Abrasi Ancam Pemukiman, Ombak Ganas Buru Selatan Gerus Pesisir Namrole

Spread the love


Abrasi Ancam Pemukiman, Ombak Ganas Buru Selatan Gerus Pesisir Namrole

Namrole, Ambontoday.com – Musim ombak di Kabupaten Buru Selatan kembali menunjukkan keganasannya. Sejak pertengahan November, gelombang samudera menghantam garis pantai dengan kekuatan tak lazim, mengikis bibir-bibir pesisir yang selama ini menjadi pelindung bagi rumah-rumah warga.

Pada 24 November, hantaman gelombang mengakibatkan abrasi kembali melanda sejumlah titik di desa-desa pesisir, membuat pemukiman warga berada dalam ancaman serius.

Di sepanjang Pantai Namrole, tembok penahan ombak yang berdiri bertahun-tahun kini roboh satu per satu. Hantaman gelombang yang tinggi menyeret material, memakan daratan perlahan, dan mengarah langsung ke rumah-rumah yang berdiri di tepi pantai. Beberapa hunian bahkan diinformasikan kepada media ini berada hanya sejengkal dari jurang abrasi, terancam ambruk bila gelombang besar terus terjadi.

“Setiap kali ombak datang, kami hanya bisa pasrah. Rumah-rumah ini bisa habis dibawa ombak kapan saja,” ungkap sejumlah warga kepada media ini. Mereka berharap Pemerintah Daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) segera turun tangan melakukan penanggulangan darurat guna mencegah kerusakan yang lebih besar.

Ganasnya Samudera Buru Selatan

Samudera di selatan Pulau Buru dikenal sebagai wilayah dengan dinamika gelombang yang ekstrem, terutama pada peralihan musim. Angin timur dan tekanan cuaca yang berubah cepat kerap membangun gelombang tinggi yang menghantam pesisir tanpa kompromi. Laut yang biasanya jinak berubah menjadi dinding air yang bergemuruh, menyapu apa saja yang tak cukup kuat bertahan.

Ganasnya ombak Buru Selatan bukan sekadar fenomena musiman, tetapi sebuah peringatan bahwa pesisir selalu hidup berdampingan dengan ancaman alam. Ketika tembok penahan ombak runtuh, yang tersisa hanyalah garis pantai rapuh yang harus menghadapi kekuatan laut sendirian.

Baca Juga  PESAN Kapolres BurseL Pada Gelar Apel Pasukan Operasi Patuh Salawaku 2025

Menurut berbagai kajian lingkungan dan laporan lembaga kebencanaan di Indonesia, abrasi pantai merupakan proses pengikisan tanah oleh gelombang laut, arus, dan pasang surut. Di banyak wilayah, abrasi meningkat akibat:

> Gelombang tinggi dan badai musiman

> Hilangnya vegetasi pantai seperti mangrove

> Kerusakan atau minimnya infrastruktur penahan ombak

> Kenaikan muka air laut secara global

Abrasi yang tidak ditangani dapat menggerus daratan hingga beberapa meter per tahun dan berpotensi memindahkan permukiman warga secara permanen.

Harapan Warga

Masyarakat di pesisir Namrole berharap pemerintah daerah segera meninjau kondisi terkini dan melakukan langkah-langkah penanggulangan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

“Kami minta perhatian penuh dari pemerintah, khususnya BPBD. Jangan sampai rumah-rumah kami hilang satu per satu sebelum ada penanganan,” tegas warga dengan nada cemas.

Bagi warga pesisir, setiap malam kini terasa lebih panjang dan lebih sunyi, karena mereka menunggu apakah ombak akan datang membawa ancaman baru, atau apakah pertolongan akan tiba sebelum itu terjadi.

[Nar’Mar]
.