Jeritan Guru dari Pegunungan Fena Fafan: Gaji Sulit Diakses, Hati Kian Terluka

Spread the love

Jeritan Guru dari Pegunungan Fena Fafan: Gaji Sulit Diakses, Hati Kian Terluka

AmbonToday.com – Buru Selatan.
Dari balik pegunungan Fenafafan yang sunyi, suara hati para guru menggema, menyampaikan keluh kesah mereka yang terpendam kepada Bupati Buru Selatan, Bapak La Hamidi, dan Ibu Kepala Badan Keuangan Daerah. Suara ini bukan sekadar protes, melainkan jeritan tulus dari para pendidik yang selama ini menjadi ujung tombak pendidikan di daerah terpencil.

Seorang guru yang enggan disebutkan namanya, mewakili rekan-rekannya, menyampaikan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam mengakses gaji akibat perubahan kebijakan penyaluran keuangan ke Bank Modern. Menurut mereka, keputusan ini tidak mempertimbangkan kondisi geografis serta keterbatasan akses perbankan di wilayah tugas mereka.

> “Kami yang bertugas jauh dari kota Namrole sangat resah. Biaya perjalanan, cuaca buruk, dan keterbatasan fasilitas Bank Modern membuat kami harus menempuh risiko besar hanya untuk mengambil hak kami,” tulis sang guru dalam pernyataan terbuka yang viral di media sosial.

Ia menambahkan, Bank Modern yang digunakan saat ini tidak memiliki fasilitas ATM Bersama, juga belum menyediakan layanan mobile banking. Padahal, Bank Maluku sebelumnya memungkinkan mereka mengambil gaji lewat aplikasi BRI-Mo tanpa harus keluar dari tempat tugas.

Ironisnya, keluhan ini tidak pernah sampai ke telinga para pemangku kebijakan karena, menurut sang guru, Dinas Pendidikan berada di pusat kota dan tidak merasakan langsung penderitaan yang dialami para guru di daerah pelosok.

“Dinas Pendidikan memang tidak komplen, karena mereka tinggal di dalam kota. Mereka bisa mengambil gaji kapan saja, bahkan di tengah cuaca buruk. Tapi kami harus melewati jalan darat yang rusak dan ombak laut yang membahayakan nyawa. Apakah Bapak/Ibu pernah memikirkan hal ini?” ungkapnya dengan getir.

Para guru pun berharap agar DPRD Buru Selatan turut bersuara, menjadi jembatan bagi kegelisahan mereka.

Baca Juga  Ketua MPI BurseL Sebut 100 Hari Kerja Bupati La Hamidi Hanya Kamuflase

> “Kami mohon, jangan hanya mementingkan kepentingan sepihak. Carilah solusi yang menguntungkan semua pihak. Kami tidak menuntut lebih, hanya ingin dipermudah dalam mengambil gaji kami.”

Pesan ini ditutup dengan harapan dan isyarat luka: sebuah permohonan sederhana, namun menggambarkan realita kompleks yang harus segera dijawab dengan kebijakan yang bijak.

[Nar’Mar]
.