Penghargaan Zakat untuk Bupati Maluku Tengah: Bedak Kosmetik di Atas Luka Hunuth

Spread the love


Penghargaan Zakat untuk Bupati Maluku Tengah: Bedak Kosmetik di Atas Luka Hunuth

Ambontoday.com – Ambon – Panggung megah, piagam bergengsi, dan tepuk tangan meriah. Itulah yang didapat Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, saat menerima dua penghargaan dari Baznas di Jakarta, Kamis (28/5/2025). Maluku Tengah bahkan ikut memborong tiga kategori prestisius. Dari luar, seakan kabupaten ini sedang berada di puncak kejayaan.

Namun masyarakat tahu, semua itu hanyalah “bedak kosmetik politik” yang menutupi wajah kepemimpinan yang absen. Karena sementara bupati sibuk bergaya dengan piagam, bara konflik Hunuth-Hitu masih berasap. Hunuth, yang merupakan warga Kota Ambon, telah menjadi korban penyerangan dan pembakaran oleh warga Hitu—warga Maluku Tengah yang justru berada di bawah kepemimpinan Zulkarnain.

Bagaimana mungkin seorang bupati dielu-elukan atas kepeduliannya pada urusan zakat, sementara kepeduliannya pada tragedi kemanusiaan di depan mata justru tak terlihat? Bukankah lebih mulia menyalurkan perhatian pada korban Hunuth ketimbang menyalurkan senyum di panggung penghargaan?

Ironi ini menjadi bahan sindiran keras masyarakat: piagam boleh saja dipajang di dinding kantor, tetapi luka Hunuth tetap berdarah. Penghargaan boleh saja berderet, tetapi tangis korban tetap tak terhapus.

Lebih parah lagi, hingga hari ini polisi belum menetapkan satu pun tersangka pembakaran rumah warga Hunuth. Padahal bukti dan peristiwa sudah terang-benderang di mata publik. Polisi diminta bertindak transparan dan jangan membiarkan kasus ini berlarut-larut. Rakyat menuntut keadilan, bukan janji.

Kecurigaan masyarakat kian menguat karena kasus besar lain, seperti dugaan praktik ilegal oil yang disebut-sebut melibatkan oknum polisi, hingga kini juga tidak jelas ujungnya. Semua ini hanya mempertegas kesan: hukum sering kali tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Baca Juga  67 Nakes RSUD Umarella Sudah Jalani Vaksin Tahap 2

“Bupati boleh bersembunyi di balik kilau penghargaan, polisi boleh berlindung di balik seragam, tapi sejarah akan mencatat: ketika rakyat diserang, rumah dibakar, dan air mata tumpah di Hunuth, pemimpin tak hadir dan hukum tak bekerja,” ujar warga kepada media ini di Ambon, Jumat 29/8/2025.

Dan itulah perbedaan paling jelas antara seremonial di panggung dengan tanggung jawab di lapangan.

[Nar’Mar]

.

Berita Terkini