RSUD PP Magretti: Pawai Mayat dan Monumen Pembantaian Pemda Tanimbar

Foto Ilustrasi

Saumlaki, Ambontoday.com – Di tanah Tanimbar, erangan kesakitan rakyat tak lagi membumbung sebagai doa memohon kesembuhan, melainkan telah menjelma menjadi belasungkawa dingin sebuah kidung perpisahan dari balik tirai maut yang siap merenggut nyawa kapan saja. Rabu, (29/7/2026).

RSUD Ukurlaran atau RSUD PP Magretti yang digadang-gadang sebagai benteng terakhir penyelamat jiwa kini telah menjelma menjadi pabrik pencabut nyawa yang dingin dan mencekam; tempat di mana harapan kesembuhan dibantai tanpa ampun, dan lorong-lorong kusamnya bertransformasi menjadi gerbang jagal yang menghirup nafas terakhir rakyat kecil tanpa penyesalan.

Kondisi pelayanan medis di fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah itu bukan lagi sekadar memburuk, melainkan telah membusuk hingga ke titik nadir paling kelam. Lorong-lorong rumah sakit berubah menjadi tempat penantian ajal yang dingin, dimana stok obat-obatan esensial ludes tak berbekas dan keberadaan dokter spesialis hanyalah mitos yang mustahil ditemui.

“Rakyat datang menyeret sisa-sisa harapan untuk sembuh, namun tempat ini hanya menyediakan jalur cepat menuju liang kubur,” bisik seorang warga dengan nada gemetar, meminta namanya dirahasiakan demi keselamatan jiwa.

“Mereka tidak sedang berobat; mereka hanya sedang mengantri giliran untuk dipulangkan dalam peti mati dan tidak pernah sembuh oleh pertolongan medis.”

Tragedi paling biadab berulang di ruang penyakit dalam, di mana nyawa manusia melayang begitu murah akibat kekosongan fatal obat-obatan esensial. Para penderita yang seharusnya masih memiliki peluang hidup justru bertumbangan satu per satu, meregang nyawa di atas ranjang dingin sementara lemari farmasi rumah sakit berdiri membisu melompong bak kuburan kosong.

Banjir mayat dan deret kematian tak tertolong ini akhirnya meletupkan amarah yang membakar dada warga lokal. Tanpa ragu, masyarakat melabeli RSUD PP Magretti bukan lagi sebagai tempat penyembuhan, melainkan sebuah “Rumah Kematian” pabrik pencetak mayat yang menjemput maut sebelum waktunya.

Baca Juga  67 Nakes RSUD Umarella Sudah Jalani Vaksin Tahap 2

“RSUD PP Magretti bukan lagi rumah sakit, ini adalah penjagal massal yang terus memangsa nyawa warga tak berdaya. Bangunan ini telah menjelma trauma mengerikan yang menghantui benak setiap orang,” cetus sumber tersebut dengan suara bergetar menahan amarah yang hampir meledak.

Seolah sengaja menyiksa rakyat yang sedang sekarat, rumah sakit ini menjalankan skema paling biadab: pasien menahan nyeri mengerikan sementara keluarga mereka dipaksa meraba dalam gelap, berburu obat ke apotek luar yang lokasinya sangat jauh.

Di sepanjang jalan yang panjang dan menyiksa itu, waktu terus berpacu dengan maut sebelum akhirnya sang pasien menghembuskan napas terakhir tanpa sempat menyentuh obat yang dicari.

“Rumah sakit di tempat lain, klinik di tempat lain, sudah begitu kliniknya jauh betul. Kenapa tidak bisa bangun klinik sendiri kalau harus bermitra dengan klinik yang jauh begitu?” cecar warga lokal lainnya dengan penuh kekecewaan.

Ia menegaskan bahwa pembusukan tata kelola logistik ini adalah bentuk kesengajaan yang memeras darah rakyat kecil. Dengan dalih kelangkaan, oknum internal sengaja mengarahkan rantai bisnis obat ke luar, membiarkan keluarga pasien yang panik bertaruh nyawa berlari kesetanan menembus jarak demi setetes obat yang seharusnya ada di meja perawatan.

Di titik inilah, fasilitas medis itu berubah menjadi ruang eksekusi mati berdarah dingin. Ketika krisis merenggut nyawa di ambang siang atau kegelapan tengah malam, pintu-pintu klinik luar terkunci rapat tanpa ampun, memutus satu-satunya harapan dan membiarkan pasien tewas bertahap dalam siksaan nyeri yang tak tertahankan.

“Kalau kondisi gawat darurat terjadi di jam-jam kritis seperti itu, klinik mana yang buka?! Ini bukan lagi soal pelayanan buruk, ini pembunuhan berencana terhadap rakyat!” teriak seorang anggota keluarga pasien, suaranya pecah meratapi kebiadaban sistem yang telah merenggut nyawa kerabatnya.

Baca Juga  Adriaansz Benarkan Walikota Ambon Positif Corona

Di atas tumpukan mayat dan penderitaan rakyat yang sekarat, Pemerintah Daerah Kepulauan Tanimbar justru menari-nari di atas anggaran daerah, membuang miliaran rupiah demi pesta seremonial yang tak berguna. Kebijakan ini bukan lagi sekadar bentuk ketidakpedulian, melainkan pengkhianatan berdarah dingin yang secara sadar menukar nyawa manusia demi formalitas kosong dan citra semu.

“Uang daerah dibakar begitu saja untuk acara sampah! Daripada ratusan juta melayang sia-sia untuk seremoni tak berotak, alihkan ke obat-obatan yang bisa menyambung nyawa rakyat! Kebijakan ini lahir dari pimpinan gila yang malam bermimpi, paginya langsung mengeksekusi nasib ratusan ribu jiwa secara sembarangan!” semprot narasumber lain, suaranya sarat akan murka dan dendam atas bobroknya perencanaan anggaran tersebut.

Krisis kepercayaan ini telah mencapai titik didih paling membakar. Rakyat Tanimbar yang kelelahan dimangsa sistem kini berpaling penuh keputusasaan, memohon dan mendesak hadirnya Rumah Sakit Tentara (RST) satu-satunya benteng pertahanan terakhir untuk menyelamatkan mereka dari algojo birokrasi yang terus meminum darah rakyat sendiri.

“Lebih baik Rumah Sakit Tentara berdiri di tanah ini daripada mempertahankan sarang pembantaian itu! Rakyat Tanimbar jauh lebih percaya pada ketulusan tentara yang datang mengobati dengan ikhlas, menyelamatkan nyawa yang nyaris melayang. Di tangan mereka, orang-orang benar-benar disembuhkan bukan diserahkan pada algojo RSUD Kematian untuk dijadikan mangsa berikutnya!” tegas warga tersebut, menutup kesaksiannya dengan jeritan nurani yang menghujam langsung ke jantung kekuasaan.

Hingga berita ini diturunkan, bayang-bayang ketakutan masih mengepung warga yang membutuhkan pertolongan medis, menanti keadilan dan ketegasan pemerintah untuk merombak total RSUD PP Magretti sebelum korban jiwa terus berjatuhan. (AT/NFB)

Tinggalkan Balasan