Sore yang Membawa Duka bagi Arui Bab

Spread the love

Saumlaki, Ambontoday.com – Di sebuah ruangan kantor desa dengan lampu neon yang redup, seorang staf menata map cokelat berisi lembar kronologi. Di meja samping, sebuah botol air mineral tanpa tutup berdiri di antara tumpukan kertas yang belum dirapikan.

Di dekat jendela yang terbuka separuh, suara motor dari jalan kampung terdengar putus-putus. Seorang petugas mengecek ponselnya sebentar sebelum kembali menelusuri catatan yang baru diterimanya dari lapangan.

Catatan itu berisi rangkaian peristiwa penganiayaan terhadap Yosep Sakliresi, warga Desa Arui Bab, yang terjadi di area Pasir Panjang dan memicu benturan terbuka antara dua desa bertetangga, Arui Bab dan Sangliat Krawain. Kejadian pada 29 November 2025 itu kini ditangani aparat gabungan Polres Kepulauan Tanimbar, setelah korban meninggal dunia dan bentrokan berbalas memunculkan luka pada sejumlah warga.

Di lokasi itu, Pasir Panjang tampak sebagai garis pantai berpasir putih yang memanjang ke arah kebun kelapa. Beberapa pondok kayu berdiri berjarak, sebagian terlihat kosong. Pada siang hari kejadian, cuaca disebut terang dengan angin ringan dari laut utara.

Dari informasi yang dihimpun, Yosep Sakliresi dan istrinya, Damasena Kelyaum, turun dari kebun di perbukitan dan mengarah ke desa. Mereka berbelok ke area pantai karena kehausan. Keduanya menuju pondok kebun milik keluarga untuk mengambil air.

Dalam pengamatan singkat yang disampaikan oleh saksi, Yosep sempat mengumpulkan beberapa kelapa kering di sekitar pondok. Ia lalu menuju dapur kecil, sementara Damasena menyalakan api dengan ranting yang sudah disiapkan. Suara gesekan kayu dan percikan kecil api disebut terdengar dari dapur sederhana itu.

Menurut keterangan Damasena, Yosep keluar pondok untuk melihat tanaman yang baru ditanam sekitar sepekan sebelumnya. Ia berjalan ke arah barisan tanaman muda, sementara Damasena melangkah ke tepi pantai untuk mengambil napas lebih lega.

Baca Juga  Fidel Samponu; "Saya Mundur dari Kepanitiaan Musyawarah Pemuda Ngrimase Olilit Raya !!!"

Sekitar setengah jam kemudian, Damasena mendengar teriakan suaminya. “Ampun, ampun,” begitu ia mengutip suara itu. Ia menoleh dan melihat seseorang berlari sambil memikul busur di bahu, dengan wajah ditutup kain hitam. “Saya tidak kenal orang itu,” ujar dia.

Dalam keadaan panik, ia memilih memotong jalan melalui semak agar tidak terlihat. Ia berlari menuju arah Desa Arui Bab. Perjalanannya melewati kebun kelapa dan sungai kecil di dekat lahan warga setempat. Di titik itu, ia bertemu dua warga desa. Ketiganya berjalan ke arah jalan Trans Yamdena.

Setibanya di jalan raya, Damasena meminta salah satu warga yang membawa sepeda motor untuk mengantarnya ke desa. Ia lalu melapor kepada aparat desa dan warga lain mengenai kondisi suaminya. Laporan itu membuat sejumlah warga bergerak ke arah pantai.

Sementara itu, di Pustu Arui Bab, perawat Januaris Sakliresi menerima Yosep yang dievakuasi warga. Ia menyampaikan bahwa korban dalam kondisi luka berat. “Saya tanya apakah kenal pelakunya, tapi ia memberi isyarat tidak kenal,” ucap Januaris. Menurutnya, korban memberi kode dengan tangan bahwa pelaku lebih dari satu orang.

Pada saat yang sama, Januaris melakukan pemeriksaan awal. Ia mencatat luka tebas pada tangan kanan yang hampir putus, beberapa jahitan darurat pada leher, goresan memanjang dari leher ke punggung, dan sebuah anak panah kecil yang menancap di bagian perut atas. “Ada juga luka tikam di pipi,” jelas dia.

Dari penjelasan petugas medis itu, situasi penanganan berlangsung cepat karena warga terus berdatangan ke Pustu. Suara sandal dan langkah terburu-buru terdengar dari teras bangunan. Beberapa warga terlihat mondar-mandir membawa perban dan perlengkapan sederhana.

