Mahkota untuk Santri dan Ibu, Khataman Al-Qur’an Rumah Tahfidz Darussalam Namrole Berlangsung Haru

BURSEL, AmbonToday.com — Rumah Tahfidz Al-Qur’an Darussalam Namrole, Kabupaten Buru Selatan, menggelar khataman Al-Qur’an perdana bagi santri, Sabtu (29/8/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan penuh haru. Khataman ini menjadi momentum penting bagi para santri setelah menyelesaikan proses pembelajaran membaca Al-Qur’an atau Khataman Bin Nazar.

Acara diawali dengan pembacaan basmalah, kemudian dilanjutkan dengan prosesi khatam Al-Qur’an oleh para santri. Kegiatan turut dihadiri para tuan guru, ustaz, penghulu, orang tua santri, jamaah Masjid Kompleks Zaitun, serta ibu-ibu Majelis Taklim.

Sejumlah tokoh juga tampak hadir, di antaranya Ketua Persada Mansur Mony, Anggota DPRD Kabupaten Buru Selatan Basir Solissa, Ketua HIPMI Hary Tuny, serta para tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Usai prosesi khataman, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian sertifikat kepada para santri. Mereka kemudian dipasangkan mahkota sebagai simbol penghargaan atas perjuangan dalam menyelesaikan pembelajaran Al-Qur’an.

Momen semakin haru ketika para santri mempersembahkan mahkota kepada ibu masing-masing sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih kepada sosok ibu yang selama ini mendampingi dan mendukung perjuangan mereka dalam belajar Al-Qur’an.

Dalam sambutannya, Pengurus Rumah Tahfidz Darussalam menyampaikan rasa bangga dan apresiasi kepada seluruh santri yang telah berhasil menyelesaikan Khataman Bin Nazar.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para ustaz dan ustazah yang dengan sabar, ikhlas, serta penuh dedikasi membimbing para santri.

“Selamat dan rasa bangga yang luar biasa kepada para santri yang hari ini telah menyelesaikan khatamannya. Khataman Bin Nazar bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi membutuhkan perjuangan. Hari ini buah dari kesabaran itu dapat kita saksikan bersama,” ungkapnya.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para orang tua atau wali santri atas doa, kepercayaan, serta dukungan moril dan material kepada Rumah Tahfidz Darussalam.

Baca Juga  Angin Kencang Tumbangkan Pohon Sagu, Empat Warga di BurseL Jadi Korban

Menurutnya, sinergi antara keluarga di rumah dan tempat mengaji menjadi salah satu kunci keberhasilan anak-anak dalam mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an.

“Kepada anak-anakku yang kusayangi, ingatlah bahwa khatam hari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang. Teruslah membaca dan menjaga Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari serta jadilah pribadi yang berakhlak karimah,” pesannya.

Mahmud Mukadar: Al-Qur’an Memberikan Pengalaman Spiritual yang Membekas

Sementara itu, Ustaz Mahmud Mukadar dalam sambutannya mengaku bersyukur dapat hadir menyaksikan secara langsung keberhasilan para santri dalam menyelesaikan khataman Al-Qur’an.

Ia menyebut momentum tersebut memiliki nilai spiritual yang sangat kuat, khususnya bagi para orang tua yang menyaksikan anak-anak mereka mampu menyelesaikan tahapan belajar membaca Al-Qur’an.

“Al-Qur’an itu, setiap kegiatan yang berkaitan dengannya pasti terasa bagi orang yang punya perasaan. Karena kita semua punya perasaan, kita terhanyut dalam rasa yang luar biasa,” ujarnya.

Mahmud kemudian mengutip pemikiran cendekiawan Muslim Indonesia, Nurcholish Madjid, mengenai pengalaman spiritual. Menurutnya, pengalaman spiritual dapat berlangsung singkat, tetapi meninggalkan kesan yang panjang dalam kehidupan seseorang.

Ia mengibaratkan momentum khataman yang dirasakan para santri dan orang tua pada hari tersebut sebagai pengalaman spiritual yang diharapkan dapat membekas dalam kehidupan mereka.

“Pengalaman spiritual itu mungkin singkat, tetapi efeknya abadi,” katanya.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh para santri melalui proses belajar Al-Qur’an dapat menjadi bekal penting bagi perjalanan hidup mereka.

Mahmud juga memberikan penekanan mengenai pentingnya ilmu dan peran guru dalam membentuk generasi.

Ia mengutip sebuah ungkapan hikmah tentang ilmu yang bermakna bahwa ilmu dapat menjadi perhiasan bagi seseorang yang memiliki harta, sekaligus menjadi harta bagi mereka yang tidak memiliki kekayaan.

Baca Juga  Gawat, 32 Siswa SMK Simi Terancam Tak Ikut Ujian

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya ilmu dalam kehidupan manusia, terlebih ilmu agama yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.

Ia kemudian mengajak para santri untuk terus mencintai Al-Qur’an dan tidak berhenti belajar meskipun telah menyelesaikan khataman.

“Anak-anak ini adalah anak-anak hebat dan anak-anak terbaik. Lebih lagi guru-gurunya yang luar biasa. Karena itu, mari kita doakan agar mereka terus tumbuh menjadi generasi yang mencintai Al-Qur’an,” tuturnya.

Ditutup dengan Shalawat Para Santri

Setelah rangkaian sambutan dan tausiah, kegiatan khataman Al-Qur’an Rumah Tahfidz Darussalam Namrole ditutup dengan lantunan shalawat yang dibawakan para santri.

Kegiatan tersebut menjadi momentum kebersamaan antara santri, orang tua, guru, tokoh agama, dan masyarakat dalam membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an serta memiliki akhlak mulia.

Khataman perdana Rumah Tahfidz Darussalam diharapkan tidak menjadi akhir dari perjalanan para santri, melainkan menjadi awal untuk terus membaca, memahami, mengamalkan, dan mencintai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

[ Nar’Mar ]
.

Tinggalkan Balasan

Berita Terkini