8 Pelajaran Hidup Berharga dari Orang Tua yang Mudah Dilupakan

Spread the love


Ambontoday.com

– Terdapat sebuah kejadian hampir universal di seluruh penjuru bumi: orangtua senang memberi saran.

Mulai dari petunjuk tentang keuangan, asmara, gaya hidup bugar, sampai cara merespons tetangga yang suka kritik — mereka memiliki semua jawabannya. Sebagai generasi berikutnya yang lebih muda, kami biasanya hanya dapat menganggukkan kepala dan tersenyum tersembunyi.

Sejujurnya, banyak saran tersebut memang memiliki kebenarannya. Namun, pernahkah Anda menyadari sesuatu yang menarik? Terkadang, orangtua malah tidak menerapkan apa yang selalu mereka ajarkan.

Betul, itu terdengar ironis. Namun, sangat wajar pula.

Bukan bermaksud menyalahkan atau menghakimi. Sebaliknya, kita ingin melihat sisi lain dari mereka—bahwa di balik semua wejangan itu, mereka juga manusia. Dan seperti kita, mereka kadang kesulitan mengikuti standar yang mereka tetapkan sendiri.

Dikutip Ambontoday.comdari laman Geediting.com pada Sabtu, 19 April 2025. Jadi, mari kita simak bersama 8 hal yang sering dikhotbahkan oleh orang tua—namun justru sering mereka abaikan sendiri. Siap tertawa kecil dan merenung?

1. “Jangan boros, hidup hemat ya!”

Ini nasihat sejuta umat. Orang tua selalu mengingatkan kita soal pentingnya menabung, tidak hidup foya-foya, dan menyiapkan dana darurat.

Tetapi… apakah Anda pernah menyaksikan mereka membelanjakan uang untuk hal-hal yang sesungguhnya tak benar-benar diperlukan? Misalnya saja memboyong satu paket lengkap panci meski yang lama masih layak digunakan, atau mengoleksinya dengan berbagai macam barang kuno namun sangat jarang sekali dirawat dan diaplikasikan?

Kakek nenek kita dahulu mungkin telah menjalani kehidupan yang sulit sehingga mereka sangat mengapresiasi setiap rupiah. Akan tetapi, terkadang ketika memiliki peluang, mereka pun ingin merasakan kenikmatan hidup—yang pada akhirnya sering kali melibatkan pengeluaran uang untuk barang-barang bernilai emosional.

Oleh karena itu, menghemat uang boleh saja, tetapi menikmati kehidupan juga penting. Sampai pengirim nasehat sekalipun memerlukan waktu untuk diri sendiri.

Baca Juga  Bagaimana Cara Mencuci Kaki dengan Tepat? Hilangkan Jutaan Bakteri!

2. “Jangan habiskan waktu terlalu lama di ponselmu, nanti mata kamu sakit!”

Siapakah yang selalu dimarahi tentang hal ini?

Mereka berkata, bahwa kita habis-habisin waktu di depan layar. Namun, perhatikan saja bagaimana mereka dengan rutin menonton dramma kesukaannya seharian penuh lewat tablet?

Saya pernah mendapati nenek saya tertawa-tawa menonton serial Korea selama empat jam berturut-turut—lalu menyuruh saya untuk “berhenti menatap layar terus.”

Kenyataannya, layar bukan lagi milik anak muda. Generasi tua juga sudah menemukan kenyamanannya di dunia digital. Bedanya? Mereka hanya tidak menyadari bahwa mereka juga “kecanduan”.

3. “Kamu harus bisa beradaptasi, dunia terus berubah”

Inilah saran yang luar biasa, sungguh penuh kearifan.

Namun anehnya, sebagian besar malah merasa cemas menghadapi perubahan. Sebagai contoh, waktu kami mempromosikan transaksi nontunai, mereka masih menyukai penggunaan uang fisik. Bahkan, pada saat memberi dukungan dalam konfigurasi smartphone, mereka enggan dan lebih senang menggunakan telepon genggam lama mereka.

Perubahan memang sukar. Dan seiring bertambahnya umur, semakin besar pula kecenderungan untuk merasa puas dengan sesuatu yang telah dikenali dan biasa dilakukan.

Tetapi bukankah hal itu membuktikan bahwa menghadapi perubahan tidak tergantung pada umur, melainkan keberanian?

4. “Kebugaran adalah prioritas utama, jangan diabaikan”

Mereka mengatakan bahwa kita perlu memakan sayuran, berolahraga secara rutin, serta istirahat yang mencukupi. Namun, saat ditanyakan “Kapan terakhir kali Bunda melakukan yogа?”, jawaban tersebut dapat membuatmu tersenyum.

Minggu lalu… oh, mungkin dua bulan yang lalu?

Merawat kesehatan memang perlu, namun melakukannya secara terus-menerus—itu yang menjadi tantangan. Seiring bertambahnya usia, tubuh tidak lagi sebugar dahulu, dan keinginan untuk beristirahat sering kali muncul lebih awal dibandingkan tekad kita.

