Bajak Laut Berkedok Penguasa: Perairan Seira Jadi Neraka, Nelayan Dirampok Habis!

Foto Ilustrasi

Maluku, Ambontoday.com – Perairan Seira tak lagi menjadi medan rezeki, melainkan neraka cair yang siap menelan bulat-bulat para pencari nafkah. Praktik penagihan retribusi liar yang berlangsung saat ini bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, melainkan aksi kejam yang kian hari kian brutal, biadab, dan tanpa perikemanusiaan. Laut yang seharusnya memberi kehidupan kini dikuasai oleh rasa takut yang mencekat leher. Minggu, (2/8/2026)

Bukan cuma oknum pemerintah desa yang berulah, melainkan sekelompok pemuda garang dan oknum-oknum tak bertanggung jawab yang mengklaim diri sebagai “pemilik petuanan.” Dengan gaya menyerupai bajak laut, mereka nekad memanjat dinding-dinding kapal bale-bale, mengintimidasi para nelayan, lalu memeras uang hasil keringat orang-orang kecil yang mengarungi samudera demi menyambung hidup keluarga mereka.

Praktik haram ini ibarat aksi vampir modern yang secara nyata menghisap darah dan air mata nelayan bale-bale. Nelayan yang berjuang bertaruh nyawa di tengah ganasnya gelombang dan badai, di atas air justru harus berhadapan dengan moncong intimidasi orang-orang yang rakus akan uang haram tanpa legalitas.

Salah satu pemilik petuanan Sukler yang sah, Tomi Lenunduan, membongkar habis kebobrokan serta kejahatan yang membelenggu wilayah perairan tersebut. Dengan nada geram, ia mengecam keras aksi pemerasan liar yang telah melumpuhkan dan merampas kedamaian para nelayan kecil di laut lepas.

“Nelayan-nelayan tersebut sudah berkontrak dengan kami pemilik petuanan, melalui MoU yang resmi dan legal! Dengan demikian, segala sesuatu yang terjadi di atas laut, seperti pemerasan dan penagih-penagih liar di atas kapal-kapal bale-bale tersebut tanpa sepengetahuan kami pemilik petuanan, ini adalah kejahatan murni dan akan kami proses hukum secara tuntas!” tegas Tomi Lenunduan dengan raut wajah berang.

Baca Juga  Mahasiswa KKT-Ambon Terima Bantuan Sembako Dari Andreas JW Taborat dan Virgia Andrea Werembinan

“Ingat, kapal-kapal yang berlabuh di Petuanan Sukler itu bukan kapal ilegal! Mereka punya izin lengkap dan punya kontrak yang jelas! Siapa pun oknum yang berani naik dan memeras mereka tanpa hak, berarti sedang menantang hukum dan menginjak-injak hak kami sebagai pemilik petuanan yang sah!” tambah Lenunduan menusuk.

Penderitaan para nelayan semakin menjadi-jadi dengan munculnya klaim petuanan abal-abal yang dinamai Temin Len. Di area ini, kebiadaban makin tak terkendali; nelayan-nelayan yang menambatkan kapal diperas secara paksa dan ditagih uang ngase tanpa sedikit pun sepengetahuan atau izin dari Pemerintah Desa Seira Blawat.

“Benar-benar biadab dan tak berperikemanusiaan! Bahwa penagihan liar yang dilakukan itu dipimpin langsung oleh Ampi Natar! Ini adalah perbuatan yang paling brutal, paling tidak beradab, dan secara sengaja mengorbankan para nelayan bale-bale yang tidak berdaya!” bongkar Tomi Lenunduan menunjuk hidung sang dalang.

“Kondisi di laut sudah sangat kacau dan mencekam! Nelayan-nelayan kecil itu dibuat bingung setengah mati, cemas, dan ketakutan setiap kali ada perahu mendekat. Mereka bingung harus menyetor retribusi ke siapa apakah ke pemdes yang sah, atau ke oknum-oknum tertentu yang melakukan penagihan liar berpotensi pidana ini? Ini penjahat yang memanfaatkan situasi!” seru Lenunduan.

Laut Seira kini menjadi tempat yang sangat tidak aman, di mana ancaman dan pemerasan mengintai di balik setiap gelombang. Jika kondisi teror psikologis dan finansial ini terus dibiarkan tanpa tindakan nyata, perairan ini dipastikan akan berubah menjadi ladang konflik berdarah antara nelayan yang bertahan hidup melawan oknum pemeras.

Menanggapi situasi yang kian kritis dan berdarah-darah ini, Tomi Lenunduan melayangkan desakan keras dan tajam kepada aparat penegak hukum terdepan di wilayah perairan agar tidak menutup mata atas penderitaan rakyat kecil.

Baca Juga  Polres BurseL Apel Operasi Lilin Salawaku 2024 Amankan Nataru

“Kami mendesak Pol Air dan TNI Angkatan Laut untuk tidak tinggal diam! Segera turun ke laut, sikat, dan tindak tegas oknum-oknum yang melakukan penagihan liar ini! Aksi brutal mereka telah menghancurkan rasa aman dan membuat nelayan-nelayan tidak lagi nyaman apalagi selamat saat mencari makan di laut!” desak Lenunduan dengan nada menekan.

“Jangan beri ruang sedikit pun untuk premanisme di laut kita! Tindakan paling keras dan tegas harus segera dilakukan sekarang juga, agar oknum-oknum penjahat tersebut benar-benar mendapat efek jera yang mematikan niat jahat mereka kembali!” pungkas Lenunduan mengakhiri pernyataannya. (*)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkini