Tetes Hujan di Lateri Menyulam Duka Maluku Kepergian Ir. Said Assagaf
Said Assagaf yang berdiri tenang seolah ia masih memandang Maluku dengan cara lamanya: hening, sabar, dan penuh perhatian. Dalam ruang yang dipenuhi aroma tanah basah dan napas yang ditahan, orang-orang duduk berdekatan, membiarkan hujan dan kenangan bekerja bersama-sama menuntun mereka pada satu kenyataan: seorang pamong yang berjalan pelan itu kini telah pulang. Di dalam rumah, seorang anak muda merapikan bunga kenanga yang mulai mengering di atas meja kecil.
Ketika ia mengangkat vas itu sedikit, cahaya lampu pijar mengenai bingkai foto Ir. Said Assagaf dan membuat kaca depannya berpendar tipis. Foto itu berdiri sedikit miring, seperti benda yang sempat disentuh dengan ragu oleh seseorang yang tidak ingin terlalu lama menatap wajah yang kini hanya bisa diingat.
Tidak ada musik. Tidak ada suara doa yang diperdengarkan melalui pengeras suara. Yang ada hanya helaan napas, langkah-langkah yang ditahan, dan suara kursi plastik bergeser perlahan.
Ruang tamu itu terasa seperti halaman buku tua yang baru dibuka kembali halaman yang mencatat kehidupan seorang pamong yang tak pernah mencari sorotan. Di tengah kesenyapan seperti itu, cerita-cerita tentang Ir. Said Assagaf muncul tidak sekaligus.
Ia muncul sedikit demi sedikit, dibawa oleh orang-orang yang datang dengan mata berkaca-kaca. Mereka duduk, merapatkan tangan di pangkuan, lalu membiarkan ingatan bekerja. Setiap orang membawa potongan cerita sendiri; dan malam itu, potongan-potongan itu mulai bergabung menjadi satu alur panjang tentang seorang birokrat yang hidupnya lebih banyak terbuat dari ketekunan daripada tepuk tangan.
Di sudut ruangan, sebuah kipas angin tua bergerak lambat, mengaduk bau kopi hitam dari dapur dan aroma kayu tua yang meresap di dinding rumah. Kipas itu tidak mampu mengusir udara lembab sepenuhnya, tetapi cukup untuk membuat tirai tipis di dekat jendela bergoyang pelan. Beberapa pelayat yang baru tiba menanggalkan sandal mereka di teras, mengeringkannya sebentar sebelum masuk.
Jejak basah yang tertinggal di lantai keramik membuat ruangan itu terasa semakin hidup jejak kaki yang datang untuk mengantar duka, bukan sekadar hadir. Di meja kecil, samping foto almarhum, lilin putih dibiarkan menyala. Nyala itu tidak besar, tetapi cukup untuk memantulkan cahaya pada sudut-sudut ruangan, memperlihatkan wajah-wajah yang larut dalam kenangan.
Kepergian Ir. Said Assagaf pada 30 November 2025 bukan hanya kabar duka. Ia seperti membuka kembali pintu lama membawa orang-orang kembali pada sosok yang selama puluhan tahun mengerjakan tugas-tugas yang tidak selalu terlihat: menyusun peta, membedah grafik, menimbang program pembangunan yang harus disesuaikan dengan jarak laut dan angin antar-pulau.
Di kantor BAPPEDA bertahun-tahun lalu, ruang kerja Ir. Said Assagaf tidak pernah penuh dengan dekorasi. Hanya meja kayu yang mulai kehilangan warna, peta Maluku yang ditempel dengan pin besi, dan grafik-grafik yang warnanya memudar seiring waktu.
Tapi di ruangan sederhana itu, ia membangun sebagian besar pandangan pembangunan yang kelak dipakai Maluku. Rekan-rekannya bercerita bahwa ia sering berdiri berjam-jam mengamati peta. Ia menunjuk satu daerah, lalu mengerutkan dahi, dan bertanya apakah akses jalan ke sana sudah layak atau sekadar rencana yang belum ditulis.
βIa seperti membaca peta seperti orang lain membaca buku,β kata seorang mantan staf sambil menatap karpet yang basah di dekat kakinya. Kariernya melaju pelan: Kepala Sub Pertanian, Pejabat Wakil Kabid Penelitian, Kepala Bidang Ekonomi, kemudian Kepala Biro Bina Penyusunan Program. Setiap jabatan baru membawa tantangan baru, dan setiap tantangan baru membawa perdebatan baru.
Dalam rapat-rapat internal, ia sering menjadi pendengar yang sabar. Koordinasi antarinstansi jarang berjalan mulus. Wilayah kepulauan membuat agenda pembangunan mudah berubah hanya karena cuaca.
Anggaran datang terlambat. Proyek yang direncanakan bertahun-tahun bisa tertunda hanya karena satu jalur laut tidak dapat dilalui. Ketika ia menjadi Wakil Ketua BAPPEDA, lalu Sekda, beban pekerjaan bertambah.