Baca Juga  Tes Ilusi Optik: Ungkap Jiwa Asli Anda dan Temukan Identitas Sejati

Namun, kita tidak perlu meminta mereka menjadi sempurna. Yang lebih utama adalah semangat untuk menjalani gaya hidup yang sehat tetap ada, walaupun terkadang berhenti sebentar ketika menghadapi layar televisi.

5. “Bersikaplah dengan pikiran yang terbuka”

“Semua yang baru tidak selalu jelek,” ujar mereka. Namun saat giliran kita menyajikan lagu kesukaan, respons mereka mungkin terlalu mendadak:

“Apa ini? Suara petasan?”

Berpikir secara terbuka tentunya merupakan hal yang sempurna. Namun pada dasarnya, sebagai makhluk hidup, kita cenderung merasa lebih tenang ketika berada dalam zona nyaman yaitu sesuatu yang telah dikenali dan disukai sepanjang tahun-tahun lamanya. Terutama bila ini melibatkan lagu-lagu dari masa lalu atau film-film favorit yang masih tersimpan rapuh dihati.

Oleh karena itu, walaupun kadang-kadang mereka sulit menerima perubahan, masih tersedia kasih sayang dalam kesetiaan mereka kepada kenangan masa lalu.

6. “Sesuaikan dirimu dengan kehidupan sekarang dan jangan biarkan pikiranmu tersita oleh masa lalu”

Kebijakan hidup pada zaman sekarang memang kelihatan penuh akal. Namun, cobalah mendengarkan pembicaraan para lansia:

Dulunya ketika Ayah bekerja, segala sesuatunya lebih terjangkau…

Atau, ‘Dahulu kala anak-anak lebih beradab.’

Hidup pada zaman ini sebenarnya bukanlah hal yang sederhana, apalagi ketika masa lalu dirasakan lebih ‘manis’ dan masa depan kelihatan kurang jelas.

Namun ingatan akan masa lalu juga bisa menjadi penghibur dan penguat. Mungkin, dengan mengenangnya, mereka justru menemukan makna baru untuk hari ini.

7. “Jangan lupakan untuk merawat diri sendiri, kamu pun memiliki nilai yang tinggi”

Inilah sebauh nasihat yang dipenuhi dengan kasih sayang. Namun, anehnya, justru mereka adalah orang-orang yang paling banyak melupakan hal ini.

Berapa kali kami meminta mereka untuk beristirahat, namun mereka masih saja sibuk merawat cucu, memasak, atau membantu tetangga?

Baca Juga  9 Tanggal Lahir dengan Rezeki Mengalir Berturut-turut menurut Primbon Jawa

Orang tua sering kali melupakan kebutuhan mereka akan istirahat, relaksasi, dan waktu pribadi. Sebab dari usia muda, mereka sudah biasa dalam hal memberikan, memberikan, dan lagi memberikan.

Dan kami, sebagai generasi penerus, dapat memulai untuk mengingatkan mereka: “Sekarang gilirannya Bapak/Ibu yang dimanjakan,ayo.”

8. “Mohon maafkan aku, harap jangan menyimpan kebencian”

Kata mereka, hidup terlalu singkat untuk menyimpan amarah. Tapi ada juga yang masih menyimpan sakit hati dari tahun 1987 karena tidak diundang ke resepsi keluarga jauh.

Lucu? Iya.

Namun, hal ini juga menunjukkan seberapa dalam lukanya yang sering kali tidak kelihatan. Balas dendam bukan tentang kekerasan hati, melainkan tentang emosi yang belum pulih sepenuhnya.

Meski mereka mengusulkan ‘berpindah’, bisa jadi mereka belum sepenuhnya selesai dengan proses tersebut. Dan hal ini bukanlah masalah.

Delapan poin tersebut tidak boleh digunakan sebagai cara untuk mengejek para orangtua. Justru sebaliknya, ini adalah pengingat bahwa tak ada satupun dari kita yang selalu konsisten—bahkan bagi mereka yang sering kali memberikan saran dan nasehat kepada orang lain.

Mereka bukanlah orang yang sempurna, dan mereka tidak perlu menjadi sempurna.

Justru dari ketidaksempurnaan itulah kita bisa belajar bahwa hidup bukan tentang selalu benar, tapi tentang selalu berusaha jadi lebih baik.

Dan jika kita bisa tersenyum melihat ketidakkonsistenan orang tua, mungkin sudah waktunya kita juga melihat ke dalam diri:

Adakah kita juga kerap memberikan nasihat yang tidak diikuti oleh diri sendiri?

Kehidupan ini kocak, dipenuhi dengan kejutan yang menusuk hati. Tetapi ia juga berlimpah kasih sayang, pengalaman, serta ruang bagi kita berkembang.

Karena, seperti kata Einstein:

Membuktikan dengan tindakan bukan hanya metode utama untuk mengubah pikiran oranglain; itu adalah metode tunggal yang ada.