Mengenal Tradisi Pukul Sapu di Mamala dan Morella, Warisan Budaya Unik Maluku

Aroma asap belerang menyengat hidung, bercampur dengan bau minyak kelapa yang khas. Di bawah terik matahari Maluku, riuh rendah suara penonton mendadak senyap. Dua kelompok pemuda berdiri saling berhadapan di tengah lapangan terbuka. Tubuh mereka bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek dan ikat kepala kain merah yang disebut lestari.

Di tangan kanan masing-masing, tergenggam seikat lidi tebal dari pohon enau (aren). Ketegangan memuncak hingga ke ujung rambut. Begitu peluit ditiup dan tabuhan tifa bertalu-talu membelah udara, atmosfer langsung meledak.

Syat! Syat! Tar!

Suara cambukan lidi yang menghantam kulit telanjang terdengar begitu solid. Darah segar mulai merembes, mengalir di atas punggung dan dada para pemuda tersebut. Namun, anehnya, tidak ada jeritan kesakitan. Yang ada justru sorak-sorai penuh gairah dan tatapan mata yang menyala-nyala.

Selamat datang di Negeri Mamala dan Negeri Morella, Jazirah Leihitu, Pulau Ambon. Ini bukanlah pertikaian berdarah, melainkan sebuah ritual sakral tahunan yang merayakan keberanian, persaudaraan, dan keajaiban penyembuhan: Tradisi Pukul Sapu (Ukuwala Mahiate).

Akar Sejarah: Warisan Perjuangan dan Benteng Kapitan Telukabessy

Untuk memahami mengapa para pemuda ini dengan sukarela menyerahkan tubuh mereka untuk dicambuk, kita harus memutar jarum jam kembali ke abad ke-17. Tradisi Pukul Sapu bukan sekadar tontonan adrenalin, melainkan sebuah monumen ingatan atas sejarah perjuangan masyarakat Leihitu melawan penjajahan VOC Belanda.

Kisah ini bermula setelah jatuhnya Benteng Kapahaha pada tahun 1646, sebuah benteng pertahanan terakhir masyarakat asli Ambon yang dipimpin oleh Kapitan Telukabessy yang legendaris. Setelah perjuangan yang melelahkan dan penuh darah, para pejuang yang selamat ditangkap oleh Belanda.

Untuk menandai berakhirnya perang, sekaligus menguji kesetiaan dan memelihara semangat persaudaraan di antara sesama tawanan, mereka menggelar sebuah permainan ketangkasan menggunakan sapu lidi dari pohon enau.

Baca Juga  Festival Eri Akan Masuk Kalender Pariwisata

Seiring berjalannya waktu, latihan fisik para pejuang ini berevolusi menjadi sebuah ritual adat yang sakral. Tradisi ini digelar setiap tanggal 7 Syawal, atau tepat seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Bagi masyarakat Mamala dan Morella, 7 Syawal adalah hari kemenangan, hari di mana leluhur mereka merayakan kelestarian identitas dan persaudaraan yang tak bisa dihancurkan oleh peluru kolonial.

Dua Desa, Satu Tradisi, Dua Minyak Ajaib

Meskipun bertetangga dekat, Negeri Mamala dan Negeri Morella menggelar tradisi ini secara terpisah di desa masing-masing, namun dengan esensi yang sama. Uniknya, tradisi ini juga menjadi panggung pembuktian bagi dua jenis minyak penyembuh yang legendaris di Maluku.

Di Negeri Mamala, ritual ini erat kaitannya dengan sejarah penemuan minyak kelapa murni yang dikenal sebagai Minyak Mamala (Minyak Nyora). Konon, minyak ini diramu khusus oleh leluhur mereka berdasarkan petunjuk gaib untuk menyembuhkan luka-luka para pejuang dengan sangat cepat.

Sementara di Negeri Morella, mereka menggunakan Minyak Tasala. Khasiat kedua minyak ini bukanlah mitos belaka. Sesaat setelah ritual Pukul Sapu selesai, luka-luka menganga di tubuh para peserta akan diolesi oleh minyak-minyak tersebut. Ajaibnya, hanya dalam hitungan hari, luka robek akibat hantaman lidi enau akan mengering tanpa meninggalkan bekas cacat atau infeksi, dan para pemuda bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

Di Balik Arena: Prosesi Ritual yang Magis

Pukul Sapu bukanlah sekadar mencambuk tanpa aturan. Ada tata cara adat ketat yang harus dipatuhi. Peserta yang terlibat biasanya berjumlah puluhan pemuda dari masing-masing desa, yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok: Kelompok Berbaju Merah dan Kelompok Berbaju Hijau/Putih (atau tanpa baju dengan penanda khusus).

Sebelum memasuki lapangan, para peserta melakukan prosesi ritual di rumah adat (Baileo) untuk mendapatkan restu dari para tetua adat dan memohon perlindungan kepada Yang Maha Kuasa. Suasana magis begitu terasa ketika doa-doa dipanjatkan, memanggil kembali semangat para leluhur (kapitan).

Baca Juga  Penjualan Pulau Nustual desa Lermatang Mengalami Perbincangan Sengit

Begitu memasuki arena, pertunjukan dimulai dengan tarian-tarian tradisional seperti Tari Jopo dan Tari Cakalele sebagai pemanasan semangat. Ketika atmosfer sudah membakar sanubari, para peserta mulai membuat formasi.

Setiap pemuda akan berpasangan satu lawan satu. Aturannya sederhana namun menuntut nyali besar: mereka secara bergantian akan memukul punggung atau dada lawan menggunakan seikat lidi enau. Ketika satu orang memukul, yang lain harus berdiri tegak, membusungkan dada, menerima hantaman itu tanpa boleh menghindar atau membalas pada saat yang sama. Setelah itu, giliran bertukar.

Tar! Tar!

Serpihan lidi enau yang patah berterbangan di udara. Kulit yang bergesekan dengan lidi tajam langsung memerah dan mengeluarkan darah. Namun, tidak ada rasa dendam di antara mereka. Tatapan mata antar peserta bukanlah tatapan amarah, melainkan tatapan respek yang mendalam. Mereka sedang berbagi rasa sakit yang sama, seperti yang dirasakan leluhur mereka ratusan tahun silam.

Esensi Hakiki: Mengikat Gandong, Menolak Dendam

Bagi orang awam yang baru pertama kali menyaksikannya, Tradisi Pukul Sapu mungkin terlihat ekstrem atau mengandung unsur kekerasan. Namun, jika Anda melihat lebih dekat ke dalam mata para pemuda usai ritual berakhir, Anda hanya akan menemukan kedamaian dan senyuman.

Pukul Sapu adalah pengejawantahan dari falsafah hidup masyarakat Maluku, yaitu Pela Gandong (ikatan persaudaraan). Di arena, mereka boleh saling mencambuk hingga berdarah-darah, namun begitu peluit panjang ditiup tanda berakhirnya acara, semuanya berubah 180 derajat.

Dua orang yang baru saja saling melukai akan langsung berpelukan erat. Mereka saling membersihkan sisa lidi yang menempel di tubuh lawan, lalu bersama-sama berjalan menuju tempat pengolesan minyak pusaka. Di sinilah letak keindahannya: darah yang mengalir di tanah Jazirah Leihitu hari itu tidak memisahkan mereka, melainkan mengikat rasa persaudaraan mereka menjadi jauh lebih kental.

Baca Juga  Festival Eri Akan Masuk Kalender Pariwisata

“Pukul Sapu mengajarkan kami tentang sportivitas, keberanian, dan bagaimana meredam ego. Di dalam arena kami bertarung, di luar arena kami adalah saudara sekandung yang tak terpisahkan.”

Magnet Wisata Budaya Maluku yang Mendunia

Kini, Tradisi Pukul Sapu Mamala & Morella telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Setiap tanggal 7 Syawal, kedua desa ini menjelma menjadi lautan manusia. Ribuan wisatawan domestik hingga mancanegara, serta para fotografer profesional dari berbagai belahan dunia, menyemut di pinggir lapangan demi mengabadikan momen magis ini.

Tradisi ini membuktikan bahwa modernisasi tidak mampu mengikis nilai-nilai luhur yang dititipkan oleh para leluhur Maluku. Ia tetap hidup, berdenyut kencang di dada setiap generasi muda Mamala dan Morella.

Jika Anda berencana mengunjungi Pulau Ambon setelah merayakan Idul Fitri, pastikan diri Anda melangkah ke Jazirah Leihitu. Saksikan sendiri bagaimana untaian lidi enau, percikan darah, dan aroma minyak ajaib bersatu padu dalam sebuah simfoni budaya yang menegakkan bulu kuduk sekaligus menghangatkan hati melalui pesan perdamaian yang abadi.

Tinggalkan Balasan