Tekanan dari pusat, kebutuhan daerah, tuntutan kabupaten, dan perbedaan prioritas menjadi bagian dari hari-hari yang panjang. Masuk ke kursi Wakil Gubernur (2008β2013) dan kemudian Gubernur (2014β2019), tantangan itu berubah namun tidak berkurang. Ada proyek pariwisata yang harus dipilih dengan cermat; ada jalan di Seram, Buru, dan pulau kecil lain yang harus diselesaikan meski medan sulit; ada rencana ekonomi pesisir yang harus dibumikan.
Tetapi mereka yang dekat dengannya tahu satu hal: ia tidak mencari tepuk tangan. Ia bekerja pelan, seperti orang yang yakin bahwa hal-hal penting memang butuh waktu. Seorang staf muda berdiri di dekat pintu ruang duka, memeluk map kecil berisi beberapa dokumen lama yang entah mengapa ia bawa.
Saat ia berbicara, suaranya hampir tenggelam oleh dengung kipas. βKalau turun lapangan,β katanya, βPak Said selalu bilang: jangan bicara dulu. Lihat dulu orangnya, dengar dulu ceritanya.β Ia menghela nafas pelan. βItu yang paling melekat.β Di kursi lain, seorang tetangga yang sudah sepuh memperbaiki syal di pundaknya, lalu berkata, βKalau pulang ke Ambon, beliau itu tidak pernah ramai. Kadang turun mobil sendirian, pakai baju sederhana. Beliau biasa sekali.β Seorang keluarga dekat menatap lilin yang nyalanya semakin pendek. βAyat yang dibacakan tadiβ¦ itu ayat yang ia dengar sejak lama, setiap malam ibadah keluarga. Itu bukan sekadar rutinitas; itu bagian dari hidupnya.β Tidak ada yang mencoba merangkai pujian. Tidak ada yang menyusun kalimat-kalimat besar. Mereka hanya mengingat, dan malam itu terasa lebih lembut karenanya.
Dokumen pemerintah mencatat beberapa langkah besar yang ditinggalkan di masa kepemimpinannya: Pembenahan destinasi wisata melalui program pariwisata provinsi, pembangunan akses jalan di Seram dan Buru serta kabupaten kepulauan lainnya, penguatan ekonomi masyarakat pesisir, penguatan lembaga keuangan daerah. Di sisi lain, ada pula pekerjaan rumah yang belum selesai: kemiskinan dan ketimpangan wilayah yang membutuhkan kesinambungan lintas kepemimpinan. Hal-hal yang disadari tidak dapat selesai dalam satu periode.
Di malam duka itu, orang-orang yang datang menyadari bahwa sebagian besar jejak seorang pemimpin tidak tertulis dalam laporan akhir tahun. Jejak itu muncul dari cara ia menyapa staf, cara ia mengetuk meja pelan saat berpikir, cara ia memperbaiki letak peta yang miring. Seorang mantan kolega berkata pelan, βYang saya ingat bukan hanya proyek.
Tapi caranya menenangkan ruangan. Kadang, ia hanya memandang peta dan tiba-tiba semua orang ikut tenang.β Jejak itu hidup di antara obrolan kecil para pelayat: cerita tentang kesederhanaannya, kesabarannya, dan kebiasaannya bekerja tanpa suara. Menjelang tengah malam, lilin di meja kecil itu akhirnya menipis. Nyala kecilnya goyah sekali-dua, seperti seseorang yang mengambil napas terakhir dengan hati-hati.
Di luar, ember masih memantulkan tetesan terakhir dari talang, sebelum akhirnya berhenti. Seorang pelayat terakhir berdiri, menatap foto almarhum sejenak. Dalam tatapan itu, ada rasa yang tidak perlu bahasa rasa bahwa sebagian dari lelaki yang membaca peta Maluku dengan sabar itu akan tinggal lebih lama daripada malam yang perlahan menutup rumah Lateri. (AT/NFB)
π Anda harus masuk (login) terlebih dahulu untuk ikut berdiskusi.
π¬ 0 Komentar
π Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
Ketika APBD Tanimbar Dipakai untuk Bayar Utang Pihak Ketiga
9 months ago
Tajuk Redaksi: Transformasi Ekonomi Maluku Masih Tersendat
10 months agoJasa Raharja Jamin Biaya Perawatan Korban KA Argo Semeru yang AnjlokΒ
3 years agoSinergitas Pengawasan Laut,Β Kanwil Dirjen Bea dan Cukai Maluku Gelar Apel Bersama
3 years agoRekomendasi Untuk Anda
DPRD Maluku Dorong Peningkatan Kelompok Usaha Mikro Di KKT
Kapolres BurseL AKBP Andi P. Loren Pimpin Apel Operasi Simpatik Salawaku 2025
Tarif Tiket Kapal Laut Naik Setelah 21 Tahun Tidak Direvisi
Selama Pandemi Stok Kebutuhan Pokok di Maluku masih tersedia
Masyarakat Tak Usah Ragu, Ini Penjelasan Ketua PD Maluku Ikatan Apoteker Indonesia Soal Vaksin Sinovac