INFLASI MALUKU DESEMBER 2025 SIFATNYA SEMENTARA DAN TIDAK BERDAMPAK SERIUS

Spread the love

 

Oleh: Julius R. Latumaerissa

Kata inflasi (inflation) sering kali kita dengar terutama dalam kaitan dengan indikator makro ekonomi suatu negara atau daerah. Kebalikan Inflasi adalah Deflasi (Deflation). Kedua aspek ini adalah penyakit ekonomi yang tidakbisa di hindari tetapi bisa dikendalikan. Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu dan bukan sekadar kenaikan pada satu atau beberapa komoditas saja.

Dalam analisis modern, inflasi sering dipahami melalui beberapa dimensi antara lain headline inflation yaitu sebuah ukuran inflasi keseluruhan mencakup semua kelompok harga termasuk pangan dan energi yang sangat volatile atau volatility inflation. Selain itu Core Inflation yaitu dengan mengeluarkan komponen yang sangat volatile seperti pangan dan energi danlainnya, sehingga mencerminkan kecenrungan harga fundamental yang lebih stabil.

Selain itu ada Inflasi inti dan Non-Inti. Menurut Bank Indonesia, inflasi inti menunjukkan perubahan harga yang bersifat persisten, dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti permintaan-penawaran (demand-supply), ekspektasi inflasi, nilai tukar, dan harga komoditas internasional. Sedangkan Inflasi non-inti biasanya mencerminkan kejutan sementara (misalnya bencana alam, fluktuasi harga pangan musiman).

MEMAHAMI DATA DAN INTERPRETASINYA

Inflasi month to month (m-to-m) adalah persentase perubahan indeks harga konsumen (IHK) pada suatu bulan dibandingkan bulan sebelumnya. Pentingnya pengetahuan kita tentan inflasi (m-to-m) adalah untuk menggambarkan dinamika harga jangka sangat pendek dan sensitif terhadap faktor musiman seperti Ramadan, Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, disamping masalah iklim / cuaca disamping berbagai gangguan distribusi serta perubahan harga pangan dan energi. Tujuan utama dari mengetahui inflasi m-to-m ini hanya sebagai bentuk peringatan dini (early warning) kepada pengambil kebijakan

Cara menginterpretasi data inflasi m-to-m misalanya jika m-to-m positif tinggi berarti ada tekanan harga jangka pendek. Jika m-to-m negatif (deflasi) artinya harga- harga menurun sementara dan jika m-to-m berfluktuasi artinya inflasi bersifat musiman (supply-driven). Perlu diketahui bahwa menilai inflasi m-to-m berfokus pada stabilitas pangan dan masalah distribusi dan transportasi. Sebagai contoh jika inflasi Maluku bulan desember 2025 (m-to-m) 0,81% artinya rata-rata harga-harga di Maluku pada bulan Desember naik 0,81% dibandingkan dengan bulan November 2025

Selain inflasi m-to-m kita kenal juga inflasi year on year yaitu persentase perubahan IHK suatu bulan dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Pentingnya kita mengetahui inflasi y-on-y adalah untuk menggambarkan kecenderungan inflasi jangka menengah dan jangka Panjang, sekaligus sebagai indikator utama untuk melihat stabilitas harga.

 

Sumber: BPS Maluku, data diolah

Inflasi y-on-y ini biasanya dalam sistim perencanaan baik nasional maupun daerah (provinsi/ kabupaten/ Kota) digunakan sebagai acuan untuk menetapkan target inflasi nasional (Negara) atau inflasi daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota) dan untuk kepentingan evaluasi kinerja pemerintah, baik pusat maupun daerah. Dari perspektif pemerintah pusat maka inflasi y-on-y ini digunakan untuk melihat efektifitas Kebijakan moneter (monetary policy) dari Bank Indonesia sebagai bank sentral yang mengendalikan besar-kecilnya uang beredar (money supply) di Indonesia

Sumber: BPS Maluku, data diolah

Cara menginterpretasi data inflasi y-on-y adalah jika inflasi y-on-y stabil atau rendah mengindikasikan laju inflasi terkendali. Jika y-on-y tinggi atau naik mengindikasikan terjadi tekanan inflasi struktural dan jika y-on-y turun mengindikasikan kebijakan pengendalian inflasi efektif. Harus di ingat benar bahwa fokus dari inflasi y-on-y adalah bagaimana meningkatkan produksi lokal dan yang kedua berkaitan dengan infrastruktur logistik dan ketahanan ekonomi daerah.

Perlu dicatat bahwa menganalisa kecenderungan perkembangan inflasi tidak bisa hanya dengan menilai satu bulan lalu diambil kessimpulan bahwa hal itu

berdampak negatiif atau positif. Sifat dari pergerakan inflasi itu tidak linier, tetapi berfluktuasi, karena itu harus dilihat tren pergerakan dalam siklus yang lebih panjangdengan melihat tingkat perubahannya.

