Kemenperindag Analisis Dampak Keputusan Tarif Trump

Spread the love

Ambontoday.com, Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus melakukan perhitungan dampak kerugian yang disebabkan oleh kebijakan tersebut. tarif resiprokal Amerika Serikat bagi Indonesia. Tetapi pihak berwenang belum menentukan jumlah pasti dari dampak negatif itu, terutama pada bidang perdagangan internasional dan pengiriman barang keluar masuk negeri ini.

“Pastinya hal tersebut akan memiliki pengaruh. Namun, kami masih belum mengerti seberapa besar dampaknya. Untuk Indonesia, sesuai perhitungan kita, ini juga dapat mempengaruhi performa ekspor dan impor,” ungkap Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono ketika berbicara dengan wartawan di Jakarta pada hari Senin, 21 April 2025.

Menurut Djatmiko, akibat dari keputusan tariff oleh Trump akan mempengaruhi hasil ekspor dan impor dalam rentang yang tidak sama bagi setiap industri. Sampai saat ini, pihak pemerintahan terus melakukan perhitungan serta simulasi tentang pengaruh tersebut guna merencanakan masa depan perdagangan mereka lebih lanjut.

Menurut Djatmiko, langkah baru yang dilancarkan Trump ini diyakini bakal mengantarkan Amerika Serikat lebih jauh menuju posisi tertinggi dalam ekonomi global. “Pastinya hal tersebut akan memiliki dampak cukup besar pada sejumlah negara lainnya,” kata Djatmiko.

Trump telah menyatakan pemberian tariff balasan terhadap barang impor dari beberapa negara yang mencakup AS pada tanggal 2 April 2025. Tariff ini membuat Indonesia harus membayar tambahan sebesar 32%. Sementara itu, awalnya aturan tersebut dijadwalkan akan dilaksanakan per 9 April 2025. Tetapi Trump memutuskan untuk mendeferensinya dengan durasi penangguhan hingga 90 hari demi memberikan kesempatan bagi sebagian besar negara dalam proses negosiasi.

Tim delegasi masih melanjutkan pembicaraan mengenai tarif resiprokal sebesar 32% yang diberlakukan oleh Amerika Serikat untuk barang-barang dari Indonesia. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, kedua belah pihak telah menyetujui agar proses negosiasi ini diselesaikan dalam jangka waktu dua bulan.

Baca Juga  Usulan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional: Catatan Tepat dari Sejarawan UGM

Tim dari Washington DC melaporkan perkembangan negosiasi antara pemerintah Indonesia dan AS pada hari ini atau Kamis, 17 April 2025 sesuai waktu lokal. “Pihak Indonesia dan Amerika Serikat telah sepakati penyelesaian pembicaraan ini dalam rentang 60 hari,” kata Airlangga saat memberikan keterangan pers secara virtual pada Jumat pagi, 18 April 2025.

Airlangga, selaku ketua rombongan delegasi, menginformasikan kemajuan dalam proses negosiasinya. Ia ditemani oleh dua anggota tim lainnya yaitu Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono serta Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu. Dia menjelaskan bahwa baik pihak pemerintahan dari kedua belah pihak telah merancang dan menyetujui struktur dasar atau kerangka acuan untuk perjanjian kolaborasi ini.

Rangka kerjasama meliputi berbagai kesepakatan mitra. “Bentuk dari rangkaian perjanjian ini mencakup skop kolaborasi dalam bidang perdagangan dan investasi, hubungan strategis di sektor mineral vital, serta relevansi jalur masuk yang memiliki ketahanan kuat,” jelas Airlangga.

Hasil dari pertemuan-pertemuan sebelumnya akan diikuti oleh beberapa sesi lagi, mungkin sekali, dua kali, atau bahkan tiga kali. Para anggota tim delegasi menginginkan agar dalam waktu 60 hari, rangkaian itu dapat diteruskan ke dalam sebuah format perjanjian yang nantinya akan disepakati baik oleh pihak Indonesia maupun Amerika Serikat.


Ilona Esterina,
bersumbang dalam penyusunan artikel ini.