Warga Meninggal Tak Tertolong, Pustu Wamkana Memprihatinkan, Tenaga Medis Hanya Bisa Pasrah
Said Sabi, Sabtu (19/7/2025), Markus mengungkapkan keprihatinannya di hadapan masyarakat dan wakil rakyat. Suaranya bergetar menahan emosi, ketika menyebut bahwa satu-satunya Puskesmas Pembantu (Pustu) di desanya hampir tak memiliki alat medis yang layak, bahkan obat-obatan pun harus menunggu dikirim dari Namrole. > βKami warga di sini sudah lama hidup dalam ketidakpastian pelayanan kesehatan.
Saat musim timur datang dan jalan terputus, kami hanya bisa pasrah. Kalau sakit parah, tidak tahu lagi harus berharap kepada siapa,β kata Markus lirih. Keluhan ini bukan tanpa dasar.
Kondisi fisik bangunan Pustu Desa Wamkana benar-benar memperihatinkan. Terlihat jelas dari bagian atap yang lapuk, plafon yang hancur, dinding dan tiang yang sudah menghitam karena lembab, serta fasilitas dalam ruangan yang tidak menunjang pelayanan kesehatan dasar. Di tengah hujan pun, warga tetap berkerumun karena tak ada alternatif tempat berteduh yang lebih layak.
Foto yang diambil saat kunjungan menunjukkan langsung betapa Pustu ini jauh dari standar kelayakan pelayanan kesehatan. Tak ada ruang tunggu yang layak, tidak ada tanda-tanda keberadaan peralatan medis dasar, dan tenaga medis pun bekerja dalam keterbatasan luar biasa. Jeli Lesnussa, satu-satunya tenaga kesehatan yang bertugas di Pustu ini, membenarkan kondisi tersebut. > βKadang pasien datang dalam kondisi gawat, tapi kami harus menunggu obat dari Namrole.
Padahal Pustu ini melayani dua desa dan satu desa persiapan,β jelas Jeli, menundukkan wajahnya penuh beban. Melihat langsung kondisi itu, Hi. Said Sabi yang juga anggota Komisi C DPRD dari Fraksi PDI-P menyatakan bahwa apa yang terjadi di Wamkana adalah potret kelalaian yang tak boleh dibiarkan. > βIni sangat ironi.
Fasilitas ini seharusnya menjadi tumpuan pertama masyarakat yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa. Tapi kondisinya sangat tidak manusiawi. Saya akan segera menyampaikan ini ke Pemerintah Daerah dan Dinas Kesehatan,β tegasnya.
Situasi ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Buru Selatan. Jika nyawa warga terus dipertaruhkan akibat fasilitas kesehatan yang buruk, maka kehadiran negara di tengah masyarakat patut dipertanyakan. Pustu bukan sekadar bangunan, tapi garis pertahanan pertama bagi kehidupan.
Sudah saatnya Pemerintah bergerak cepat. Jangan sampai ada lagi Markus lain yang berdiri di depan gedung lapuk, menatap kehilangan tanpa daya, hanya karena sistem gagal memberi mereka hak dasar: hidup dan sehat. (Biro BurSel) .
π Anda harus masuk (login) terlebih dahulu untuk ikut berdiskusi.
π¬ 0 Komentar
π Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
Semarak HUT ke-81 RI, Maxim Gratiskan Perjalanan dengan 81 Mobil Berdekorasi Merah Putih di 19 Kota Indonesia
3 weeks ago
Dugaan Galian C Ilegal Mengarah ke Proyek RSUD Salim Alkatiri, LP-KPK Desak Polda-Kejati Usut Rantai Material
3 weeks ago
Antisipasi El Nino dan Kemarau Panjang Distan Maluku Fokus Proyek Irpom
3 weeks ago
Sambut HUT Ke-81 RI, MTs Ambon Gelar Beragam Lomba, Dorong Siswa Hadapi Tantangan Era Digital
4 weeks agoRekomendasi Untuk Anda
Hujan Deras Tak Surutkan Khidmat Upacara HUT RI ke-80 di Buru Selatan
Rahmat Dasuki Bantah Tudingan Dugaan Penyelewengan Dana Hibah Rp4 Miliar, Persilakan APH Usut Tuntas
Kejagung Didesak Periksa Kontraktor Agus Thiodorus Terkait Pengrusakan Mangrove
Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku Sosialisasikan Konservasi Penyu dan Pelepasan Tukik di Ternate