” Dari Surabaya untuk Indonesia: Munas APEKSI Jadi Titik Temu Inovasi dan Kolaborasi Antar Kota”

Ambontoday.com_SURABAYA – Musyawarah Nasional (Munas) VII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2025 bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Bertempat di Grand City Surabaya, perhelatan ini menjelma menjadi ruang kolaborasi aktif antar-Walikota untuk berbagi inspirasi, memperkuat sinergi, dan menciptakan solusi nyata menghadapi tantangan urbanisasi masa kini.

Wakil Menteri Dalam Negeri RI, Bima Arya Sugiarto, menegaskan pentingnya efisiensi anggaran dan kerja sama yang erat antara kepala daerah dengan Forkopimda. “Munas APEKSI ini adalah momen untuk menanamkan budaya tata kelola yang lebih efisien, namun tetap berdampak besar,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi Surabaya sebagai kota dengan kapasitas fiskal kuat dan mandiri.

Walikota Ambon, Bodewin Wattimena, mengaku terinspirasi oleh penyelenggaraan acara ini. “Ada potensi luar biasa yang bisa dipelajari dari kota-kota besar lainnya. Kelebihan satu daerah bisa jadi solusi untuk daerah lain,” tuturnya, saat mengunjungi stand Ambon di City Expo, yang menarik perhatian dengan tema Ambon City of Music.

Sementara itu, Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, selaku tuan rumah sekaligus Ketua Dewan Pengurus APEKSI 2025, menyebut forum ini sebagai “rumah bersama” bagi seluruh pemimpin kota. Ia menekankan pentingnya berbagi solusi dan inovasi antar daerah.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, juga turut memberikan pandangan strategis. “Transformasi digital, perubahan iklim, dan urbanisasi harus dijawab bersama melalui kerja kolektif antarkota,” katanya, mengajak seluruh kota di Jawa Timur dan Indonesia bersatu dalam visi pembangunan berkelanjutan.

Lebih dari sekadar diskusi, Munas APEKSI 2025 adalah ruang nyata belajar dan bertumbuh bersama. Dari City Expo hingga sesi pleno, para pemimpin kota menunjukkan bahwa kolaborasi adalah kunci menghadapi masa depan yang inklusif dan tangguh.( o.l )

Baca Juga  Berikut adalah versi berita serimonial dari rilis tersebut, dengan judul yang menarik: --- Pemkot Ambon Tegaskan Komitmen Penataan Pasar Batu Merah: Tidak Sekadar Menertibkan, Tapi Juga Mencarikan Solusi AMBON, 25 Juni 2025 — Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon menegaskan bahwa penataan Pasar Batu Merah merupakan bagian dari komitmen serius dalam 17 Program Prioritas Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ambon, khususnya pada prioritas ke-4. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Pemkot Ambon, Ronald Lekransy, Rabu (25/6), dalam keterangan resminya kepada awak media. Lekransy menjelaskan bahwa kebijakan terkait Pasar Batu Merah telah melalui kajian yang matang dan komprehensif, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kebutuhan masyarakat, strategi penanganan, hingga dampak sosial dan ekonomi yang mungkin timbul. > “Penataan Pasar Batu Merah bukan keputusan yang diambil secara sepihak atau terburu-buru. Ini bagian dari strategi besar Pemerintah Kota dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tegasnya. Wali Kota Ambon, Bodewin Watimena, lanjut Lekransy, secara konsisten menekankan bahwa penataan pasar harus tetap berpihak kepada rakyat, terutama para pedagang kecil. Maka dari itu, dalam proses penertiban ini, pemerintah juga memikirkan solusi jangka panjang dan alternatif tempat yang layak bagi para pedagang. > “Tidak mungkin pemerintah mematikan ekonomi masyarakat. Kita tertibkan, tapi juga harus beri solusi. Ini soal keberlangsungan hidup para pedagang,” ujar Lekransy. Ia menambahkan, Pasar Batu Merah telah eksis sejak lama dan berkembang secara alami bersama dinamika kawasan Batu Merah. Oleh karena itu, upaya penataan tidak bisa dilakukan secara instan atau represif, melainkan secara bertahap dan terukur. Saat ini, Pemkot Ambon mengambil langkah penataan, bukan penertiban dalam arti sempit. Pedagang dilarang menempati badan jalan, namun sementara waktu diberi ruang di trotoar hingga pembangunan pasar dan solusi permanen disiapkan. Lekransy juga meluruskan pernyataan yang sempat beredar di media sosial dan beberapa media lokal, terkait tudingan bahwa Wali Kota Ambon kurang berani dalam menangani persoalan Pasar Batu Merah. > “Ini bukan soal nyali. Pemerintah punya strategi. Penanganan pasar ini mempertimbangkan aspek sosial untuk menghindari konflik, aspek ekonomi agar ekonomi tetap tumbuh, dan aspek keadilan agar semua warga merasa diperlakukan setara,” katanya. Ia menegaskan bahwa Pemkot terbuka terhadap kritik dan masukan, namun mengimbau agar penyampaian di ruang publik tetap menjaga nilai-nilai budaya ketimuran dan mengedukasi masyarakat secara positif. Sebagai penutup, Lekransy berharap seluruh pihak, termasuk DPRD, bisa bekerja sama dalam semangat kolaborasi untuk menciptakan solusi terbaik bagi masyarakat Kota Ambon. > “Kami berharap penataan pasar ini tidak hanya menjadi solusi sesaat, tapi menjadi langkah berkelanjutan menuju kota yang lebih tertib, adil, dan sejahtera,” tutupnya. --- Jika Anda menginginkan versi cetak, infografis, atau teks untuk media sosial juga, saya bisa bantu menyusunnya.

Tinggalkan Balasan