
Masyarakat Wetar Geruduk DPRD Maluku, Suarakan Luka Laut yang Tercemar Limbah Tambang
Ambontoday.com – Hari ini, Kamis siang yang terik di jantung kota Ambon, halaman DPRD Provinsi Maluku di puncak Karang Panjang Ambon menjadi panggung bagi suara-suara yang selama ini terpinggirkan.
Masyarakat dari Pulau Wetar, Kamis Maluku Barat Daya, Kamis 25 September 2025, datang membawa luka laut, resahnya nelayan, dan kegelisahan anak-anak pesisir. Mereka berkumpul bukan sekadar berteriak, melainkan menyerahkan nurani yang tergores akibat aktivitas tambang PT Batutua Tembaga Raya (BTR) yang dituding mencemari laut dan merenggut kehidupan.
Di antara spanduk dan poster tuntutan, suara para demonstran bergetar: mereka meminta agar lembaga wakil rakyat tak hanya menjadi penonton, tetapi turun tangan menyelamatkan masa depan lingkungan.
Tuntutan itu mengalir tegas:
Mereka mendesak DPRD segera membentuk tim investigasi independen, agar kebenaran tidak hanya bersandar pada laporan internal perusahaan. Mereka meminta agar sanksi tegas dijatuhkan jika terbukti kelalaian telah menjadi pangkal pencemaran. Lebih jauh, mereka menuntut pemulihan lingkungan secara menyeluruh—membersihkan air laut yang kini keruh kekuningan, menata kembali pesisir yang ternoda limbah tambang.
Namun suara ini bukan hanya tentang laut yang tercemar. Ada pekikan lain yang lebih lirih: hentikan intimidasi terhadap para pekerja. Jangan ada pemecatan hanya karena keberanian menyuarakan fakta.
Di bawah terik matahari, mereka pun mengingatkan DPRD untuk mengawal kompensasi yang dijanjikan. Bukan kompensasi basa-basi, melainkan yang adil dan menyentuh nelayan yang kehilangan mata pencaharian akibat rusaknya laut tempat mereka berlayar dan mencari makan.
Aksi hari ini juga menuntut agar DPRD Provinsi Maluku segera menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas ESDM, Lingkungan Hidup, Perikanan, dan pihak perusahaan, untuk membicarakan insiden tongkang yang patah di akhir Agustus lalu—sebuah peristiwa yang dianggap sebagai titik awal tercemarnya laut di sekitar dermaga Wetar.
Suara rakyat Wetar yang menggetarkan gedung DPRD ini bukan sekadar keluhan. Ia adalah peringatan, sebuah elegi dari laut yang sekarat, dan doa dari nelayan yang kehilangan harapan. Kini, bola ada di tangan DPRD Provinsi Maluku: akankah mereka berdiri bersama rakyat dan lautnya, atau kembali hanyut dalam diam yang menyesakkan?
[Nar’Mar]
—


















