Saumlaki, ambontoday.com – Duka mendalam menyelimuti warga Desa Persiapan Mitak Pantai, Kecamatan Wuarlabobar, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Pada Minggu (05/04/26), seorang ibu hamil berinisial DS harus menghembuskan nafas terakhirnya ketika mau di Rujuk ke RSUD Magrety Saumlaki.
Nyawa DS tak tertolong lantaran diduga tidak memiliki biaya (Uang) untuk proses persalinan di Puskesmas Wunla.
“Korban meninggal karena tidak punya uang untuk bersalin di Puskesmas, fatal lagi, korban yang ingin diantar dari Desa Persiapan Mitak Pantai itu namun tidak ada uang untuk beli minyak di mesin ketinting,” ujar Leo Kelmaskossu warga asal Desa Persiapan Mitak Pantai kepada ambontoday.com Senin, (6/4/2026) melalui telepon selulernya saat di hubungi.
Pria Lulusan Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Lelemuku Saumlaki (Unlesa) itu menyesal dan prihatin terhadap kasus tersebut, mengingat ada Pemerintah Desa yang semestinya dapat menjawab kondisi emergency itu.
“Aneh tapi ini nyata, menyesal tapi sudah terjadi, Pemerintah Desa seakan mati suri, lebih riskan lagi ada dua tenaga medis di Desa namun kok hal itu bisa terjadi,” kesalnya.
Lanjut Kelmaskossu, DS yang ditolong oleh Biang (orang yang mempunyai keahlian dalam membantu persalinan bagi ibu hamil) untuk bersalin, bersyukur Bayinya selamat namun air ketuban tidak bisa keluar sehingga harus dilarikan ke Puskesmas di Desa Wunla, namun setibanya di Puskesmas nyawa DS tidak bisa lagi diselamatkan.
“Biang yang menangani korban sempat meminta untuk DS ke Puskesmas agar proses persalinan berjalan baik sesuai pelayanan medis di Puskesmas, namun DS enggak setuju karena tidak mempunyai uang untuk proses persalinan di Puskesmas, biang juga memaksakan untuk harus ke Puskesmas, namun kembali dijawab DS tidak ada uang untuk membeli minyak di ketinting.
” Semestinya kondisi seperti ini Pemerintah hadir melalui Pemdes, untuk bagai mana berkoordinasi dengan pihak Puskesmas atau mengambil langkah untuk mengantar korban ke Desa Wunla, riskan benar,” ungkapnya.
Kelmaskossu meminta kepada pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, agar dapat mengevaluasi Pejabat Kepala Desa dan seluruh perangkat Desa yang dinilai tidak produktif dalam melihat keluhan dan penderitaan rakyatnya.
“Bapak Bupati Ricky Jauwerissa dan Ibu Wakil Bupati Juliana Ch Ratuanak harus bertindak tegas dan cepat untuk menyikapi persoalan, baik melalui Dinas Kesehatan maupun pihak Pemerintah Kecamatan Wuarlabobar,” pintahnya.
Ia berharap, kedepan tidak ada lagi korban serupa seperti yang dialami Sudara mereka DS, ia menilai, ini bukan persoalan biasa, tapi ini persoalan luar biasa yang harus diaikapi serius oleh Pemda Kepulauan Tanimbar, apa lagi Tanimbar mempunyai seorang srikandi Wakil Bupati yang besoknya kesehatan.
“Saya kira, ibu Wakil Bupati lebih paham prosesnya, semoga para nakes yang ditempati disemua Desa tidak seenaknya meninggalkan Desa karena di Desa selalu saja ada pasien yang harus dilayani,” harapnya.
Dari peristiwa ini, kata Kelmaskossu, pihak keluarga tidak pernah menyalahkan siapapun, karena itulah kekurangan mereka, sehingga mengakibatkan sudara, anak, ibu terkasih DS meninggal, jika ingin disalahkan juga sudah terlambat karena DS sudah meninggal.
“Permintaan keluarga ini sangat menggugah, namun ini harus dibatasi sistem pelayanan di semua Desa di Tanimbar, baik dari Pemdes, Pustu hingga seluruh pihak yang bersentuhan langsung dengan kemanusiaan, agar dapat memprioritaskan nyawa manusia ketimbang hal lai yang hanya menghibur uang rakyat,” pesannya.
Pihak Dinas Kesehatan ketika media ini berupaya untuk mengonfirmasikan kejadian luar biasa ini, namun pihak Dinas belum bisa menyampaikan apa dan bagaimana sebab terjadinya sehingga DS meninggal, pihak Dinas untuk sementara masih menunggu data yang falid dari pihak Puskesmas baru bisa di sampaikan secara resmi.
“Kepala Dina Kesehatan, Edwin Nanlohy ketika dihubungi, belum bisa memberi keterangan,”.
Sekiranya, dengan adanya peristiwa ini, Pemda lebih memperketat sistem evaluasi para nakes dalam cara melayani dan mampu memaknai berkat yang telah Tuhan Kasih untuk melayani, tenaga medis merupakan ujung tombak bagi kesehatan masyarakat. Semoga tidak ada lagi DS lain yang jadi korban di Tanimbar bumi Duan Lolat ini. (AT/BT)














Komentar