
dilansir dari Pikiran rakyat jabar, Pada hari Senin, tanggal 12 Mei 2025, suatu bencana menimpa Indonesia akibat adanya ledakan bom kadaluwarsa di daerah Garut, Jawa Barat. Insiden mengerikan itu mengambil nyawa Kolonel Cpl Antonius Hermawan, seorang perwira bertugas dalam TNI Angkatan Darat. Sebelum kejadian naas tersebut terjadi, Kolonel Antonius telah membuat postingan media sosial yang mencerminkan pemikiran-pemikirannya tentang kematian, sebagai semacam firasat akan nasibnya sendiri yang tidak bisa ia hindari.
Kolonel Antonius Hermawan Tewas Akibat Ledakan di Garut
Insiden tragis ini dimulai dengan proses penjemuran amunisi bekas milik tentara di wilayah Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut. Meskipun ledakan awal pada tahap penghancanan berlangsung tanpa hambatan, itu bukanlah akhir dari musibah. Masyarakat lokal, sering kali mendekati area tersebut mencari pecahan logam peluru, gagal memahami bahaya potensial dari amunisi tak meledak yang tersisa.
Saat mereka mendekati tempat letusan pertama untuk mengumpulkan kulit bomba bernilai tinggi, tiba-tiba meledak lagi suatu hal yang jauh lebih dahsyat. Kejadian tersebut menewaskan 13 orang; di antaranya ada empat personel militer serta sembilan penduduk biasa yang tak sadar akan ancaman itu. Sampai sekarang, alasan dari ledakan kedua sedang ditelaah oleh otoritas setempat.
Kejutan Kematian serta Ingatan tentang Kolonel Antonius Hermawan
Kolonel Antonius Hermawan bertindak sebagai Kepala Gudang Pusat Amunisi 3 di Pusat Peralatan TNI AD. Dia telah mengemban tanggung jawab ini hanya dalam waktu satu tahun saja, sesaat setelah masa jabatannya sebagai Pangdam XIV/Pattimura. Sepanjang karir militernya, dia terkenal karena dedikasinya yang tinggi kepada pekerjaan negara. Selain itu, ia juga digambarkan memiliki ikatan kuat dengan anggota keluarga sendiri serta kerap kali memposting foto kenangan pribadi saat cuti bersama sang istri dan buah hatinya lewat media sosial Instagram-nya.
Satu postingan terkini oleh Kolonel Antonius mengungkap kisah-kisah masa tugasnya saat menjabat sebagai Pangdam XIV/Pattimura. Gambar-gambar tersebut ditambahkan dengan latar musik lembut, menciptakan kesan kuat akan pengabdian dalam setiap langkah karirnya. Tidak berhenti di situ, dia pun menceritakan petualangannya bersama keluarganya di Pulau Banda Neira, tempat yang kerap dikaitkan dengan nasihat inspiratif Sutan Syahrir: “Jangan meninggal dunia tanpa berkunjung ke Banda Neira.” Postingan ini menjadikan cerita-cerita pribadi tersebut sebagai kenangan akhir sebelum insiden tragis yang merenggut nyawa sang kolonel.
Penyelidikan dan Upaya Penanggulangan
Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama petugas terkait sedang mengerjakan investigasi komprehensif guna mencari tahu pemicu tepat dari letusan kedua yang berujung pada korbannya. Sesuai penuturan Kepala Badan Informasi Militer Angkatan Darat, Brigadir Jenderal Wahyu Yudhayana, regu perencanaan bahan peledak sudah secara cermat melihat area tersebut sebelum diumumkan sebagai zona bebas risiko untuk penghancanan. Tetapi, letusan hebat kemudiannya membawa segudang pertanyaan.
Di samping itu, petugas saat ini tengah mengusahakan penataan area letusan agar dipastikan tak ada lagi materi peledak yang belum aman. Tahap tersebut mencakup kerjasama antara beberapa kelompok demi menjaga keselamatan warga di lingkungan setempat.
Tanggapan dan Pemberian Dukungan oleh Publik
Insiden meledak ini mendapat sorotan besar dari publik Indonesia. Para keluarga para korban, khususnya mereka yang merupakan bagian dari komunitas sipil, sedang menantikan tahap autopsi di RSUD Pameungpeuk. Sebagian dari mereka sudah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Di samping itu, peristiwa ini pun menimbulkan debat panas di bermacam platform media sosial serta grup WhatsApp di wilayah Garut Selatan. Di sinilah warga dan otoritas setempat berupaya keras untuk menyelidiki lebih jauh akar dari ledakan tersebut. Insiden tragis ini sekaligus mengajarkan kepada kita semua betapa vitalnya sikap waspada dan menjaga keselamatan saat melaksanakan aktivitas yang memiliki potensi bahaya, layaknya proses demobilisasi senjata.
Kesimpulan
Kematian Kolonel Antonius Hermawan bersama dengan 12 korban lainnya akibat ledakan bom tidak aktif ini adalah suatu musibah yang menyisakan kesedihan mendalam pada keluarga maupun lingkungan sekitar. Peristiwa tersebut pun membuktikan bahwa sangatlah krusial adanya tindakan antisipasi yang lebih keras terhadap aktivitas militer yang menggunakan material peledak. Kami berkeinginan agar investigasi bisa meraih pengetahuan tepat tentang asal-usul ledakan kedua serta solusi-solusi pembenahan dapat disusun guna mencegah segala bentuk kecelakaan mirip di kemudian hari.




















