Persaingan Sengit Kecerdasan Buatan: OpenAI vs DeepSeek vs Manus vs MetaAI

Spread the love



Ambontoday.com


,


Jakarta


– Belakangan ini, dunia

kecerdasan buatan

AI semakin populer karena adanya kompetisi sengit di antara perusahaan-perusahaan raksasa teknologi.

Beberapa nama seperti OpenAI, Meta, DeepSeek, termasuk pendatang baru seperti Manus, bersaing untuk menciptakan model kecerdasan buatan (AI) yang paling maju serta dapat dijangkau dengan mudah. Setiap perusahaan memiliki strategi uniknya masing-masing; ada yang menggunakan metode tertutup dan eksklusif, sementara beberapa lainnya lebih memilih pendekatan terbuka sehingga para pembuat aplikasi bisa menyesuaikan kode tersebut sesuai kebutuhan mereka.

Namun, persaingan ini tidak melibatkan hanya perusahaan saja. Berbagai negara juga semakin serius berpartisipasi dalam merancang strategi pengembangan kecerdasan buatan (AI), mengingat teknologi tersebut kini dipandang sebagai elemen vital bagi aspek-aspek ekonomi, keamanan, serta status mereka di arena internasional. Baik Amerika Serikat, Tiongkok, Inggris, maupun Uni Emirat Arab memiliki kebijakan tersendiri agar bisa bertahan dalam lomba ini.

Keempat pemain utama dalam tahap terkini dari kompetisi ini adalah OpenAI, DeepSeek, Manus, dan Meta AI. Setiap satu memiliki strategi dan tujuan masing-masing, tetapi semua mencerminkan jalur baru untuk kemajuan teknologi AI yang lebih transparan, dinamis, dan bersifat internasional.


OpenAI

OpenAI adalah perusahaan di belakang ChatGPT yang sudah lama dikenal sebagai ikon dari teknologi AI generatif yang maju. Sebagaimana dilansir

SCMP

, ketergantungan pada model
closed-source
Mulai diragukan, terutama oleh pelanggan utama yang cemas tentang kontrol serta keselamatan datanya.

Dalam menghadapi persaingan ketat dari penyedia solusi dengan pendekatan terbuka, dan juga hadirnya kritik tajam dari pihak-pihak seperti Elon Musk, OpenAI saat ini mulai merambah ke arah pembangunan model yang lebih dapat dijangkau oleh masyarakat umum. Ini merupakan pertanda adanya penyesuaian strategis penting, sambil menegaskan bahwa tidak peduli betapa besar suatu entitas, mereka tetap dituntut untuk berkembang sesuai dengan dinamika lingkungan kompetisi yang semakin intensif.

Baca Juga  KLH: Rugi Ekonomi karena Kebakaran Hutan Capai Rp18 Triliun


DeepSeek

Dari Cina, DeepSeek berkembang menjadi pesaing yang semakin diakui.
Start-up
Ini mencengangkan industri di awal tahun 2025 melalui perilisan R1, yaitu varian modelnya.
open-source
yang mengherankan menyamai atau justru melebihi sejumlah model unggulan dari OpenAI dalam berbagai aspek pengukuran.

DeepSeek tidak hanya sampai di situ, tetapi juga baru saja meluncurkan versinya yang paling mutakhir yakni DeepSeek-V3-0324. Versi ini mengklaim telah mendapatkan peningkatan signifikan pada aspek pemecahan masalah dan pembentukan kode dibandingkan sebelumnya. Tidak hanya itu, DeepSeek juga unggul karena tingkat keterjangkauan untuk proses latihannya cukup rendah, membuat produk ini menjadi opsi yang sangat diminati oleh kalangan internasional.

Meski demikian, menurut
Forbes
DeepSeek juga mendapat penolakan dari segi politik, khususnya di Amerika Serikat. Berbagai badan federal telah menetapkan batasan dalam penggunaannya akibat khawatir akan masalah keamanan, sementara proposal undang-undang yang bertujuan untuk mencegah pemakaian DeepSeek pada peralatan milik pemerintah sedang dipertimbangkan oleh Kongres.


Manus

Tak kalah mengesankan, Tiongkok meluncurkan Manus pada Maret 2025 yang menjadi sorotan baru mereka. Berbeda dengan sebelumnya,
chatbot
Biasanya, Manus digambarkan sebagai agen AI independen, yaitu sebuah sistem yang mampu membuat keputusan serta melaksanakan tugas dengan bebas tanpa perlu dipandu secara kontinu.

Aplikasi Manus dikembangkan oleh Beijing Butterfly Effect Technology Ltd dan bekerja sama dengan Alibaba menggunakan model Qwen. Rilis perdana dilaksanakan dalam skala terbatas dan bersifat eksklusif hanya untuk undangan tertentu, tetapi respon positif dari platform-media sosial di China mengindikasikan adanya peluang signifikan bagi perkembangannya.

Menggunakan pendekatan otonomi, Manus menghidupkan kembali diskusi seputar tercapainya AGI (
Artificial General Intelligence
Beberapa orang mengantisipasi bahwa AGI tidak hanya sebatas konsep masa depan saja, tetapi mungkin menjadi kenyataan dalam jangka pendek.

Baca Juga  Infinix Siap Rilis Laptop XBOOK B15 Minggu Depan


Meta AI

Sementara itu, Meta sebagai induk perusahaan Facebook mengalami gejolak internal di divisi riset AI mereka, Fundamental AI Research (FAIR). Dulu menjadi jantung inovasi AI terbuka, FAIR kini kalah pamor oleh tim GenAI yang lebih fokus pada produk komersial, seperti seri Llama.

Dikutip dari

Fortune

, pengenalan Llama 4 malah dijalankan oleh tim GenAI dan bukan FAIR. Ini menimbulkan ketidakpuasan beberapa peneliti dari FAIR, termasuk Joelle Pineau, mantan pemimpin laboratorium itu. Kini FAIR dituding mengalami hilang arah, walaupun para senior seperti Yann LeCun mendeskripsikan hal ini sebagai tahap regenerasi dengan fokus baru pada penelitian jangka panjang.

Walaupun Meta berniat menanamkan investasi sebesar hingga $65 miliar dalam bidang AI pada tahun ini, tetapi ada keprihatinan yang timbul tentang penelitian dengan cakupan luas mulai dilupakan demi memenuhi permintaan pasar.

Kompetisi dalam teknologi AI sekarang tidak sekadar soal kecepatannya saja, tetapi juga tentang bagaimana menggabungkan inovasi, efisiensi, serta mendapatkan trust dari masyarakat. Berbekal strategi yang bervariasi, banyak perusahaan AI bersaing untuk membuktikan bahwa mereka memiliki visi masa depan.
AI
akan diciptakan melalui teknologi dan strategi.


Ni Made Sukmasari

berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini.