, terutama di KKT, membuat kegiatan persekolahan banyak yang diliburkan dan proses pembelajaran dearing. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh segelintir pelajar yang tetap mengunjungi sekolahnya walaupun hanya sebentar, dan setelah itu tidak serta-merta pulang menuju rumah namun masih sengaja berkeliaran memanfaatkan waktu sisa yang ada. Padahal menurutnya, setiap orang tua pastinya percaya bahwa anaknya hanya ke sekolah dan ternyata tidak seperti itu.

“Orang tua kalian pastinya percaya bahwa kalian hanya ke sekolah dan setelah itu pulang ke rumah. Tindakan kalian ini sangat memalukan jika diketahui orang tua dan guru kalian,” pesan Fenanlampir.

Dirinya juga berharap kepada para orang tua dan guru agar dapat memberikan pembinaan kepada anaknya maupun siswa agar perilaku dan moral mereka tidak seperti berandalan. Selain pembinaan, diharapkan juga agar disertai dengan pengawasan agar tidak terjadi hal-hal yang nantinya dapat merugikan anak, orang tua, maupun mencemari nama sekolah sebagai tempat menuntut ilmu.

Selain pengarahan yang dilakukan Fenanlampir, ada juga pesan-pesan moral yang turut diberikan oleh Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) setempat. Mereka menyampaikan, dengan tindakan yang dilakukan para pelajar ini, bisa saja dapat memicu situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) maupun kejadian yang tidak terduga lainnya. Olehnya itu, pembinaan selanjutnya bagi para pelajar tersebut akan dilanjutkan ke tahap desa masing-masing, agar para orang tua juga dapat mengetahui tindakan tak pantas dan memalukan yang dilakukan oleh anak-anak mereka.

“Tahukah kalian bahwa tindakan ini dapat mengganggu situasi kamtibmas? Kami akan meneruskan hal ini sampai tingkat desa dan sekolah asal kalian agar orang tua maupun guru kalian juga tahu akan hal ini sehingga perbuatan kalian tidak terulang kembali kedepannya,” pesan Bhabinkamtibmas dan Babinsa. (AT/tim)