
Oki Lama Diguncang “Politik Busuk”, IMOLKA Desak Bupati La Hamidi Bertindak
Ambontoday.com – Berhadapan dengan Pulau Oki yang elok, tempat di mana masyarakatnya hidup dengan jiwa humanis, ramah terhadap siapa saja. Namun, jangan salah, di balik keramahan itu mereka keras dalam pendirian—setegar musim timur yang kerap membawa banjir dan longsor.
Kini, ketenangan itu terusik. Badai politik busuk berhembus dari arah Pemerintah Kabupaten Buru Selatan, ketika Kabag Pemerintahan diduga sembrono dalam mengambil keputusan pergantian Penjabat (PJ) Desa Oki Lama. Keputusan sepihak itu tak ubahnya belati yang mengiris pelan persatuan, memantik api kegelisahan di hati masyarakat.
Ikatan Mahasiswa Oki Lama Kota Ambon (IMOLKA) menyatakan sikap keras terhadap langkah yang dianggap sarat kepentingan tersembunyi ini. Ketua Umum IMOLKA, Ilham Wance, menegaskan, keputusan yang jauh dari asas musyawarah hanya akan memperdalam jurang perpecahan di tengah masyarakat.
“Kami melihat adanya aroma politik kotor yang sengaja disusupkan dalam keputusan ini. Oki Lama bukan tanah tanpa tuan. Ada aturan adat, ada sejarah kepemimpinan yang mesti dihormati. Jika ini diabaikan, maka jelas yang dikorbankan adalah persatuan masyarakat,” ujarnya penuh tekanan.
IMOLKA mendesak dengan hormat kepada Bupati Buru Selatan, La Hamidi, agar tidak menutup mata. Suara mahasiswa adalah cerminan keresahan rakyat. Jika Bupati membiarkan keputusan sepihak ini berjalan, maka sejarah akan mencatat dirinya sebagai pemimpin yang membiarkan benih konflik tumbuh di tanah Oki Lama.
Bupati diminta segera mengevaluasi kinerja Kabag Pemerintahan yang dinilai gegabah, agar tidak ada lagi kebijakan yang lahir dari ruang gelap penuh intrik. Sebab, Oki Lama bukan sekadar desa—ia adalah warisan leluhur, rumah persaudaraan, dan benteng adat yang tidak boleh runtuh karena permainan politik murahan.
IMOLKA menegaskan, mereka akan terus bersuara lantang, bahkan bila perlu mengangkat persoalan ini ke tingkat yang lebih tinggi. Karena bagi mereka, persatuan dan keadilan adalah harga mati, bukan komoditas politik yang bisa diperdagangkan.
[Nar’Mar]
.





















