Jembatan Iman Wowonda Dibangun Saat Warga Hampir Kehilangan Harapan
Jembatan itu sederhana, terbuat dari papan-papan kelapa yang telah lama menua. Permukaannya licin, rangkanya rapuh, dan setiap langkah di atasnya seolah menuntut keberanian tersendiri. Saat hujan turun, jembatan itu berubah menjadi lintasan yang menguji nyali, terutama bagi anak-anak dan para lansia.
Ironi terasa semakin kuat karena di dekat jembatan itu berdiri patung Santo Michael, simbol perlindungan dan keberanian iman umat. Di bawah simbol harapan itu, justru tersimpan kecemasan harian warga yang harus melintas tanpa jaminan keselamatan yang layak. Bertahun-tahun kondisi ini menjadi keluhan yang berulang.
Setiap musim hujan, cerita tentang terpeleset dan jatuh kembali terdengar. Orang tua menggenggam tangan anak-anak mereka lebih erat, umat saling mengingatkan untuk berhati-hati, dan langkah-langkah kecil di atas jembatan itu selalu disertai doa agar tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk. Kondisi tersebut bukan rahasia.
Jembatan itu berada di jalur utama desa, dilewati setiap hari, terlihat jelas oleh siapa pun. Situasi ini memberi gambaran tentang bagaimana sebuah persoalan keselamatan publik bisa bertahan lama tanpa perubahan berarti, meski dampaknya dirasakan langsung oleh warga. Di tengah rasa lelah menunggu, muncul sosok yang tidak memiliki kewenangan formal di desa.
Namanya Moses Maresyembun, S. Ap, seorang Aparatur Sipil Negara. Ia bukan kepala desa, bukan pengelola anggaran desa, dan tidak memiliki kewajiban administratif untuk memperbaiki jembatan itu.
Namun setiap kali melintas, Moses menyaksikan sendiri kegelisahan warga. Ia mendengar cerita tentang mereka yang jatuh, tentang ibu-ibu yang menahan napas saat melangkah, dan tentang para lansia yang tetap harus lewat karena tidak ada jalur alternatif. Dari pengalaman-pengalaman itulah tumbuh kegelisahan yang sulit diabaikan.
Alih-alih memperpanjang keluhan, Moses memilih bergerak dengan caranya sendiri. Ia tidak membuat pernyataan keras, tidak menunjuk siapa pun sebagai pihak yang bersalah. Ia mendatangi Gereja Santa Maria Imakulata Wowonda, menyampaikan kegelisahan itu secara terbuka, dan mengajak mencari jalan keluar bersama.
Respons datang dari Pastor Paroki Santa Maria Imakulata Wowonda, RD Sebastianus Takndare, Pastor Sipe Matruty, Pastor Alo Matruti dan Pastor Jemris Rangkoli, serta para donatur Desa Wowonda. Mereka melihat persoalan ini bukan sebagai proyek, melainkan sebagai panggilan kemanusiaan untuk memastikan umat dapat berjalan dengan aman. Proses pembangunan jembatan itu berjalan dengan semangat kebersamaan.
Tidak ada seremoni besar, tidak ada janji-janji, hanya kerja nyata yang perlahan mengubah wajah jalur yang selama ini menimbulkan rasa takut. Bagi warga, perubahan itu terasa sangat berarti. Saat papan-papan baru mulai terpasang, reaksi warga beragam.
Ada senyum lega, ada juga air mata yang jatuh diam-diam. Lega karena akhirnya bisa melintas tanpa rasa cemas, dan perih karena jembatan sepenting itu baru terwujud setelah bergantung pada inisiatif pribadi dan solidaritas umat. Dukungan kepada Moses tumbuh secara alami.
Bukan karena ia mencari pengakuan, melainkan karena tindakannya menyentuh kebutuhan paling dasar warga: keselamatan. Kehadirannya memperlihatkan bahwa kepedulian sosial bisa lahir dari siapa saja, bahkan dari mereka yang tidak memegang kewenangan formal. Kisah ini bukan sekadar tentang sebuah jembatan.
Ini adalah potret bagaimana kepekaan terhadap kebutuhan publik dapat memudar jika tidak terus dirawat, dan bagaimana inisiatif personal dapat menjadi pengikat kembali harapan warga. Kini, jembatan itu dapat dilewati dengan lebih aman. Anak-anak tidak lagi ditarik dengan cemas, dan para orang tua tidak harus berhenti lama sebelum melangkah.
Namun ingatan tentang rasa takut itu masih tersisa, menjadi pengingat akan masa ketika keselamatan harus menunggu terlalu lama. Di bawah patung Santo Michael, umat kini berjalan lebih tenang. Namun di antara langkah-langkah itu, tersimpan refleksi sunyi tentang pentingnya kehadiran dan kepedulian bagi kehidupan bersama.
Jika kisah ini membuat pembaca terdiam, itu karena peristiwa ini benar-benar terjadi. Di Wowonda, sebuah jembatan di jalan doa pernah dibiarkan rapuh terlalu lama. Dan ketika harapan hampir padam, seorang anak negeri bernama Moses Maresyembun memilih untuk tidak menutup mata. (AT/NFB)
π Anda harus masuk (login) terlebih dahulu untuk ikut berdiskusi.
π¬ 0 Komentar
π Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
HUT Kota Ambon ke-451 dan HUT GPM ke-91 Jadi Momentum Pererat Kebersamaan
1 day ago
DPRD Maluku Dorong Cinnabar Jadi Solusi Ekonomi Masyarakat
1 week ago
Tragedi Kembali Terulang di Cinnabar, Latukaisupy Minta Warga Taati Aturan
1 week ago
Pemkot Ambon Perkuat Kapasitas OPD, Wali Kota Tegaskan Pelayanan Publik Bebas Diskriminasi
1 month agoRekomendasi Untuk Anda
PKL WONRELI KECEWA DENGAN PEMERINTAH KECAMATAN SOAL RELOKASI YANG TEBANG PILIH
Negeri Laha Harumkan Kota Ambon dengan Raihan Juara III Desa Wisata Berkembang di ADWI 2024
Bupati Safitri Buka PD- PKNU dan Konfercab PCNU Bursel
Jubir Covid RST Angkat Bicara Soal pasien Covid-19
Pemkot β PT. Bank Mandiri Teken MoU, Fasilitasi Kartu Kredit Pemerintah