
Juara pertama kategori putri menerima piala dan uang tunai Rp1 juta. Hal ini kemudian dipersoalkan di media sosial karena hadiah tersebut dinilai setara dengan hadiah lomba gerak jalan indah yang sifatnya hanya hiburan. “Seharusnya hadiahnya berbeda, karena lomba maraton ini masuk kategori olahraga, bahkan olahraga dunia, sementara gerak jalan indah hanya sebatas memeriahkan HUT RI,” tulis salah satu akun di grup media sosial.
Selain persoalan nilai hadiah, sejumlah peserta juga mengeluhkan keterlambatan pencairan uang hadiah. Zrilss, juara dua lomba maraton, menyampaikan kekecewaannya. “Ini sudah mau satu minggu hadiah belum juga cair. Katanya masih menunggu pencairan. Kalau mau buat lomba, hadiahnya harus sudah disiapkan di tempat agar peserta tidak menunggu lama,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Fitri Assel, salah satu pihak keluarga peserta. Ia menilai hadiah yang diberikan tidak sepadan dengan usaha dan perjuangan peserta yang harus menempuh jarak 10 kilometer. “Harusnya hargai tenaga, usaha, dan semangat anak-anak. Masa lari 10 km hadiahnya Rp1 juta saja?” tulisnya.
Di sisi lain, ada juga komentar warganet yang menilai seharusnya peserta tetap bersyukur karena lomba tersebut hanya sebatas memeriahkan HUT RI. “Kalau dapat piala dan uang Rp1 juta itu sudah bagus,” tulis seorang akun bernama Andika.
Hingga kini, panitia lomba maupun pihak pemerintah daerah belum memberikan penjelasan resmi terkait perbedaan hadiah dan keterlambatan pencairan tersebut. Masyarakat berharap ke depan penyelenggaraan lomba serupa dapat lebih profesional sehingga mampu menghargai perjuangan para peserta yang ikut serta.
[Nar’Mar]
—





















