BUAL BIPOLO, BUKAN BUPOLO: MELURUSKAN NAMA DAN MAKNA ASAL PULAU BURU
BUAL BIPOLO, BUKAN BUPOLO: MELURUSKAN NAMA DAN MAKNA ASAL PULAU BURU
Oleh: Sami Latubual
PENDAHULUAN
"Yang keliru dibiasakan, yang benar diabaikan." Dalam soal nama, kita sering kalah oleh pengulangan. Nama tempat adalah arsip. Di dalamnya tersimpan kosmologi, sejarah, dan identitas.
Hari ini kita menghadapi tiga distorsi sekaligus: BUPOLO, BUMI LALEN, dan DANAU RANA.
Tulisan ini bertujuan meluruskan berdasarkan tuturan lisan, perumpamaan leluhur, dan struktur bahasa Buru.
1. BUAL BIPOLO: MAKNA ASLI DAN PERUMPAMAAN LELUHUR
Nama awal pulau ini adalah BUAL BIPOLO. Nama ini bukan sekadar label, melainkan perumpamaan yang dipakai leluhur untuk menggambarkan keadaan pulau pada awal penciptaan.
BUAL = Pulau.
BIPOLO berasal dari dua kata: BIA POLON.
Dalam tuturan adat Snarun Elen, disebut lengkap:
"Filim betu Bual na bapuna Bipolon".
Artinya: _Permulaan batu/tanah atau dasar pulau ini, bentuk awalnya adalah Bipolon._
Apa itu Bipolon?
Bipolon adalah perumpamaan. Para leluhur mengilustrasikan bahwa pada masa itu, permukaan tanah di atas pulau dan bumi ini masih lembek, masih basah, belum kering.
Inilah cara leluhur memberi nama. Mereka tidak asal menyebut, tetapi memberi nama sesuai kondisi alam yang sebenarnya.
Jadi BIA POLON atau BIPOLON bermakna: _keadaan permukaan tanah yang masih lembek pada awal mula penciptaan._
Dengan demikian, BUAL BIPOLO berarti: _Pulau yang pada awal penciptaannya permukaan tanahnya masih lembek dan basah._
2. DEKONSTRUKSI ISTILAH "BUPOLO"
Istilah "BUPOLO" tidak memiliki akar bahasa dan tidak memiliki perumpamaan.
Kemunculannya disebabkan oleh dua hal:
Pertama, folk etimologi yang keliru. Dicocok-cocokkan dengan kata "dampolot" lalu dikaitkan dengan RANA yang berlumpur.
Padahal BIPOLO tidak dimaknai sebatas RANA. Maknanya mencakup keseluruhan pulau, bukan hanya satu titik.
Kedua, reproduksi sosial. Diulang-ulang tanpa memahami makna, lalu dianggap benar karena banyak yang memakai.
BUPOLO menghilangkan filosofi dalam BIA POLON.
Ia hanya bunyi yang mirip, tetapi kosong makna.
3. PELURUSAN "BUMI LALEN" DAN "DANAU RANA".
Ada dua kekeliruan lain yang perlu diluruskan:
"Pertama: "BUMI LALEN"
Banyak orang mengartikan "Bumi Lalen" sama dengan Rana atau danau. Ini adalah penyempitan makna.
"Bumi Lalen" memiliki makna yang jauh lebih luas dan berkorelasi langsung dengan Bual Bipolo, yaitu merujuk pada bumi pada masa awal penciptaan. "Lalen" di sini bermakna kondisi awal, belum sempurna, masih basah. Dengan demikian, "Bumi Lalen" dan "Bual Bipolo" adalah dua istilah yang saling menguatkan dalam kosmologi awal mula.
Kedua: "DANAU RANA"
Ini adalah kesalahan paling mendasar dalam bahasa.
Dalam bahasa Buru: RANA = DANAU. Jadi jika kita mengatakan "Danau Rana" artinya "Danau Danau". Ini pleonasme.
Sebutan yang benar adalah RANA LALEN.
Perlu dicatat, RANA LALEN memiliki dua nama: nama asli dan nama panggilan. Dalam kebiasaan orang Buru disebut: _Ngan soso tu ngan tahit tama._
4. SNARUN ELEN: TUTURAN YANG SARAT MAKNA
Dalam adat Buru ada istilah SNARUN ELEN, yaitu tuturan yang sarat atau penuh makna.
