
Saumlaki, Ambontoday.com – Topeng profesionalisme korporasi raksasa asal Jepang, Inpex Masela, dinilai runtuh total di tanah Tanimbar. Bukan hanya mempertontonkan diskriminasi yang menyayat hati, Inpex Masela kini menjadi sorotan tajam akibat tata kelola manajemen media yang dinilai sangat acak-acakan, amatir, dan terkesan amburadul dalam memperlakukan jurnalis lokal.
Selama bertahun-tahun menjelang groundbreaking Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela, wartawan lokal di Kepulauan Tanimbar dipaksa menelan pil pahit akibat pola kerjasama yang tidak profesional. Media-media lokal yang sehari-hari bertaruh keselamatan meredam gejolak sosial di tapak proyek, justru ditempatkan pada posisi paling bontot seolah tidak memiliki arti.
Kepada Ambontoday.com Yopi Frans Manunwembun salah seorang jurnalis di Tanimbar mengatakan, Manajemen Inpex Masela dinilai sama sekali tidak memiliki cetak biru kemitraan yang jelas dan bermartabat dengan pers lokal Tanimbar. Hubungan komunikasi yang dibangun selama ini sangat primitif, satu arah, dan sarat akan kesan meremehkan fungsi kontrol sosial wartawan daerah.
Puncaknya, pada liputan Groundbreaking di Lermatang, kebobrokan manajemen ini terpampang nyata dan langsung menusuk jantung kehormatan pers lokal. Inpex secara terang-terangan mempertontonkan perlakuan yang sangat menghina dengan memberikan tas, topi, dan “uang receh” sebesar Rp250 ribu kepada para jurnalis Tanimbar.
Tidak berhenti di situ, penghinaan ini diperparah dengan pembagian payung, termos kecil, dan sebuah tas kecil untuk HP. Bingkisan murahan ini dinilai sebagai bentuk pelecehan simbolis, seolah-olah harga diri dan peluh keringat wartawan Tanimbar bisa dinilai setara dengan barang loakan.
Pemberian uang receh Rp250 ribu, payung, tas untuk HP, dan termos kecil ini dipandang sebagai blunder terbesar yang paling merendahkan profesi wartawan di Tanimbar.
Raksasa migas dengan anggaran ratusan triliun rupiah ini tega memperlakukan mitra informasi lokalnya layaknya peminta-minta di tanah mereka sendiri.
Ironisnya, media lokal di Tanimbar selama ini selalu pasang badan untuk membantu meredam isu-isu miring dan konflik panas di tengah publik akibat ketidakpastian operasional Inpex.
Wartawan lokal bertindak sebagai pemadam kebakaran, menenangkan masyarakat agar investasi ini tetap bisa berjalan dengan kondusif.
Namun, air susu dibalas dengan air tuba; ketika ketenangan daerah sudah tercipta menjelang groundbreaking, manajemen Inpex Masela justru mencampakkan wartawan Tanimbar.
Mereka seolah lupa bahwa stabilitas yang mereka nikmati hari ini adalah hasil dari kontribusi pemberitaan pers lokal yang berimbang.
Blunder fatal yang terus dipelihara oleh manajemen Inpex Masela adalah kebijakan pilih kasih yang luar biasa ekstrem dan diskriminatif.
Manajemen lebih memilih memanjakan, mendanai, dan memfasilitasi secara mewah media-media dari luar daerah seperti Jakarta dan Ambon.
Perlakuan istimewa dan ultra-eksklusif diberikan kepada wartawan luar yang tidak tahu-menahu bagaimana darah dan keringat wartawan lokal tertumpah di lapangan demi menjaga situasi tetap aman.
Dana fantastis digelontorkan untuk media luar, sementara media lokal di Tanimbar dibungkam dengan bingkisan yang menghinakan.
Hingga detik ini, jurnalis di Tanimbar tidak pernah merasakan adanya bentuk kerja sama yang sehat, transparan, dan profesional dengan Inpex Masela.
Perusahaan multinasional ini lebih memilih menutup pintu bagi media lokal dan hidup dalam menara gading mereka sendiri yang angkuh.
“Ini bukan sekadar masalah nominal angka, ini adalah penghinaan total terhadap marwah profesi kami! Dikasih uang receh Rp250 ribu, payung, tas untuk HP, dan botol air di tengah proyek gas terbesar di negara ini adalah bukti nyata manajemen mereka sangat amburadul dan tidak punya etika,” kecam Yopi Frans Manunwembun.
Kecaman ini menjadi bukti kuat bahwa manajemen komunikasi Inpex Masela telah gagal total di tingkat akar rumput dan memicu bom waktu baru. Mereka gagal memahami sensitivitas lokal dan memperlakukan pers daerah sebagai objek yang bisa dibeli dengan materi murahan yang tidak ada harganya.
Sikap arogan yang mempertontonkan pembagian uang receh, payung, tas untuk HP, dan termos kecil ini telah menanam luka yang sangat dalam di hati seluruh pekerja media di Tanimbar. Langkah tersebut dinilai sebagai tindakan paling fatal yang menghancurkan hubungan kemitraan jangka panjang.
Kini, dengan hancurnya kepercayaan dan harga diri yang diinjak-injak oleh manajemen yang amburadul tersebut, soliditas pers di Tanimbar mulai bergolak. Wartawan Tanimbar sepakat bahwa kehormatan profesi jauh lebih berharga daripada tunduk pada korporasi yang tidak tahu cara menghormati manusia.
Jika pola komunikasi yang diskriminatif dan manajemen yang acak-acakan ini terus dipertahankan, Inpex Masela harus siap menerima konsekuensi logisnya. Jangan salahkan jika ke depan, pers lokal tidak lagi sudi menjadi tameng peredam konflik publik ketika masyarakat mulai menggugat keberadaan proyek tersebut.
Manajemen Inpex Masela harus segera sadar dari keangkuhannya sebelum blunder ini menjadi bumerang yang menghancurkan reputasi mereka secara total di mata publik nasional. Menghargai jurnalis lokal bukan sebuah pilihan, melainkan kewajiban mutlak bagi siapa saja yang ingin menanam investasi di bumi Tanimbar. (*)
