Sebagai contoh jika Inflasi y-on-y Maluku Desember 2025 sebesar 3,58% artinya harga bulan desember 2025 bisa lebih tinggi dari bulan Desember tahun 2024. Hal ini disebabkan tekanan permintaan dan biaya produksi/logistik (cost push inflation) dalam setahun relatif tinggidan faktor kedua adalah kenaikan biaya di sektor transportasi, makanan dan minuman menjadi pendorong utama kenaikan harga secara tahunan.

Berdasarkan data di atas pertanyannya adalah apa MAKNA atau bagaimana MEMAKNAI data itu dalam analisis ekonomi daerah Maluku. Hal ini dapat saya jelaskan sebagai berikut: pertama; kecenderungan konsumsi dan daya beli artinya kenaikan harga tahunan menunjukkan tekanan permintaan dan/atau cost push (mis. biaya logistik, harga pangan/energi, transportasi antar pulau), dan meningkatnya harga mempengaruhi daya beli masyarakat (real income) jika inflasi lebih tinggi dari pertumbuhan upah. Kedua; berkaitan dengan kebijakan daerah yaitu angka y-on-y sering dipakai dalam mengevaluasi stabilitas harga di tingkat TPID Maluku, kemudian juga untuk kepentingan perumusan program kompensasi /ketersediaan bahan pokok dan yang terakhir untuk kepentingan komunikasi publik dan kebijakan fiskal daerah dan yang Ketiga; Perbandingan 2024 ke 2025. Pada Desember 2024, inflasi y-on-y Maluku tercatat sekitar 1,28 % jauh lebih rendah dibanding Desember 2025 sebesar 3,58, artinya pada periode setahun terakhir ada akselerasi kenaikan harga yang lebih cepat di Maluku.

Yang harus diperhatikan dengan benar bahwa angka inflasi di bawah 10% itu inflasi ringan, Angka inflasi antara 10% – 30% adalah inflasi sedang, angka inflasi 30%-100% adalah inflasi berat, dan inflasidi atas 100% adalah Hyper Inflation.

Dengan demikian jika kembali kepada data inflasi m-to-m dan y-on-y Maluku Desember 2025, maka tidak ada HAL YANG SERIUS untuk diperdebatkan, karena angka inflasi tersebut masing dalam batas-batas yang SANGAT WAJAR. Perekonomian Maluku tidak akan terganggu dengan kondisi tersebut. Apalagi inflasi m-to-m 0,81% lebih tinggi dari bulan November 2025 itu bersifat sementara karena fakktor musiman yaitu NATARU, nanti juga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026 hal yang sama akan terjaddi karena terjadi kenaikan harga barang secara signifikan

Kesalahan Umum yang sering terjadi dalam Interpretasi indikator inflasi oleh banyak kalangan adalah:

1. jika m-to-m tinggi itu tidak sama dengan inflasi tahunan tinggi.

2. Jika deflasi m-to-m tidak sama dengan ekonomi buruk dan

3. jika y-on-y rendah tidak sama dengan harga turun (hanya naik lebih lambat).

4. Jika m-to-m tinggi dan y-on-y rendah artinya terjadi shock yang bersifat sementara.

5. Jika m-to-m tinggi, y-on-y tinggi artinya terjadi inflasi serius

6. Jika m-to-m rendah, y-on-y rendah artinya terjadi kestabilan harga Perbedaan Kunci m-to-m dengan y-on-y bisa saya gambarkan sebagai dberikut:

1. Dari dimensi waktu, maka m-to-m itu bulanan, dan y-on-y adalah tahunan

2. Dari aspek sifatnya, maka m-to-m itu sangat fluktuatif, dan y-on-y bersifat lebih stabil

3. Dari aspek sensitifitasnya, maka m-to-m itu musiman atu shock, dan y-on-y

berkaitan dengan aspek struktur ekonomi daerah

4. Dari aspek tujuannya, maka m-to-m untuk deteksi dini, dan y-on-y untuk evaluasi kebijakan

5. Dari aspek kegunaanya, maka m-to-m untuk respon cepat, dan y-on-y untuk penetapan target.

POLA SIKLUS INFLASI DI MALUKU (INFLATION CYCLE PATTERN)

Inflasi di Maluku tidak bersifat linier, tetapi siklikal, musiman, dan struktural, dengan volatilitas lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Polanya dapat dijelaskan dalam beberapa lapisan seperti siklus musiman (seasonal inflation cycle) seperti siklus keagamaan dan sosial Ramadhan, Idul Fitri, Nataru sehingga terjadi lonjakan permintaan kebutuhan bahan pangan, transportasi dan jasa.

Selain siklus musiman diatas, maka ada juga. Siklus Cuaca dan Laut, seperti musim gelombang tinggi yang menyebabkan terganggunya distribusi laut, maka pasokan pangan dari luar daerah menurun sehingga menyebabkan kenaikan inflasi pangan (volatie food inflation). Dengan beberapa karakter yang dapat dilihat sebagai indikasinya adalah Inflasi cepat naik (spike) tetapi penurunan lambat (sticky downward) dengan volatilitas tinggi antar bulan (m-to-m)

Selain dua siklus di atas, maka di Maluku ada juga siklus logistik dan distribusi (logistics-driven cycle) karena posisi geograis Maluku adalah daerah kepulauan dimana kurang lebih 70–80% barang konsumsi dipasok dari luar Maluku, sehingga sangat tergantung kepada Kapal laut, BBM, Biaya bongkar muat, dan Asuransi dan risiko cuaca. Sehingga dapat dipastikan bahwa Inflasi Maluku sangat sensitif terhadap Kenaikan BBM, Gangguan pelayaran dan Kebijakan pelabuhan dan transportasi nasional. Iniah yang membentuk cost-push inflation cycle yang berulang.