Di dalamnya tersimpan silsilah penamaan tempat:
_"Bual Polpito geran ne lawe tapi madun eknafen na Bual Polha, Bual Bipolo pa da puna Bual Polpito geran pito"_
Kalimat adat ini adalah bukti. Di dalamnya disebut Bual Bipolo. Tidak ada kata "Bupolo".
Hal ini menunjukkan bahwa dalam khazanah bahasa dan adat, yang diakui sejak awal adalah BIPOLO.
5. PARADOKS, TANTANGAN, DAN REKOMENDASI
Ironisnya, yang paling keras mempertahankan "BUPOLO" justru sering:
1. Tidak fasih berbahasa Buru
2. Tidak tahu identitas diri
3. Tidak paham makna kata
4. Datang setelah pulau ini sudah banyak dihuni masyarakat
Rekomendasi:
1. Mulai dari diri sendiri: Kita konsisten menggunakan kata BIPOLO dan RANA LALEN dalam percakapan, tulisan, dan nama komunitas.
2. Dokumentasi dan Edukasi: Para pemerhati budaya, guru, dan mahasiswa perlu mencatat tuturan lisan para tetua dan menyebarkannya melalui tulisan, seminar, dan media.
3. Koreksi Bersama: Media lokal dan pegiat sejarah perlu sama-sama meluruskan penggunaan bahasa yang benar di ruang publik.
4. Pahami Konteks Waktu: Nama BIPOLO adalah nama pada masa awal penciptaan pulau. Setelah pulau ini mulai banyak dihuni manusia, penyebutan dan pemaknaan juga berkembang.
Namun akar nama asal tetap harus kita jaga agar tidak hilang ditelan waktu.
5. Terbuka untuk Diskusi: Bagi yang tetap berpendirian bahwa "BUPOLO" yang benar dan menganggap "BIPOLO" keliru, kami mengajak untuk berdiskusi terbuka. Mari adu data, adu bahasa, dan adu rujukan. Jelaskan: Dari bahasa apa "Bupolo"?
Apa artinya? Apa dasar sejarah dan kosmologinya? Kita luruskan bersama demi kebenaran, bukan demi menang-menangan.
PENUTUP
Meluruskan memang berat.
Tetapi jika kita diam, maka anak cucu kita hanya akan mewarisi nama yang kosong.
Mari kembali ke pangkal: BUAL BIPOLO.
Mari gunakan bahasa dengan benar: RANA LALEN.
Mari jaga adat dengan benar: SNARUN ELEN.
"Luruskan yang bengkok. Betulkan yang salah. Demi BUAL BIPOLO."
đ Anda harus masuk (login) terlebih dahulu untuk ikut berdiskusi.
đŦ 0 Komentar
đ Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
KNPI Bursel Pertanyakan Hasil Perjalanan Dinas Bupati: Uang Daerah Keluar, Apa Hasil untuk Bursel?
1 day ago
DPRD Bursel Minta Dokumen Perubahan KUA-PPAS Segera Diserahkan, Soroti PAD hingga Dana Kapitasi JKN
1 day ago
KNPI BURSEL MINTA BUPATI LA HAMIDI HENTIKAN BONGKAR-PASANG KEPSEK DAN PJ DESA: JANGAN BIARKAN DESA TERUS BERGELOMBANG
1 day ago
18 Tahun BurseL, PERISAI Gelar Dialog Publik: Refleksi Komitmen Pemekaran dan Kesejahteraan Rakyat
3 days agoRekomendasi Untuk Anda
Wujudkan Polri Presisi, Kapolres MBD Hadirkan 14 Program Kearifan Lokal
Babinsa Koramil 1504-05 Leihitu Barat Berikan Bantuan Bagi Siswa
Jasa Raharja Berpartisipasi dalam Kegiatan Bakti Sosial Polisi Peduli
DPRD Kota Ambon Periode 2024-2029: Momentum Baru untuk Pelayanan Masyarakat
Dinas Pendidikan Kota Ambon Jadwalkan Tes Terstandar SPMB pada 17 Juni 2025