AmbonToday
Menu Utama
3067950727

Wakili Gubernur Maluku, Kepala Badan Penghubung Hadiri Tradisi Husafara 1448 H di Ancol

M

Oleh: Mozes

Saturday, 10 October 2026 | 00:14 WIT

Bagikan:
Wakili Gubernur Maluku, Kepala Badan Penghubung Hadiri Tradisi Husafara 1448 H di Ancol

Ambontoday. com, Ambon.-Mewakili Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, Kepala Badan Penghubung Provinsi Maluku di Jakarta, Saiful Indra Patta, menghadiri pelaksanaan tradisi Husafara atau Mandi Safar 1448 Hijriah yang digelar Perkumpulan Rumah Hitu, yang berlangsung di Pantai Lagoon, Ancol, Jakarta, Minggu (9/8/2026).

Kegiatan yang mengusung nilai keagamaan dan kebudayaan tersebut menjadi momentum bagi masyarakat Maluku, khususnya keluarga besar Hitu di perantauan, untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi leluhur. Pelaksanaan Husafara juga dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.

Dalam sambutannya, Patta menyampaikan salam hormat dan salam hangat dari Gubernur Maluku kepada seluruh keluarga besar Rumah Hitu dan masyarakat Maluku yang hadir.

Ia mengatakan, pelaksanaan kegiatan Husafara tersebut telah dilaporkan kepada Gubernur Maluku sebagai bagian dari perhatian Pemerintah Provinsi Maluku terhadap pelestarian adat dan budaya masyarakat Maluku di perantauan.

β€œBapak Gubernur Maluku menitipkan salam hormat serta salam hangat untuk seluruh keluarga besar Rumah Hitu dan masyarakat Maluku yang berkumpul pada hari ini. Pemerintah Provinsi Maluku sangat mengapresiasi kebersamaan warga perantauan yang konsisten merawat tradisi penolak bala ini,” ujar Patta saat menyampaikan sambutan.

Patta menegaskan, Husafara tidak hanya memiliki makna sebagai ritual adat, tetapi juga mengandung nilai spiritual, budaya dan sosial yang penting untuk terus diwariskan kepada generasi muda.

Dari sisi keagamaan, Husafara dimaknai sebagai bagian dari penguatan tauhid dan pembersihan jiwa atau *tazkiyatun nafs*. Prosesi mandi di laut yang diikuti dengan doa bersama menjadi simbol penyucian diri sekaligus ikhtiar memohon perlindungan Allah SWT dari berbagai musibah dan bala.

Tradisi tersebut juga menjadi bentuk nyata pelestarian warisan budaya leluhur.

Menurut Patta, masyarakat Hitu di perantauan telah menunjukkan komitmen untuk tetap menjaga identitas dan nilai-nilai budaya meskipun berada jauh dari tanah asal.

Karena itu, ia menyampaikan komitmen untuk berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan instansi terkait agar tradisi Husafara dapat didorong menjadi salah satu agenda dalam kalender pariwisata di Jakarta. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas pengenalan tradisi Hitu sekaligus memperkuat pelestarian budaya Maluku.

Selain aspek keagamaan dan budaya, Husafara juga menjadi ruang *bakudapa* bagi masyarakat Maluku yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Pertemuan tersebut menjadi sarana untuk memperkuat rasa kekeluargaan dan persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat perantauan.

Patta juga mengajak seluruh masyarakat Maluku di tanah rantau untuk menjaga keharmonisan, memperkuat persatuan serta turut berkontribusi dalam memelihara keamanan dan ketertiban.

β€œMari kita satukan hati, bersihkan batin, dan angkat doa bersama.

Semoga Allah SWT, Tuhan yang Maha kuasa menjauhkan kita semua dan negri ini dari segala mara bahaya bencana dan satu hati kita dalam merawat silaturahmi untuk kebaiakan bersama. Mari saling baku kele bersama tatap masa depan par Maluku pung bae” ucapnya. (Diskominfo Maluku/ AT) 

πŸ‘‹ Anda harus masuk (login) terlebih dahulu untuk ikut berdiskusi.

πŸ’¬ 0 Komentar

πŸ“­ Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama berkomentar!