UMKM di Namrole Berharap Tak Hanya Road Race, Tapi Juga Event Lain yang Hidupkan Ekonomi Rakyat
Bagi mereka, ajang roadrace bukan sekadar tontonan, melainkan panggung kecil tempat ekonomi rakyat berdenyut, di tengah harapan yang mereka gantungkan pada keramaian yang datang sesekali. βKalau kegiatan seperti ini bisa sering-sering diadakan, kami pelaku UMKM bisa bernapas lebih lega,β ucap seorang pedagang sambil melayani pembeli, di antara suara mesin dan sorak penonton. Namun, harapan mereka tak berhenti di situ.
Para pengusaha kecil di Namrole β khususnya pelaku UMKM kuliner dan minuman β mendambakan hadirnya beragam event lain: festival kuliner pesisir, pameran produk lokal, pasar malam UMKM, hingga lomba seni dan budaya yang melibatkan masyarakat luas. βKami ingin bukan hanya suara motor yang ramai, tapi juga suara musik, tawa anak-anak, dan deru pasar rakyat yang hidup sepanjang tahun,β tutur seorang penjual minuman dingin sambil memandangi lampu-lampu kota yang mulai menyala di tepi laut Namrole. Mereka percaya, dengan kegiatan yang beragam dan terencana, Namrole akan menjadi kota yang hidup β bukan hanya di musim balap, tapi di setiap waktu yang diisi oleh semangat dan gotong royong warganya.
Di sisi lain, pelaku UMKM juga menitipkan harapan agar pemerintah daerah memperhatikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) dan keberpihakan pada usaha kecil rakyat. Sebab UMK bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan simbol penghargaan bagi kerja keras dan ketekunan masyarakat kecil. Buru Selatan, dengan semangat laut dan tanahnya yang subur, sesungguhnya menyimpan potensi besar untuk tumbuh dari tangan-tangan sederhana warganya.
Ketika pemerintah, komunitas otomotif, dan penggiat UMKM bergandengan tangan, maka Namrole akan dikenal bukan hanya karena suara mesinnya yang menderu, tapi juga karena pasar rakyatnya yang hidup, kulinernya yang menggoda, dan warganya yang sejahtera. Menjelang malam, setelah suara motor perlahan menghilang dan jalanan kembali tenang, para pedagang menutup lapak mereka dengan senyum. Mereka tahu, rezeki hari itu adalah hasil kerja keras, kesabaran, dan doa yang tak pernah putus.
βKami ini tidak punya banyak, tapi kami punya semangat, punya tangan yang mau bekerja. Selama ada kesempatan, kami akan terus berdiri, menjual, dan berjuang. Karena rezeki itu tidak datang secepat motor di lintasan, tapi datang perlahan β satu pembeli, satu harapan, di bawah langit Namrole yang penuh doa,β tutur seorang ibu penjual makanan ringan, dengan suara lembut yang mengakhiri hari panjang penuh makna di kota kecil itu. [Nar'Mar]
π Anda harus masuk (login) terlebih dahulu untuk ikut berdiskusi.
π¬ 0 Komentar
π Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
Ekspor Produk Perikanan Riau Dari Instalasi Yang βOKβ
4 weeks ago
Buru Selatan Dapat Tambahan DAU Rp78,16 Miliar, Total Penyaluran KMK 198/2026 Capai Rp80,68 Miliar
2 months ago
Dua Laporan Polisi Warnai Polemik Pasar Kai Wait, MOANA LESNUSSA TAK CABUT LAPORAN, Kuasa Hukum Desak Pengusutan hingga Pansus DPRD Bekerja Objektif
2 months ago
Evans Alfons Tanggapi Barbara Joacqualine Imelda Alfons Mengenai Status Ahli Waris dan Putusan Pengadilan
2 months agoRekomendasi Untuk Anda
Pilkada 2024, Safitri Malik Soulisa Terima Rekomendasi Pertama dari PBB
Suasana Kebersamaan Mewarnai Perayaan Hut Ke 10 P3M3 Ambon
Wawali Ambon Tekankan Transparansi dan Perencanaan Matang dalam Penyusunan APBD 2026
Hari Ini (26/5): Tanggal Ex-Dividend, Saham Ini Beri Yield Lebih dari 3 Kali Bunga DepΓ³sito BCA
Kok Rumah Sakit Magrety Saumlaki Tolak Pasien