Ambontoday.com, Ambon.- Kendati Pemerintah pusat terus menggulirkan bantuan subsidi benih Padi dan Jagung dari tahun ke tahun, namun secara jumlah Provinsi Maluku sudah 3 tahun terakhir mengalami penurunan khususnya untuk bantuan subsidi benih Padi.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Perrtanian Provinsi Maluku, Dr. Ilham Tauda, SP. M.Si didampingi Kepala Bidang Tanaman Pangan, Anawar Wael, SP. M.Si kepada wartawan, Selasa 5 Maret 2024.
Dikatakan, untuk tahun 2022 itu Maluku mendapatkan subsidi bantuan benih Padi itu untuk 10.000 hektar kemudian di 2023 mengalami penurunan yakni 6000 hektar dan di tahun 2024 ini turun lagi menjadi 2000 hektar ini untuk benih Padi Hibrida.
“Sudah tiga tahun terakhir ini Maluku terus mengalami penurunan dari sisi jumlah bantuan subsidi khusus untuk Padi. Tahun 2022 itu Maluku memperoleh bantuan sebanyak 10 ribu hektar, di tahun 20203 turun menjadi 6 ribu hektar dan di tahun 2024 ini menurun lagi menjadu 2 ribu hektar saja.
Jika melihat pada target yang dibeerikan pemerintah pusat kepada Maluku untuk harus memennuhi 102 ton maka tentu tidak sesuai dengan alokasi benih yang diberikan, karena masyarakat petani kita khususnya untuk Petani padi itu masih sangat bergantung pada subsidi benih itu, jadi mereka belu mandiri.
Hal ini dikarenakan budidaya Padi ini membutuhkan komponen produksi yang sangat mahal. Terkadang kalau kita mengukur nilai tukar petani indeks yang diterima dan indeks yang dibayarkan, maka indeks yang dibayarkan itu lebih besar dari yang diterima. Jadi kenapa nilai tukar petani itu tidak bisa mencapai 100 khususnya untuk pangan beras, hal ini dikarenakan ada komponen-komponen produksi yang biaya cukup mahal seperti biaya transportasi, biaya buruh, pupuk dan lainnya,” jelas Tauda.
Dikatakan, untuk benih padi yang didappat tahun 2024 ini sebanyak 2000 hektar itu sudah dibagi ke Kabupaten Buru sebanyak 1000 hektar dan Kabupaten Maluku Tengah sebanyak 1000 hektar.
Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Anwar Wael pada kesempatan yang sama menyampaikan, untuk bantuan benih Jagung tahun 2024 sebanyak 2000 hektar dan sudah disebar di sejumlah daerah.
“Untuk bantuan benih Jagung tahun ini Maluku mendapat 2000 hektar dan kegiatannya itu ada di sentra produksi jagung seperti Maluku Tenggara, Maluku Barat Daya, Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Buru dan Buru Selatan.
Secara umum, bantuan benih ini mesti melalui proses sertifikasi benih terlebih dahulu sebelum di sebar di lokasi.
Proses sertifikasi benih disitu ada UPT kita yang khusus menangani dimana proses ini dimulai dari olah tanah dan di awasi hingga pada saat panen akan di uji di lab yang ada di BPSB. Kalau dinyatakan lolos uji dulu baru di berikan sertifikat, namanya sertifikasi baru bisa dibagi ke lokasi. Ini khusus untuk benih Padi,” jelas Anwar.
Sementara untuk benih Jagung, menurut Anwar, di maluku ini belum ada penangkar benih Jagung jadi benih itu didatangkan dari luar melalui proses pembelanjaanya E- katalog.
“Proses ini terbuka untuk umum misalnya kalau kita beli dari jawa diberlakukan sama, artinya di sana di uji dulu sebelum masuk ke ambon, nanti tiba di Ambon sampelnya diambil lagi oleh BPSB dan nanti di uji lagi.
Yang di uji adalah daya kecambah bagaimana ia bereaksi dengan lingkungan kita yang ada di wilayah Maluku.
Jadi dipastikan dari sumber daerah asal sampai daerah tujuan tetap di uji, kalau dinyatakan layak baru ditanam itu adalah tugas kita untuk mengawal,” ungkap Wael.





















