Penjajah Baru di Maluku Semakin Bertumbuh

Spread the love

Oleh : Julius Roberth Latumaerissa

“Mengawali opini ini, saya ingin mengeluarkan rasa tawa saya seluas luasnya, sebab sampai saat ini saya melihat ada yang lucu di negeri Maluku, negeri raja-raja, negeri seribu pulau ini“

Banyak sekali orang menciptakan jargon politik di berbagai medsos namun itu bukan kreasi orisinal, tapi hanya copy paste dari buku yang dibaca waktu kuliah dulu. Jadi tidak pintar-pintar amat.

Mari kita renungkan, dan kita cermati bahwa catatan historis kita di Maluku, pernah dijajah oleh Portugis, Belanda dan Jepang, yang membuat penderitaan panjang di negeri Raja-raja, namun kita tidak pernah menunjukan sikap ketidaksukaan bahkan cenderung membanggakan terutama Belanda.

Tapi mengapa ketidaksukaan kita itu kepada pribadi, kelompok, golongan, komunitas atau mereka yang berbeda dengan kita, apakah itu berbeda mazhab, berbeda etnis, berbeda suku, berbeda pulau selalu mendapat tempat dalam isu politik lokal di Maluku?

Saya mengikuti dan melihat bahwa syair lagu yang bernafaskan dikotomi ini semakin terpelihara dan tumbuh subur di Maluku, apalagi jelang momentum politik lima tahunan, nampaknya isu-isu sampah dan berpotensi merusak tatanan anak negeri ini sering di dengungkan tak habis-habisnya oleh pribadi, kelompok tertentu di berbagai medsos.

Kidung dikotomi ini disusun dalam tangga nada yang serasi sehingga mendapat respons banyak pihak, terutama para cerdik pandai dalam berbagai bentuk konstruksi diksi dan narasi yang kita semua saksikan dalam debat kusir yang berujung kepada caci maki, emosi, dan kehilangan logika sehat dan nurani.

Gambaran saya di atas ini mencerminkan ada tindakan sadar dan tidak sadar orang atau kelompok tertentu yang hanya copy paste konsep Devide et Impera (memecah belah) persatuan orang Maluku dengan konsep DIKOTOMI SEMPIT dan KAKU.

Baca Juga  Esok Pemkot Gelar Vaksinasi Massal Selama Seminggu

Pada titik inilah mereka menggerakkan mesin mesin politik di tengah tatanan hidup bermasyarakat di Maluku. Dengan demikian secara tidak langsung, cara-cara sampah dan tidak etis ini, dapat menciptakan musuh bersama dan yang lebih aneh lagi banyak orang bahkan para cerdik pandai pun seperti terhipnotis dan semakin tergantung dan bangga kepada pribadi dan atau entitas ini.

Jika kita melihat cara pergerakan entitas Devide et Impera ini memang sederhana tapi smart. Karena mereka ingin berkuasa dengan ongkos murah (low cost). Tak perlu memikirkan biaya besar dan aspek persatuan dan kesatuan rakyat secara nyata. Cukup ciptakan lagu, diksi dan narasi DIKOTOMI, yang berpotensi menimbulkan distorsi, keresahan dan konflik, agar banyak orang atau masyarakat tetap pada posisi yang lemah.

Di era demokrasi bebas seperti sekarang ini, entitas dan komunitas ini yang saya istilahkan dengan penjajah baru (Neo Kolonialisme dan Neo Imperialisme) melakukan cara-cara lama itu. Yaitu, menggunakan kelompok dan gerombolan dengan menciptakan beragam isu, melalui bangunan narasi yang masuk akal tapi sebenarnya tidak logis agar kesatuan dan persatuan anak-anak Maluku tercabik. Dan yang mudah digiring adalah isu-isu suku, pulau, agama.

Metodologi yang digunakan adalah dengan mem-judge orang, kelompok yang berbeda dengan berbagai istilah atau jargon jargon yang bermakna sempit, tetapi dapat membangun sentimen negatif dan dapat menciptakan musuh bersama. Ini adalah cara-cara atau model penjajah masa lalu yang digunakan untuk memecah belah anak bangsa.

Kita selalu dan suka membesar-besarkan (hiperbolik) masalah sepele menjadi isu DIKOTOMI dan DUALISME sosial dan politik agar menjadi pemantik api dan membakar semangat perpecahan secara sistematis, dan masif, seperti Saparua, Tenggara, Seram, belum lagi isme isme kedaerahan yang sempit dan sangat sempit.

Baca Juga  Manfaatkan Masa Reses RR Kunjungi Warga di Goga

Para penjajah baru itu (Neo-kolonilaisme dan Neo-imprealisme) bukan Portugis, bukan Belanda, dan bukan Jepang, tapi mereka adalah kita bangsa sendiri sebagai proxy eksternal atau proxy asing. Tujuannya tentu agar dapat berkuasa dan menerapkan cara Portugis, Belanda dan Jepang menjajah Maluku.

 

Strategi dan taktik yg dijalankan tidak jauh dari cara Portugis, Belanda dan Jepang lakukan dalam masa penjajahan di Maluku yaitu menciptakan kemiskinan, melemahkan kecerdasan berpikir dan membuat berbagai macam ketergantungan sehingga rakyat justru berada dalam fase pembodohan politik.

Dengan strategi tersebut orang Maluku, terutama generasi muda potensial makin tidak peduli untuk membangun kompetisi dan profesionalitas diri, dan mampu menciptakan pekerjaan dan peluang kerja bagi orang lain, tetapi malah hidup dalam fantasi DIKOTOMI dan DUALISME

Karena itu saya ingin kita semua sadar, dan berpikir serta celekan mata batin dan kasat mata kita untuk melihat fenomena-fenomena sosial yang berkembang saat ini dan berpotensi membentuk platform berpikir orang Maluku dan generasi muda Maluku dalam jebakan-jebakan perpecahan yang dapat saja terjadi bagaikan bom waktu. Jika kita tidak kembali kepada fitrah kita sebagai orang Maluku yang seutuhnya yaitu kelompok masyarakat keturunan NUNUSAKU yang sangat berpegang teguh kepada adat budaya Maluku, maka kita akan kembali terjajah oleh orang-orang kita sendiri.