Baca Juga  90 Tim Rebut 26 Juta Turnamen Gawang Mini KSP Sama Punya Rasa

Sekitar pukul 15.00 WIT, warga Arui Bab mulai berkumpul. Mereka membawa parang, busur, dan tombak. Sebagian membantu evakuasi korban, sementara kelompok lain menuju pantai Pasir Panjang. Rute itu dipilih karena merupakan jalur paling dekat ke Sangliat Krawain.

Sementara itu, kelompok warga lain bergerak lewat jalan Trans Yamdena. Mereka menyusuri jalur yang membelah kebun dan beberapa titik kosong di kiri-kanan jalan. “Semua bergerak cepat,” tutur seorang aparat desa yang ditemui sore itu.

Di lokasi itu, warga Sangliat Krawain telah bersiaga. Mereka berada di sekitar area pantai dengan posisi berpencar. Saat warga Arui Bab mendekat, perlawanan langsung terjadi. Busur panah dan senapan angin digunakan. Dari benturan itu, lima warga Arui Bab mengalami luka.

Dalam pengamatan aparat, situasi bergerak tidak seragam antara pantai dan jalur Trans Yamdena. Beberapa kelompok terlihat bertahan, sementara yang lain mundur dan berkumpul kembali. Suara teriakan dan hentakan kaki terdengar dari kedua arah.

Pukul 15.50 WIT, warga Sangliat Krawain menarik diri ke arah desa mereka. Sementara itu, kelompok lain dari Arui Bab tetap berada di pantai untuk bertahan.

Sementara itu, pukul 16.30 WIT, satu SST gabungan Polres Kepulauan Tanimbar dan Brimob tiba di lokasi. Mereka menyisir area pantai dan jalan Trans Yamdena untuk menghalau massa. Personel Koramil kemudian menyusul untuk pengamanan tambahan.

Jika melihat konteksnya, pihak gereja juga turun mendampingi warga. Pastor Paroki Hati Kudus Arui disebut berusaha menenangkan massa dan meminta mereka kembali ke desa masing-masing.

Menjelang pukul 17.40 WIT, sebagian kelompok warga yang berada di jalur Trans Yamdena mundur dan bergerak pulang. Pada pukul 18.30 WIT, warga yang bertahan di pantai juga kembali ke Arui Bab.

Baca Juga  PT TANIMBAR ENERGI Tanpa Dividen, Pernyataan Modal Jembatan Curi Uang Rakyat

Dari data pemerintah desa, satu pondok kebun dan satu sepeda motor milik warga Sangliat Krawain terbakar dalam peristiwa tersebut. Kerusakan itu ditemukan pada sore hari setelah situasi mereda.

Warga Arui Bab yang mengalami luka meliputi lima orang. Mereka terdiri dari petani yang terkena panah, luka tembak senapan angin pada alis, paha, lengan, dan punggung. Semua menerima perawatan awal di fasilitas medis desa.

Pada pukul 16.30 WIT, Yosep Sakliresi dinyatakan meninggal dalam perjalanan dari Pustu menuju RSUD dr. P.P. Magretti Saumlaki. “Kami sudah berusaha,” ujar perawat itu.

Jika melihat bagian hulunya, aparat menduga perselisihan lahan menjadi salah satu latar belakang ketegangan. Objek sengketa perkara perdata Nomor 51/Pdt.G/2015/PN Sml disebut masih menjadi sumber keberatan sebagian warga Sangliat Krawain.

Selain itu, dugaan adanya provokasi juga mengemuka dalam laporan yang diterima aparat desa. “Kami perlu cari siapa yang memicu kedua pihak,” kata seorang aparat keamanan di lokasi kejadian.

Pada saat yang sama, aparat mengantisipasi potensi balasan karena enam warga Arui Bab mengalami luka. Koordinasi antara Polres, Koramil, dan tokoh setempat dilakukan untuk menjaga situasi tetap tenang hingga malam hari.

Hingga laporan ini disusun, tujuh pelaku penganiayaan terhadap Yosep masih dalam penyelidikan. Para saksi menyebut para pelaku menggunakan penutup wajah sehingga identitasnya belum diketahui.

Situasi Kamtibmas di kedua desa kini dilaporkan kondusif. Aparat gabungan masih melakukan penjagaan dan patroli ringan di sepanjang jalur pantai dan jalan Trans Yamdena.

Di kantor desa, staf kembali merapikan map cokelat itu. Ia menaruh bolpoin di atasnya sebelum mematikan kipas angin yang berputar pelan. Data itu menjadi bagian dari rangkaian penanganan konflik yang masih berproses. (AT/NFB)