
Bursel, Ambontoday.com – Sore itu, mentari Ramadhan perlahan merunduk di ufuk barat Waesama. Di sela angin yang berhembus lembut dan tanah yang baru saja diolah, langkah-langkah penuh semangat terlihat di hamparan lahan Desa Waelikut, Kecamatan Waesama, Senin (23/02/2026) pukul 16.00 WIT.
Di atas lahan seluas dua hektar, Polsek Waesama menanam jagung pipil—bukan sekadar benih, tetapi juga harapan akan kemandirian dan kesejahteraan.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung Kapolsek Waesama, Ipda Novi Waelauruw, S.H., bersama jajaran personel. Mereka bergandengan tangan dengan Pejabat Desa Waelikut, Kajur Pertanian SMK Negeri 06 Buru Selatan, tenaga penyuluh pertanian, kelompok tani, serta masyarakat setempat.
Kebersamaan itu menjadi gambaran nyata sinergi antara Polri, pemerintah, dan warga dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.

Sebelum benih ditanam, lahan terlebih dahulu dibersihkan dan diolah dengan cermat. Tanah yang semula sunyi kini menjadi saksi kerja bersama. Bibit jagung pipil unggul pun ditabur, dengan harapan kelak tumbuh subur dan memberikan hasil panen yang maksimal.
Kapolsek Waesama, Ipda Novi Waelauruw, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya bagian dari dukungan terhadap program swasembada pangan pemerintah, tetapi juga sebagai ajakan moral bagi masyarakat untuk memanfaatkan lahan kosong secara produktif.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bersama-sama mengelola lahan pertanian sehingga dapat meningkatkan perekonomian keluarga dan ketahanan pangan di wilayah Waesama,” ujarnya.
Di bulan suci yang identik dengan kesabaran dan keberkahan ini, penanaman jagung pipil menjadi simbol ikhtiar. Sebagaimana Ramadhan mengajarkan arti menahan dan menumbuhkan kebaikan, demikian pula benih-benih itu ditanam dengan doa agar kelak berbuah manfaat.
Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman, tertib, dan lancar. Polsek Waesama menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program-program pemerintah yang berdampak positif bagi masyarakat.
Di tanah Waelikut, Ramadhan bukan hanya tentang ibadah di masjid, tetapi juga tentang kerja nyata di ladang—menanam asa, menjaga pangan, dan merawat masa depan bersama.
[Nar’Mar]
.




















Komentar