Oleh: OMANS JB
(Suara Kritis diluar Gerbang Rumah Kewarbotan)
JILID I : INTRO
Rakyat Menunggu Master plan, Bukan Sekadar Seremoni dan Tepuk Tangan
Ambontoday.com – Blok Masela bukan lagi cerita masa depan. Ia sudah datang. Diam-diam namun pasti, proyek raksasa bernilai Rp342 triliun itu kini mulai mengubah wajah Tanimbar.
Di atas tanah Yamdena dan Pulau Nus Tual, sejarah besar sedang disusun. Investor bergerak. Tahapan proyek berjalan. FEED telah dimulai. Infrastruktur mulai dipetakan. Tanah mulai dibicarakan. Orang luar mulai berdatangan.
Namun di tengah arus besar itu, rakyat Tanimbar justru mulai bertanya dengan nada cemas:
Di mana arah Pemerintah Daerah dan DPRD Tanimbar?
Sebab hingga hari ini, publik belum melihat adanya cetak biru yang jelas tentang bagaimana daerah ini akan menghadapi dampak sosial, ekonomi, budaya, dan politik dari Proyek Strategis Nasional tersebut.
Yang terdengar justru lebih banyak seremoni, pidato, dan tepuk tangan.
Pemda sibuk bicara peluang. DPRD sibuk bicara dukungan. Tetapi rakyat belum pernah benar-benar diperlihatkan:
– Apa MasterPlan daerah menghadapi Blok Masela?
– Bagaimana perlindungan hak masyarakat adat?
– Siapa yang menjamin tenaga kerja lokal menjadi prioritas?
– Bagaimana skema pendidikan dan peningkatan SDM rakyat Tanimbar?
– Apa strategi mengantisipasi ledakan urbanisasi, konflik sosial, dan ketimpangan ekonomi?
– Bagaimana nasib nelayan, petani, dan masyarakat kecil ketika industri raksasa mulai berdiri?
Pertanyaan-pertanyaan ini belum dijawab secara terbuka dan serius.
Padahal proyek ini bukan proyek kecil. Ini investasi terbesar di Indonesia Timur dalam 20 tahun terakhir. Jika daerah tidak siap, maka rakyat Tanimbar hanya akan menjadi penonton di tanah sendiri, sementara keuntungan besar dibawa keluar oleh para pemodal dan elite.
Lebih ironis lagi, DPRD yang seharusnya menjadi pengawas dan corong rakyat justru terlihat kehilangan arah. Sampai hari ini publik belum melihat adanya tekanan politik yang kuat dari DPRD kepada pemerintah daerah untuk membuka secara transparan roadmap kesiapan daerah menghadapi Blok Masela.
Seolah-olah lembaga legislatif ikut larut dalam euforia investasi, tetapi lupa fungsi utamanya: mengawal kepentingan rakyat.
Pertanyaannya sederhana:
Apakah Pemda dan DPRD benar-benar siap menghadapi Blok Masela, atau hanya sibuk menikmati hiruk-pikuk proyek raksasa ini?
Rakyat mulai resah karena yang tampak di lapangan hanyalah langkah-langkah parsial tanpa arah besar yang jelas.
Pengiriman 100 anak daerah untuk pelatihan teknis memang patut diapresiasi. Tetapi apakah itu cukup menjawab tantangan industri migas raksasa yang akan berlangsung puluhan tahun?
Tentu tidak.
Tanimbar membutuhkan lebih dari sekadar pelatihan simbolik.
Daerah ini membutuhkan:
– master plan ketenagakerjaan,
– master plan pendidikan,
– master plan ekonomi rakyat,
– master plan tata ruang,
– master plan perlindungan masyarakat adat,
– hingga regulasi daerah yang menjamin rakyat menjadi pemain utama, bukan korban pembangunan.
Namun sampai hari ini, publik belum melihat keberanian politik Pemda dan DPRD untuk membuka semua itu secara terang kepada masyarakat.
Yang lebih mengkhawatirkan, persoalan lahan di pusat pembangunan LNG Pulau Nus Tual pun belum benar-benar tuntas. Sengketa kepemilikan masih menyisakan pertanyaan hukum, tetapi proses proyek terus bergerak.
Lalu rakyat bertanya:
Negara ini sebenarnya sedang membangun industri, atau sedang menyiapkan konflik sosial baru di Tanimbar?
Sebab sejarah di banyak daerah membuktikan: investasi besar tanpa kesiapan pemerintah daerah hanya melahirkan kemiskinan baru, konflik tanah, marginalisasi masyarakat adat, dan ledakan kecemburuan sosial.
Blok Masela seharusnya menjadi momentum kebangkitan Tanimbar.
Tetapi tanpa visi yang jelas dari Pemda dan DPRD, proyek ini justru berpotensi menjadi awal petaka sosial yang diwariskan kepada generasi mendatang.
Karena itu rakyat tidak butuh lagi pidato penuh optimisme. Rakyat membutuhkan kejelasan.
Rakyat membutuhkan keberanian. dan yang paling penting: Rakyat membutuhkan Pemda dan DPRD yang benar-benar bekerja menyiapkan masa depan Tanimbar, bukan sekadar berdiri di barisan penyambut investor.
Karena hari ini pertanyaan rakyat bukan lagi:
“Kapan proyek ini dimulai?”
Tetapi:
“Sudah sejauh mana kesiapan Pemerintah Daerah memastikan rakyat Tanimbar tidak hanya menjadi penonton di negeri sendiri?”. AT/Redaksi)


Oleh: OMANS JB