Perlu dipahami juga bahwa ada pola khas di maluku yang menyebabkan inflasi yang seringsaya sebut inflasi jasa dan non-pangan yang disebabkan kenaikan permintaan lokal di Maluku tidak diimbangi dengan pasokan. Hal ini bisa dilihat dari siklus fiskal daerah (fiscal-driven inflation) yaitu Awal tahun belanja rendah dimana inflasi relatif terkendali, tetapipada Triwulan III–IV: percepatan belanja APBD seperti proyek fisik, pembayaran honor dan belanja barang dan jasa

Nah yang harus diwaspadai oleh Pemprov Maluku adalah siklus struktural jangka panjang, karena ini adalah pola inflasi yang persisten dan kronis, ditandai oleh harga lebih mahal dibanding wilayah barat Indonesia, disparitas harga antar pulau dan inflasi turun tapi tidak pernah kembali ke level rendah. Hal ini disebabkan Struktur ekonomi konsumtif, produksi lokal lemah, skala ekonomi kecil dan pasar oligopolistik

MITIGASI INFLASI DAN SOLUSI BAGI PEMPROV MALUKU

Mitigasi dan Pengendalian InflasiJangka Pendek dengantujuan meminimalkan lonjakan harga saat ini dan menjaga daya beli masyarakat) dimana TPID Provinsi

& kabupaten/kota perlu terus memantau harga pokok strategis dan stok di pasar dan Intervensi cepat pada komoditas yang berkontribusi besar terhadap inflasi YoY (pangan, transportasi).

Selain itu melakukan Stabilisasi Harga Pangan dengan cara menilai Rasio stok beras, gula, minyak goreng, serta koordinasi dengan Bulog untuk operasi pasar di daerah yang harga naik, dan Mengantisipasi lonjakan harga menjelang Natal/Tahun Baru atau hari besar lainnya.

Dan yang terakhir adalah melakukan perbaikan distribusi dan logistik dengan cara subsidi biaya logistik antar-pulau seperti tol laut agar harga barang pokok tidak terlalu tinggi di daerah kepulauan dan kebijakan pajak atau tarif yang lebih kompetitif untuk angkutan barang.

Untuk mengendalikan inflasi dalam jangka panjang yaitu dengan cara mengatasi akar penyebab inflasi persisten di Maluku melalui beberapa pendekatan yaitu Peningkatan Produktivitas Sektor Riil dalam bentuk diversifikasi produksi pangan lokal dan dukungan pertanian moderndan pemberdayaan sektor perikanan dan agro- industri untuk mengurangi ketergantungan impor, disamping pengembangan Infrastruktur Logistik seperti Infrastruktur pelabuhan, cold storage, dan jaringan distribusi untuk menekan biaya transport dan mengurangi spoilage.

Membangun Pasar Modern dan digitalisasi menjadi penting untuk transparansi harga dan efisiensi perdagangan komoditas sehingga mengurangi biaya distribusi dan margin yang tidak perlu, disamping penguatan Inklusi Kredit dan UMKM melalui akses pembiayaan murah untuk UMKM dan trader pangan lokal untuk meningkatkan kompetisi harga dan efisiensi produksi. Salah satu hal terpenting adalah Pembenahan Regulasi (PERDA / PERGUB) dan birokrasi, dimana yangsaya maksudkan adalah penyederhanaan regulasi, deregulasi biaya logistik, dan pengurangan hambatan pasar untuk mendukung efisiensi.

Saya mengusulkan bahwa strategi jangka pendek selama satu tahun atau 12 bulan yang dapat dilakukan oleh Pemprov Maluku terdiri dari pertama, stabilitas harga pangan meliputi operasi pasar berbasis pulau, buffer stock pangan strategis (beras, cabai, bawang, ikan, daging dan telur) dan kontrak pasokan antar daerah produsen. Kedua menjalankan subsidi logistik terarah dengan cara subsidi ongkos angkut pangan, skema PSO transport laut pangan dan optimalisasi tol laut khusus pangan Maluku, dan yang ketiga menjalankan manajemen ekspektasi melalui publikasi harga resmi per pulau, Komunikasi inflasi oleh TPID dan intervensi psikologis pasar (forward guidance daerah)

Sedangkan untuk strategi Jangka Menengah antara 1–3 Tahun ke depan perlu dilakukan penguatan BUMD pangan & logistik, gudang pendingin (cold storage) dan hub distribusi regional Maluku Tengah–Ambon. Sedangkan Strategi Jangka Panjang (struktural) Pemprov Maluku dapat melakukan kebijakan substitusi impor antar pulau, produksi pangan lokal berbasis pulau dan reformasi sistem logistik kepulauan

Berita Terkini